Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Harus senang atau sedih?


__ADS_3

Nyonya Park sengaja diam sejenak, tidak langsung menanggapi sapaan sekaligus permintaan maaf sang menantu.


Ia lalu menyoroti menantunya itu dengan tatapan lekat, di mulai dari bawah, perlahan sampai ke atas.


'Ada apa dengan mama? Apa dia sangat kesal? Ya ampun Jen, seharusnya kau jangan bangun kesiangan.'


Tiba-tiba... sang ibu mertua, tersenyum penuh arti. "Jenn, Mario ... mainnya tidak kasar kan? Apa ... dia menyakitimu, sayang?"


'Yahh? Jadi... ini tentang putranya itu?'


"Semuanya, baik - baik saja mah!" Jenni memberi jawaban yang menurutnya paling tepat.


"Jenn, kamu yang sabar yah sayang, anak mama itu mungkin saja membuat kamu kelelahan untuk hal itu setiap hari."


"Iya, Mah ... itu ... tidak masalah." -Jenni menjawab dengan wajah salah tingkahnya, tersipu.


"Sayang, dia ... mungkin sangat kuat seperti mendiang Ayah mertua kamu." sambung mama, setengah berbisik.


'Oh, jadi ... dia mewarisi keperkasaan ayahnya? Tak masalah. Ini menyenangkan,' Jenni tersenyum dalam hati.


...........


Kediaman Keluarga Yoris.


Keluarga kecil nan bahagia itu sedang menikmati makan siang bersama.


"Papah, apa nenek dan kakek akan sangat lama berpergian? Arsen merindukan mereka."


"Son, kali ini mereka akan lama. Mereka sedang menikmati liburannya. Kalau kangen, kamu bisa telepon kan,"


"Iya sayang, kamu bisa hubungi kakek -nenekmu kapanpun!" timpal Gina.


"Oke deh, tapi Mah, boleh kah Arsen bertemu kakek dan nenek Arsen yang lain?" -sepertinya yang dimaksud bocah itu ialah kakek neneknya dari pihak mama. Hal itu membuat Gina tersenyum.


"Tentu saja sayang, besok, sepulang dari sekolah, mama akan minta supir mengantarmu bertemu mereka."


"Skalian kamu juga lah sayang," -Stefan memberi saran.


"Aku, akan mulai bekerja di kantor papah sayang, apa kamu lupa? Papa ingin pensiun dan mulai sekarang aku harus terlibat."


Stefan terlibat berpikir sejenak.


"Gin, apa aku sudah memberimu izin untuk bekerja?" -dengan tatapan menyelidik.


"Papaaaa, bukankah malam itu kamu bilang boleh? Jangan pura-pura lupa deh."


............


Satu bulan kemudian.


Gina datang ke kantor suaminya saat waktunya makan siang. Ia pun membawa beberapa makanan untuk dirinya dan Stefan.


Clek. Membuka pintu.


"Papa Arsen, apa wanita itu menghubungimu?"


Baru saja masuk ke ruangan suaminya, Gina langsung bertanya dengan penuh penekanan. Hql itu membuat suaminya dilanda kebingingan. Dirinya yang sedang asik bekerja tiba-tiba di labrak dengan pertanyaan menuduh.


"Ada apa ini? Wanita mana?"


"Helena." jawab Gina, lalu duduk di sofa.


Mendengar nama itu, papa Arsen pun meletakkan pen di tangannya ke atas tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya. Ia lalu menghampiri sang istri.


"Ada apa sayang? Kau terdengar sedang cemburu." -ia pun berlutut dihadapan sang istri lalu menggenggam kedua tangan mulus itu.


"Bukan cemburu. Tapi ... dia bilang akan memberikan kita bayinya." -Jelas Gina, kali ini dengan tatapan manja.


"Sayang, sabarlah dulu. Anak itu mungkin belum lahir. Mungkin juga, dia ... berubah pikiran."


"Tapi ... aku terlanjur berharap sayang," -dengan tatapan sedih.


"Hei hei hei! Sayang, sudah! Jangan bersedih. Tunggulah beberapa bulan lagi. Kita pastikan dia memberikan anak itu atau tidak."


