Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Ibu Dari Cucu Berharga


__ADS_3

Setelah mendengarkan rekaman suara Gina, Stefan terlihat menarik napas dalam. Sesak didadanya. Itulah yang tengah ia rasakan. Pria itu bahkan memegang dada dengan matanya yang tertutup.


“kenapa kau melakukan ini Gina? Apa motivmu sebenarnya?" gumamnya.


Berulang kali Stefan memikirkan kenapa Gina melakukan ini terhadapnya. Kenapa seorang wanita dengan rela menyerahkan kesuciannya kepada seorang laki-laki yang tidak dikenalnya?


Lalau kenapa tidak meminta pertanggungjawaban atau semacamnya? Apa yang ada di otak Gina? Stefan benar-benar merasa bingung.


Di ruang tengah. Ny. Yoris menghampiri suaminya setelah pria yang adalah informan itu pergi. “Pah, apa yang dia katakan sayang?” tanya-nya dengan wajah sangat ingin tahu.


“Mah, ternyata ... Gina adalah putri dari Veni, salah satu temanmu itu sayang.”


“Apa??” ny. Yoris itu benar-benar terkejut.


Tap tap tap.


Stefan melangkah gontai menuruni tangga.


“Sayang, ayo kita jemput Gina.”


Tap. Langkah Stefan terhenti.


“Apa? Kalian menemukannya?” wajah Stefan berubah semangat.


Setelah kedua orangtuanya itu menjelaskan, ketiganya pun meluncur menuju kediaman Farel, ayah Gina.


“Kau sudah tau alamat rumahnya Fan?” tanya papa Toni.


“Tahu Pah, Helena tinggal disana.”


TIBA di kediaman Farel Yeres.


Membunyikan bell. Tak lama, CEKLEK, pintu utama itu terbuka.


“Maaf, mau ketemu siapa yah?” tanya seorang wanita yang mengenakan seragam putih, sepertinya dia ART rumah besar itu.


“Tentu saja kami ingin menemui Tuan dan Nyonya rumah ini” jawab Tn. Yoris Tegas, dengan wibawah penuh.

__ADS_1


Tap tap tap.


“Siapa yang datang bi?” tanya seorang nona, menghampiri pintu utama.


“Stefan? Om? Tante?” sapa Helena, bersemangat. Tentu saja dirinya merasa sangat senang, karena akhirnya, Stefan datang membawa kedua orangtuanya. “Silahkan masuk” ajaknya lagi.


Stefan hanya menatap malas wanita itu.


“Helena, kamu.. tinggal disini?” tanya Ny. Yoris, basa-basi, dan diiyakan oleh Helena.


“Bi, tolong panggilkan yang lain, karena kita sedang kedatangan tamu.” Helena memberi perintah pada ART.


Ketiga tamu itu pun sudah duduk manis.


Muncullah Nio, Farel dan Veni, untuk memastikan siapa yang datang.


Farel dan Veni terlihat sedikit terkejut melihat siapa yang sedang bertamu ke kediamannya ini. Sulit disangka orang-orang ini datang ke rumah orang lain tanpa undangan.


Nio, pria muda itu terlihat lebih santai. Sementara Helena, masih stay dengan perasaan senangnya, mengira Stefan akan melamarnya.


“Wah Jeng, sepertinya ada hal yang tak biasa ini?” sapa mama Veni kepada Ny. Yoris.


Nio hanya Diam, sambil menduga-duga.


“Dimana penghuni rumah ini yang lainnya?” tanya ayah Stefan itu.


“Yah? Maksud anda?” Farrel terlihat bingung.


“Yang suami saya maksudkan adalah, Gina” terang ny. Yoris, dengan nada tegas.


‘Apaaa?’ batin helena berteriak.


“FIX, sesuai harapan” batin Nio, merasa tertarik untuk menyimak.


Stefan terlihat melirik Nio.


“Si-siapa? Gi-gina? Ada apa dengan anak itu?” tanya mama Veni, merasa sedikit syok.

__ADS_1


“Ap-apa anak itu berbuat ulah kepada keluarga anda Tuan? Dia ... sudah lama tidak tinggal disini. Sudah lebih dari 6 tahun” jelas Farel, yang merasa kembali sedikit sakit mengingat tentang putrinya itu.


“Benarkah kalian tidak tahu dimana dia?” tanya Stefan dengan nada datar, kemudian menatap Nio.


“Maaf, tapi ... kenapa kalian mencarinya?” lagi, Farel bertanya, membuat dirinya semakin merasa gugup.


Helena, mama Veni, terlihat menegang, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


“Karena dia, adalah ibu dari cucu-ku yang sangat berharga” sahut Toni Yoris, tegas.


Degh


Degh


Degh


Papa Farel dan mama Veni benar-benar terlihat syok, mengetahui bahwa anak yang dikandung Gina waktu itu adalah keturunan dari keluarga terhormat di negeri ini.


Helena? Yang wanita itu rasakan saat ini adalah kekhawatiran akan hubungannya dengan Stefan yang sedang ia rancang untuk dimulai kembali.


“Apa ... anda yakin putriku adalah ibu dari keturunan anda?” Farel masih bertanya.


“Apa saya terlihat bercanda?” Tn. Yoris bertanya balik.


“Benar! Dia adalah ibu dari putraku.” Sambung Stefan.


Degh...


Mendengar itu dari mulut Stefan, Helena mengepalkan tangannya dalam diam.


.


.


Bersambung ...


kita lanjut up pukul 18.00

__ADS_1


__ADS_2