
Supir pribadi Stefan mengantarkan Arsen dan Gina tiba di restoran sesuai dengan perintah Stefan. Namun, Gina tidak ada niat sedikitpun untuk turun dari mobil.
‘Kenapa dari semua restoran yang ada, dia malah datang ke tempat ini?’
Benar, Stefan mengatur tempat makan siang dengan memilih GN restoran, yang ia ketahui merupaan milik Nio Fernando, pria yang bertemu dengan Gina di taman malam itu.
Sudah pasti, Gina tak berani melangkahkan kakinya masuk.
“Pak, saya mau pulang saja, tidak jadi makan siang. Bisa putar balik?”
“Tapi Non, Tuan sudah menunggu di dalam.”
“Kalau begitu, bawa masuk Arsen, tolong bilang ke pak Stefan kalau saya kurang sehat.” Gina benar-benar Turun dari mobil, meninggalkan Arsen dan sang supir.
Di dalam Taxi.
‘Kenapa dia memilih restoran keluargaku? Apa dia sengaja? Apa ... dia mengetahui sesuatu?’ Gina meremas jemarinya yang terasa bergetar. Gina merasa ketakutan menyesap masuk ke dalam tubuhnya.
.
Arsen tengah berada dalam gendongan sang supir yang membawa anak itu menemui ayahnya yang sudah menunggu.
“Paman, dimana mama?” tanya anak itu, dengan raut wajah sedih.
“Mama kamu sedang sakit, jadi pulang. kita akan bertemu papamu Tuan kecil,”
Tiba di dalam.
“Arsen? Kenapa malah hanya ada kalian berdua?” tanya Stefan, bingung.
“Maaf tuan, Nona sedang tidak sehat. Nona meminta saya mengantar Tuan kecil masuk dan nona Gina dalam perjalanan pulang.” Jelas sang supir.
“Apa? Kurang sehat?” Stefan merasa curiga.
Pria itu lalu mengambil ponselnya untuk menghubugi Gina.
Beberapa kali mencoba, tapi wanita itu tidak menjawab ponselnya.
TIBA DI KEDIAMAN keluarga Yoris.
Gina melangkah masuk dan tiba-tiba ... terdengar pembicaraan ayah Stefan, yakni Tuan Toni Ardian Yoris, dengan seseorang melalui telepon.
“Apa? Kau menduga wanita itu sering muncul di sekitar putraku?”
Degh..
Langkah Gina terhenti.
“Intinya, segera dapatkan wanita itu. berani-beraninya dia meninggalkan tanggungjawabnya sebagai ibunya Arsen! Jika kau sudah mendapatkan dia, seret dia kehadapanku hidup-hidup. Aku akan memberinya pelajaran.” Ucapnya tegas.
“Ha?” Gina sontak membekap mulutnya dengan tangan bergetar.
“Gawat, aku sedang dalam bahaya. Bagaimana ini?” Gina bergegas menuju kamar Arsen, mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai berkemas, Gina kembali terlihat bingung. Ia pun menarik napasnya dalam,sembari memikirkan cara keluar dari rumah besar ini.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu tentu saja mmbuat Gina terkejut.
“Gin, kata Stefan kamu kurang sehat, benar?”
“Oh, Nyonya, benar”
‘Maaf aku tidak berniat membohongimu nyonya.’
“Nyonya, saya akan pergi dari rumah ini.”
“Ya? Ke-kenapa tiba-tiba Gin?” melirik koper yang sudah siap. “jangan Gin, bagaimana dengan anak dan cucu saya nanti? Sa-saya berpikir, mereka berdua sangat menyayangimu. Tolong jangan pergi Gin.”
“Maaf Nyonya, saya benar-benar harus pergi.”
“Apa karena kamu marah pada Stefan?” Ny. Yoris kembali menyinggung tentang kebejatan putranya itu.
“Saya rasa, memang tidak seharusnya saya disini Nyonya, permisi” mengangkat kopernya, lalu pergi.
