Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
My Daddy


__ADS_3

Dengan senyum manis menggemaskan, bocah perempuan asing itu menatap wajah Stefan, lalu berpindah memandang Mario, juga Gina, bergantian.


"Aunty, jangan ambil Daddy aku," Gadis itu memanyunkan bibirnya seperti sedang menahan tangis.


Gina menggeleng pelan lalu mendekati gadis kecil itu. Berlutut menyamakan tinggi mereka. Biar bagaimanapun, gadis sekecil ini tidaklah bersalah. "Ma ... afkan Aunty, tapi ... Daddy kamu milik Aunty sayang!"


"Nooooo! ... bukan milik aunty, Daddy milikku dan Mommy." teriak anak itu, marah.


Gina tak kuasa membendung air matanya yang kini tumpah karena rasa kasihan terhadap anak kecil yang sedang membutuhkan kasih sayang daddynya itu.


Ia lalu mendekati Stefan dan menarik kasar kerah kemeja pria itu. "Ba ... ji ... ngan, kamu" umpatnya, tepat di hadapan wajah Stefan, yang hanya di balas senyuman tak bersalah di wajah suaminya itu dan tentu saja membuat Gina semakin tersulut emosi, ia kembali meremas kerah itu kuat. "Aku, akan bawa Arsen pergi dari kamu."


"Ehmmm. Sepertinya ... kalian berdua harus menyelesaikan drama keluarga. Aku tidak harus menyaksikannya. Gina, kau akan segera sadar, siapa yang memiliki cinta untukmu dan yang tidak." Mario pergi dari sana membawa senyum jahatnya.


"Daddy ... jangan pelgi (pergi)."


Degh ...


Mario yang sudah berjalan beberapa langkah terpaksa berhenti.


"Paman, apa benal dia daddy aku?" tanya gadis kecil itu mendongak pada Stefan.


"Benar sekali. Dia Daddy kamu!" jawab Stefan.


Segera anak manis itu berlari ke arah Rio dan memeluk kaki pria itu. "Dad, don't leave me again. I miss you so much, Dad." (Ayah, jangan tinggalkan aku lagi. Aku sangat merindukan ayah.)


Degh ...


Mario yang tadinya berdiri tegap dengan pandangan lurus ke depan, kini menurunkan arah pandangnya menunduk melihat gadis kecil itu.


'Kenapa jadi aku yang dipanggil daddy?' menatap anak itu lekat, tak percaya.


Sedangkan Gina, kerah kemeja yang tadi ia remas dengan erat, kini perlahan terlepas. Kini ia menatap suaminya dengan tatapan bersalah dan hanya dibalas dengan tatapan datar dari sang suami.


Sementara di luar ruangan VIP itu, berdiri dua orang wanita beda generasi. "Ayo, masuklah. Rio akan segera sadar bahwa cucuku itu adalah putrinya jika dia melihat kamu, Jeni. Jangan hanya menangis disini."

__ADS_1


"Tidak. Jika dia melihatku, dia akan sangat marah. Lebih baik aku tidak bertemu dengannya. Aku ... sangat takut."


"Stefan, kau menggunakan gadis kecil ini untuk mengancamku? Trik murahan macam apa ini?"


"Ya? Kau tidak mengenal putrimu sendiri Rio? Dia bahkan mengenalmu."


"Hei, anak kecil, lepaskan aku. Aku bukan Daddy kamu. Hmm?"


Anak itu semakin mengerat pelukannya sembari menggeleng kuat.


"Jika kau tidak mengenal anak itu, lalu bagaimana dengan ibunya?"


Tap tap tap tap tap tap.


Langkah tergesa dari dua pasang kaki memasuki ruangan.


Mario sangat terkejut melihat kedua wanita yang sangat dikenalnya datang bersama, dengan raut wajah berbeda. Yang satu sepertinya sudah tersulut api kemarahan, sementara wanita yang lebih muda melangkah dengan kepala tertunduk, ketakutan.


"Mommy ...!" gadis kecil itu melepas pelukannya dan berlari kearah wanita yang ia panggil Mommy.