Stefan berusaha sebaik mungkin untuk menenagkan istrinya, mengambil bantal sofa dan meminta istrinya untuk berbaring sebentar.

__ADS_1


"Beristirahatlah dulu sayang, masih ada 20 menit sebelum makan siang. Kamu bisa berbaring sebentar."


Gina pun menurut saja. Tidak menghabiskan waktu 1 menit, istrinya itu benar-benar tertidur.


'Kasihan sekali istriku. Aku pikir, dengan sibuk bekerja dia akan lupa tentang anak. Ternyata ... dia masih mengungkitnya. Sayang, tidak perlu anak lain. Kita sudah sepakat Arsen saja cukup. Kamu mungkin kelelahan bekerja sehingga banyak pikiran.' - ia lalu memberi ciuman singkat di kepala sang istri.


.........


Di ruang kerja lainnya, Seoul Korea Selatan. Seorang pria berkacamata sedang serius bekerja. Pria itu adalah Orland Mario Park. Saat sedang bekerja, pria satu ini memang harus mengenakan kacamata bening itu untuk membantu penglihatannya.


Bib, ponsel berbunyi.


SMS dari Istri: [Dad, mommy ke kantor Daddy sekarang.]


Mario spontan berdiri dari tempat duduknya. "Benarkah ini? Wanita ini akhirnya sadar kalau dia harus datang sesekali ke kantorku." -tersenyum senang dengan perasaan tidak sabaran. Untuk pertama kalinya Jenni akan mengunjungi tempat suaminya itu bekerja.


Mario pun meminta Tommy, mengumumkan ke semua Staf dan seluruh penghuni kantor itu bahwa istrinya akan datang. Jangan sampai terjadi kesalahan.


Jenni tiba di kantor suaminya itu, dengan perasaan sedikit gugup.


"Wah, gedung tinggi menjulang ini mengingatkan aku dengan kantor papa dulu. Mari kita lihat, sekeren apa suamiku di ruang kerjanya." -turun dari mobil.


"Selamat datang Nyonya!"


Sedikit terkejut, para penjaga pintu utama kantor itu, sangat sopan dan ramah. Jenni pun memasuki pintu utama dan mendapati barisan panjang di sisi kanan kiri seperti sedang menyambut dirinya.


'Apa yang orang - orang ini lakukan?'


"Selamat datang Nyonya! Senang bertemu dengan Anda Nyonya,"


Tap. Jenni terhenti.


"Maaf, kalian ... mengenal saya?"


Semua orang pun menunjuk sebuah Y Banner secara bersamaan yang memajang gambar dirinya dan Mario disana.


"Oh, itu..."


'Dasar Mario, dia memang berbakat membuatku bahagia.'


"Tidak bisa Nyonya, mari Nyonya, saya antar," -Seakan permintaannya tidak dianggap. Jenni hanya bisa menggeleng, betapa patuhnya orang-orang ini pada atasannya. Begitulah yqng ia pikirkan.


Dari ruangannya, Mario sedang memantau sang istri melalui monitor CCTV.


"Lihatlah wajah canggungnya itu. Dia benar-benar istri terbaik. Dia tidak bersikap sombong dibawah namaku. Sungguh, dia wanita yang di didik dengan baik oleh orang tuanya."


Karena rasa tidak sabar, Mario mendekati pintu. Tidak berhenti tersenyum. Mario berdiri tegak dengan memasukkan dua tangankedalam saku celananya. "Ada apa denganku? Aku bahkan setiap hari tidur dan bangun disampingnya, tapi ... aku selalu merindukannya."


Clek. Pintu terbuka pelan.


"Dad, ini kamu?" -Jenni menatap Mario sambil mengeryitkan hidung.


"Kenapa sayang? Aku terlihat lebih tampan?" -menarik istrinya itu dan mendekapnya erat.


Emmmuh


Emmuuah


Emmmuaah!


Dengan gemes Mario menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman.


"Terima kasih karena mau mengunjungi tempat kerjaku sayang, ayo kita duduk dulu." menarik tangan istrinya.


