
"Bukankah dia ... Stefan dari Yoris Grup, Tuan Farrel? Dia menantumu, bukan?" Salah seorang rekan berbisik pada Farrel.
Saat ini, kabarnya Perusahaan mainan yang telah dibangun bersama-sama oleh Farrel dan beberapa rekannya itu, akan kembali ke tangan mereka.
Rio, orang yang telah mengacau sebelumnya, ialah yang harus membayar kerugian yang dialami perusahaan itu. Kabar terbarunya, anak perusahaan milik Orland Mario yang ada di kota ini, sedang berada di ambang pintu kebangkrutan gara-gara kasus itu. Dan orang yang membuat Mario membayar perbuatannya itu adalah ibunya sendiri.
Lagipula, perusahaan itu hanya akan menjadi alibi Mario untuk mengunjungi tanah Air, demi mencari seseorang yang bernama Gina, Cinta pertama pria gila itu. Sedangkan, ternyata dia telah memiliki seorang putri dari wanita bernama Jenni yang baik dan cantik.
"Ehmm. Maaf mengumpulkan anda semua di ruangan ini." Stefan mengawali pembicaraan dengan kata 'maaf' yang mana, ternyata para pemilik saham perusahaan mainan yang baru pindah ke tangannya itu rupanya para lansia.
"Perkenalkan, saya Stefan dari Yoris grup." Pria itu memperkenalkan diri meskipun di dalam ruangan ini tak ada satupun yang tidak mengenal pria itu.
'Kenapa aku merasa sedang berada di panti jompo?' batinnya. Setelah memperhatikan satu per satu orang yang berada di ruang rapat tersebut. Stefan dapat menebak usia mereka mulai dari 50 hingga 70 tahun.
Tanpa membuat para orangtua itu menunggu lama, Stefan membuat pengumuman bahwa perusahaan itu akan kembali utuh ke tangan mereka dan mereka harus menentukan pemimpin baru.
"Bukankah seharusnya anda saja yang mengambil alih sebagai pemimpin, Pak Stefan? Karena, biar bagaimanapun anda sekarang adalah salah satu dari kami." ujar salah satu dari mereka.
"Emmm. Begini ... saya ingin tau kenapa anda semua membangun perusahaan mainan diusia anda semua saat ini (maaf) sudah tidak muda lagi, untuk sebuah perusahaan mainan?"
Meski terkesan sebuah pertanyaan konyol, para orang tua itu terlihat saling tatap dengan wajah penuh wibawa kebapaan.
Mereka pun menjawab rasa ingin tau Stefan dengan jawaban yang sama yaitu ... Sebagai rasa syukur telah memiliki cucu dan demi kebahagiaan cucu mereka kelak, jika perusahaan ini bertahan akan duteruskan oleh para cucu mereka nantinya.
Mendengar itu, Stefan merasa terharu. Apa lagi, disini ada ayah mertua yang baru memiliki satu cucu yaitu Arsen.
"Perusahaan ini saya kembalikan ke anda semua. Dia perlu berdiri sendiri. Jika saya mengambil alih, maka ... perusahaan ini akan berada dibawah naungan Yoris group dan saya rasa itu kurang tepat. Saya hanya ingin menjadi pendukung anda dari belakang layar saja." terang Stefan, panjang lebar. Yang mana membuat wajah penuh wibawa dihadapannya memancarkan kelegaan.
.......
Di Rumah sakit. Jenni menunggu di luar saat Given sedang diperiksa oleh pihak medis.
"Jeni? Kenapa ... kamu disini?"
"Ya? Tom, kamu disini?"
"Kalian saling kenal?" Tiba-tiba Mario muncul, merasa sedikit aneh karena Asistennya yang bernama Tommy memgenal Jenni.
"Aku bekerja sebagai asisten pak Mario Jen."
"Oh, begitu." Kenni tampak sedikit terkejut.
"Tom, kamu bawa yang saya pesan?"
"Oh, ini pak."
"Kamu boleh kembali ke kantor Tom."
"Baiklah pak. Jen, aku kembali bekerja dulu ya," Tommy pergi dengan membawa senyum manisnya.
"Tom! Tunggu," Jenni berlari kecil ke arah Tomi yang menghentikan langkah mendengar namanya dipanggil.
"Tom, em ... begini, tolong ... jangan cerita apapun tentangku ke pak Mario ya, termasuk tentang ibuku."
"Kenapa? Tunggu. Ada hubungan apa antara kamu dan pak Mario?" menatap curiga.
"Aku belum bisa cerita sekarang. Lain kali saja. pergilah Tom," Jenni berbalik meninggalkan Tommy.
"Bicara apa? Kenapa harus menghindar? Aku tidak boleh dengar?" Sindir Mario, judes.
__ADS_1
"Tidak" jawab Jenni, singkat.
"Kau mau bicara apapun dengan siapa-pun, terserah. Itu bukan urusanku." ketus pria itu lagi.
"Ya." Lagi-lagi menjawab singkat, kemudian pergi dari hadapan Rio.
'Apa? Wanita miskin itu mengabaikan aku?'
Ia susul wanita itu menuju ruang dimana Given berada.
"Ini makan." Rio tiba-tiba masuk dan melempar kotak makanan tepat di sebelah Jenni yang sedang duduk memainkan ponselnya.
'Baik, aku akan makan.' Jenni membuka kotak yang mungkin saja berisi makanan beracun itu. Ia lahap makanan itu dengan sikap tenang, tanpa memperdulikan Rio.
"Aku ... minta maaf telah menipumu dengan mempertahankan anak itu. Sebenarnya aku tidak bermaksud membuatnya lahir."
Degh...
"Apa? Bicara apa kamu?" Pernyataan yang tiba-tiba itu terasa menyakitkan pendengaran Rio.