Ternyata, Gina benar-benar takut. Ia tidak pernah menyangka bahwa keluarga Yoris akan membayar jasa seseorang untuk mencari keberadaan ibunya Arsen, yang nyatanya adalah dirinya sendiri.
DI DALAM TAXI
Perintah tegas dari Tn. Yoris untuk kepada orangnya untuk menagkap Gina, masih terngiang-ngiang di telinga wanita itu. ‘Menyeretku? Memberiku pelajaran? Apa mereka ingin menghajarku? Tidak. Mereka tidak boleh menyakiti aku.’
\=\=\=\=\=
Sementara di tempat lain.
Stefan menjawab panggilan masuk ke ponselnya.
“halo Ma ...”
“Stefan kamu dimana?”
“dalam perjalanan pulang Ma, sama Arsen nih,”
“Cepatlah tiba. Gina, sudah pergi Fan.”
Tut tut tut,
“Apa? Mama bilang dia pergi? Kemana dia?”
Segera Stefan menghubungi seseorang.
“Iya bos?”
“cari Gina sampai ketemu”
“Siap bos”
Berkali-kali Stefan menghubungi ponsel Gina,namun tetap tidak terhubung. Hati kecil Stefan mulai resah.
__ADS_1
Tiba di kediamannya, Stefan dan Arsen melangkah masuk dengan langkah besar.
“Neneeek! Benarkah mamaku sudah pergi?” tanya anak itu, degan raut wajah yang terlihat begitu kasihan.
“Arsen, jangan sedih ya sayang, mama kamu –“
“Nenek, Arsen pengen ikut mama aja. Huaaaa aaa aaa” anak itu menangis.
“Arsen, diamlah! Dia hanya pengasuhmu.” Bentak Stefan.
Anak kecil itu menggeleng kuat. Ia pun berlari menuju kamarnya sambil terus menangis dan memanggil mama. “Mama, Arsen pengen ikut mama.”
Tiba di dalam kamarnya, Arsen seperti mencari-cari sesutu, hingga pada akhirnya ia menemukannya. Sebuah recorder berukuran kecil. Yang bocah itu tahu, benda itu adalah milik ibunya yang sengaja ditinggalkan untuknya. Karena memiliki daya ingat yang baik, bocah itu mengingat dengan jelas saat Gina mengajarinya cara mendengarkan rekaman pada benda mungil itu.
Klik,
Mendengarkan rekaman suara:
(ARSEN SAYANG, MAAF ... MAMA PERGI SENDIRIAN TANPA KAMU. ARSEN LEBIH MEMILIH PAPA KAN? UNTUK ITU, TINGGALAH DENGAN BAHAGIA BERSAMA PAPA. SEMOGA NANTI MAMA ARSEN YANG LAIN LEBIH MENYAYANGI ARSEN. SAYANG, MAMA AKAN SELALU MELIHATMU DARI JAUH. MAMA JANJI, SETELAH KAMU BESAR NANTI, MAMA AKAN MENEMUIMU LAGI NAK. I LOVE YOU ARSEN SAYANG).
“Mamaaaaaaaaaaa” bocah itu memanggil “mama” kemudian menagis dengan kencang.
\=\=\=\=\=\=
Stefan Alvaro Yoris.
Pria tampan itu kini kembali ke jalanan dengan mengendarai moblnya.
‘Dimana kamu Gina? Jangan membuatku marah.’
Stefan memukul-mukul stir mobilnya.
‘Tunggu!’
‘Kenapa denganku?’
‘Kenapa aku semarah ini atas kepergiannya?’
‘Apakah aku menginginkannya?’
Stefan menyentuh detak jantungnya.
‘Sepertinya benar, aku jatuh cinta padanya. Aku tidak mau dia pergi’
‘Gina, pulanglah! Aku sudah tidak peduli dengan Helena. Aku sudah tidak menunggu wanita yang telah melahirkan Arsen. Aku hanya mau dirimu Gina.’
‘Ginaaaa’ tak terasa, cairan bening mulai meluncur membasahi bawah mata pria tampan itu.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Part selanjutnya akan up siang nanti😉
trima kasih atas dukungan kalian untuk cerita ini🙏