"Duduklah disini." -meminta istrinya itu untuk duduk dipangkuan.


"Daddy, kenapa aku harus duduk dipangkuanmu?"


Mario pun berterus terang, karena ingin sambil memeluk istrinya itu. Ya ... tentu saja Jenni menurutinya dengan senang hati.


Kini mereka saling berdahapan muka. Mario merasa ada yang aneh dengan tatapan istrinya dan ia pun bertanya, "ada apa? Apa ada sesuatu?"


Bukannya langsung menjawab, Mario tambah diabuat penasaran karena istrinya mendekatkan wajah nya.


'Ada apa ini? Dia mau minta ciuman?' -Mario, memejamkan mata.

__ADS_1


"Dad, aku ... ha ...mil."


Mendengar bisikan manis ditelinganya, Mario auto menegang dalam posisi duduknya. "Apa? Kamu ... hamil?"


Jenni tersenyum manis lalu mengangguk.


.


.


Perfect daddy. Itulah Mario saat ini. Pria itu menjadi kian hangat dan lebih penyayang. Mengetahui kehamilan sang istri membuatnya semakin bersemangat. Perhatian, pengertian dan ia sangat memanjakan istrinya itu bagaikan Ratu. Menemaninya ke dokter, senam ibu hamil dan sebagainya.


'Aku akan membayar waktu berharga seperti ini yang pernah aku abaikan saat dia mengandung putriku.'


Waktu demi waktu berlalu. Perut si bumil mulai membesar. Mengetahui istrinya sedang mengandung seorang anak laki -laki, Mario senang bukan main. Rasa senangnya ia ungkapkan dengan memberi bonus mengejutkan bagi seluruh karyawan yang tentunya membuat semua orang semakin bersemangat tinggi untuk mensukseskan perusahaan.


.


.


Gina sedang berada di kantor. Karena waktu sudah sore, maka ia pun bersiap untuk pulang.


Drrrrt drrrt. Suami memanggil.


[Iya papa Arsen, kamu sudah tiba? Aku akan segera keluar. Tunggulah.]


[Sayang, sorry ...] terdengar suara Stefan dengan nada yang sulit diartikan.


[Sorry? Kenapa sayang?]


[Gin, aku ... sedang di pesawat, untuk menuju Seoul.]


[Seoul? Kenapa tiba-tiba? Sayang, kamu kenapa terdengar sedih?]


[Temanku, si Tuan Kim, meninggal dalam kecelakaan mobil bersama istrinya. Anak kedua mereka baru saja lahir satu minggu yang lalu.]


[Apa? Lalu?] Gina tentu saja merasa syok luar biasa.


[Sayang, aku akan menghubungimu kembali.]


.


.


Beberapa Jam berlalu, Stefan tak kunjung menghubungi istrinya itu. Gina sudah modar mandir di kamar sembari menggenggam ponselnya dengan perasaan kacau.


"Kenapa dua anak kecil itu harus kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan?" -memikirkan nasib Joon dan adiknya sungguh membuat hati Gina terasa sakit.


Pukul 05.00 pagi.


Drrrt drrrt drrrt


Melihat nama suaminya sebagai pemanggil, Gina tidak membuang waktu karena hampir semalaman sudah ia tunggu, segera ia menjawabnya.


[Halo papa Arsen,]


[Gina sayang, apa kau sehat?]


[Sehat, kamu gimana? Kamu sedang menangis sayang?]


Gina ikut menangis karena turut merasakan kesedihan suaminya.


[Gin, aku sedang bersama Joon, anak pintar ini. Dia hanya ingin bersamaku setelah tidak lagi melihat ayah dan ibunya. Sayang, dengarkan ini, baik - baik. Di dalam wasiatnya, Tuan Kim menuliskan bahwa ... hak asuh kedua anaknya akan dipercayakan sepenuhnya ke kita.]


deg, deg, deg.


Gina terduduk di lantai. Berita ini membuat dirinya merasa kebingungan, tak percaya. 'Apa aku harus senang, ... atau sedih?'


.


.


Satu bab lagi, Kisah ini TAMAT.


tetap semangat guys🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2