Sementara seorang wanita yang satunya, terus melangkah ke arah Mario dan tanpa basa-basi menampar wajah tampan pria itu. "Laki-laki kurang ajar kamu yah, mama mendidik kamu dengan baik dan mengira kamu tumbuh menjadi pria yang tanpa cacat, ternyata kamu brengsek, Orland Mario,"


"Ma ... aku -"


PLAK


Kembali nyonya itu menampar putranya dengan tenaga yang lebih kuat dari sebelumnya.


"Daddy ...!" Kembali anak itu berlari ke arah Mario. "Glendma, don't hit my Daddy." (Nenek, jangan pukul ayahku.) Anak itu membentang kedua tangan, memghalangi sang nenek agar tidak bisa lagi memukul ayahnya.


Ia memohon pada nenek yang baru ia kenal itu untuk berhenti memukul ayahnya.


Mendengar pembelaan putri kecil itu terhadap dirinya, Mario merasa tulang-tulangnya meremuk. Apa benar gadis kecil ini putrinya? Apakah dirinya selama ini telah menelantarkan darah dagingnya sendiri? Mengetahui Jeni adalah ibu dari bocah ini, membuat Mario merasa sedikit mengakui bahwa mungkin saja benar gadis kecil ini adalah putrinya yang dulu pernah ia minta Jenni gugurkan saat baru tumbuh dalam kandungan.


'Buang anak itu. Jangan pernah menemuiku lagi. Kau adalah wanita miskin yang tak pantas mengandung anakku' kalimat itu sangat jelas di ingatan Rio. Itu yang ia katakan kepada Jeni 5 tahun lalu setelah melempar sebuah cek di wajah wanita itu.

__ADS_1


Brugh.


Tubuh Mario kini berlutut sempurna dihadapan gadis kecil itu, tanpa bisa mengatakan apapun.


"Dad, don't cry." (Ayah, jangan menangis) tangan mungil anak itu megusap air mata di wajah ayahnya.


"Sayang, Daddy kamu nakal. Dia sudah buang kamu dan Mommy. Jadi dia harus dipukul. Hmm," sang nenek ikut berlutut di dekat anak dan cucunya itu.


"Nooo, tidak boleh pukul Daddy aku. Glendma, aku cinta Daddy." memeluk Mario untuk melindunginya. "Daddy, I love you ... aku sayang Daddy. Daddy jangan buang aku dan Mommy lagi," anak kecil itu menangis sesegukan dengan pelukannya yang semakin erat.


Saat ini hanya terdengar isak tangis gadis kecil berusia 4 tahun itu. Para orang dewasa yang ada disekitarnya hanya menyaksikan dengan perasaan haru tentunya.


"Ehhm. Rio, aku tidak harus menyaksikan drama keluargamu, jadi aku akan pergi. Tolong pikirkan kembali tentang yang kukatakan tadi."


Tak lupa juga Stefan mengatakan terima kasih pada ibu dari Mario karena sudah mau datang ke restorant ini dan menyaksikan sendiri betapa rendahnya perilaku putranya itu.


"Hei ... Tuan Putri, mulai saat ini, bermainlah dengan Daddy-mu. Hmm? Dan ingat aunty itu milik paman. Bukan milik Daddy-mu. Jangan sedih lagi ya," Stefan berpesan pada anak kecil itu sembari mengacak rambutnya.


"Jen, tolong ajarkan putrimu bahasa Indonesia yang benar. Jika tidak, daddy-nya akan kesulitan berbicara dengannya." Stefan lalu melangkah pergi, dengan menyeret kasar istrinya.


'Gawat, kenapa perasaanku bilang, dia sedang marah?''


"Masuk." Stefan sedikit mendorong paksa Gina untuk masuk ke mobil.


'Tidak harus mendorongku, aku juga akan masuk. Kenapa dia jadi kasar?'


"Papa Arsen, aku-"


"Diam. Kita lanjutkan di rumah. Jangan katakan apapun sekarang."


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2