"Itu karena aku ... tidak punya keberanian untuk aborsi. Sama sepertimu, aku juga tidak menginginkan anak itu." Setelah memakan semuanya tanpa sisa, Jenni mengatakan hal yang menyakiti perasaannya sendiri.
"Mama kamu sepertinya sangat menyayangi Given. Jadi ... mulai sekarang, Given akan terus bersamanya. Seperti katamu, aku adalah wanita miskin. Aku bahkan tidak bisa membelikan satu pun mainan untuknya meskipun dia merengek. Saat dia bangun nanti, bilang padanya dia boleh membenciku."
Rio hanya terpaku menatap Jenni. Pria itu tidak mengerti apa yang kini ia rasakan. Perkataan mantan kekasihnya itu sedikit menusuk di dasar hatinya.
"Daddy ... Daddy ..." suara putrinya itu menyadarkan Rio dari diamnya.
"Given," Mario mendekati putrinya.
"Dad, hug me!" tangan kecilnya ia rentangkan ingin berpelukan sengan sang daddy. Ayah dan anak itu pun saling memeluk dan saat itulah Jenni pergi dari ruangan itu, ia benar-benar pergi, tanpa membawa Given.
"Given, tunggu ya, Daddy panggil mommy dulu."
.....
Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit jiwa.
Disinilah Jenni berada. Ia memasuki salah satu ruangan dimana hanya ada seorang wanita berusia sekitar 50an sedang duduk termenung dengan tatapan kosong.
"Ma ... aku datang."
Seperti biasa, Jenni memeluk wanita yang adalah ibunya itu. Kali ini, Jenni menangis sejadi-jadinya sembari memeluk sang ibu.
"Ma ..." ia sentuh wajah ibunya itu dengan kedua tangan. "Sekarang, Given sudah jadi milik orang lain. Aku hanya akan mengurus mama sekarang. Apa mama senang? Hmm? Ma ... aku mohon, sembuhlah. Lupakan kenangan buruk. Bahagialah bersamaku."
Sementara, saat ini Mario berada di depan rumah tempat tinggal Jenni. Benar, setelah memaksa Tommy untuk memberitahunya, Mario kini tau alamat tempat tinggal wanita itu.
"Maaf pak, Jenni dan anaknya sudah pergi dari sini." terang pemilik dari rumah tersebut dan memberitahukan bahwa Jenni hanya berstatus sebagai penyewa bulanan rumah itu.
"Jen, kemana aku harus mencarimu? Dasar wanita tak berperasaan. Dia tetap pergi bahkan saat anaknya masih sakit? Aaargh!" Jenni benar-benar membuat seorang Mario merasa resah. Wanita itu bahkan mematikan ponselnya.
"Apa aku harus melibatkan polisi untuk mencarinya? Ya ... mereka bisa menemukannya hanya melalui nomor ponsel."
Rio pun memutuskan melapor Jenni sebagai orang hilang jika wanita itu tidak muncul dalam 2x24 jam.
......
Kediaman Yoris.
__ADS_1
Tap tap tap.
"Papa ... papa pulang, Papa pulang!" Arsen berlari menyambut sang ayah yang beberapa hari ini tidak dirumah. Anak itu tidak tahu saja kalau semalam ayahnya itu lah yang menemani tidurnya.
"Mama ... Mama ...! Sini, papa sudah pulang." panggilan Arsen membuat Gina berhenti dari aktivitasnya membantu pelayan menata makan malam.
"Cie, senang ya, Papa Arsen sudah pulang." Gina pun memghampiri keduanya lalu tanpa sungkan bertingkah manis seperti yang dilakukan Arsen, menggandeng sebelah tangan Stefan.
"Arsen sayang, biarkan papa dan mama mandi dulu ya sayang,"
Arsen mengangguk. Lalu duduk manis menghadap televisi.
Pasangan itu pun menuju kamar. "Memangnya kau belum mandi?"
"Iya, aku menunggu papa Arsen." jawab Gina, manja.
"Kenapa denganmu? Berusaha menggodaku?"
"Iya. Apa kamu tergoda?"
"Oh, baiklah, karena kamu berhasil menggodaku, maka tanggungjawablah sekarang."
Dengan gerak sekali gerakan, Gina sudah terpenjara dibawah Stefan.
"Hei, apa yang kamu lakukan? Kasar sekali."
"Kenapa? Kasar apanya? Aku tidak membantingmu ke lantai. Ini kasur super empuk yang pernah ada."
Stefan kini dalam keadaan setengah polos setelah melepaskan kemejanya. "Gina, dengarkan baik-baik. Jangan pernah menemui laki-laki lain lagi seperti yang kau lakukan sebelumnya. Apa kau paham?"
Gina mengangguk cepat.
Melihat kegugupan istrinya, Stefan semakin mendekatkan wajahnya. "Tubuhmu seluruhnya adalah milikku. Aku tidak suka pria lain melihatmu mengenakan pakaian minim seperti itu lagi. Paham?"
Lagi-lagi Gina mengangguk.
"Apa kau sudah membuang dress terkutuk itu?"
Gina kembali mengangguk.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Kita damai sekarang." Perkataan Stefan membuat Gina akhirnya tersenyum legah.
"Ayo mandi, mama Arsen,"
"Aku ... sudah mandi." jawab Gina, tersipu.
"Benarkah? Pantas kau sangat wangi. Tolong siapkan pakaian ganti untukku,"
"Iya. Tapi menyingkirlah. Kau sangat berat." Tersenyum malu. 'Posisi apa ini?' batinnya.
Stefan dengan usilnya berbisik.
"Menyingkir? Bukankah kau merindukanku?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung😊