Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Memeluk Gina


__ADS_3

Gina Merasa pernapasannya seakan terhenti tatkala saling bertatapan dengan Stefan. Wanita itu bahkan merasakan dengan jelas detakan jantungnya didalam sana.


Stefan, tersenyum. “Aku ingin tahu Gina, apa ... saat ini perasaanmu masih sama terhadapku?”


Deg.


Gina kian mematung, dan terus menatap pria di depannya.


Melihat itu, Stefan mendekatkan wajahnya. “Hei! Kenapa tidak jawab?”


“Eh? Emm,” Gina terlihat salah tingkah.


“Perasaanku? Sudah berkurang banyak” jawabnya reflek, kemudian merutuki dirinya sendiri. ‘Bicara apa aku?’


“Aku akan membuat perasaanmu itu kembali.” Stefan menahan tengkuk Gina.


“Eh? Aku ... mau pulang.”


“Nanti saja. Ini nanggung.”


“Tidak, jangan lakukan sekarang. Belum saatnya.” Gina pun berdiri, lalu bergegas pergi. ‘Ya ampun, aku sangat gugup. Kak Stefan benar-benar.’


‘Hah? Dia pergi? Dia menolakku sekarang? Bahkan kami sudah punya Arsen, tapi dia masih bertingkah malu-malu?’ Stefan menggerutu sendirian.


“Awas, tunggu saja kalau aku sudah pulang.” sambungnya lagi kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sembari tersenyum.


Stefan keluar dari ruangannya untuk menemui sekertarisnya itu.


“Ada yang bisa saya bantu, pak?” Megi tersenyum ramah dengan bahasa tubuh yang menggoda.


“Iya Megi. Tolong, jangan kembali bekerja disini besok.” Tanpa basa-basi, Stefan mengutarakan maksudnya.


“Apa? Bapak pecat saya?”


“Tidak. Kau hanya dipindahkan.”


“Tapi kenapa Pak? Bukankah kerja saya bagus?” Megi memasang wajah memohonnya.


“Kau tidak cocok bekerja sebagai sekertarisku.”


“Pak, saya mohon pak, jika saya ada kesalahan, tolong maafkan saya Pak, saya a-“


“Cukup Megi. Aku menginginkan sekertaris pria mulai besok.”


“Satu lagi. aku ingin menjaga perasaan calon istriku. Aku tidak ingin ada wanita lain berkeliaran disekitarku dengan tingkah seperti kau ini.”


“Hah?”


“Berpakaianlah yang sopan sedikit. Ini kantor. Bukan diskotik.”


Setelah mengatakan itu, Stefan berbalik dan segera meninggalkan sekertaris centil itu.


Sore harinya.


Kediaman keluarga Yoris.


Stefan mempercepat langkahnya memasuki kediamannya sambil bergumam. “Aku semakin tidak sabar ingin bertemu dengannya.”

__ADS_1


“Papa!”


“Arsen, Papa pulang” merentangkan tangan menyambut putra tampannya. Segera anak itu naik ke gendongan ayahnya. Terlihat Stefan memutar bola matanya ke segala arah. “Boy, dimana mama?” bisiknya ditelinga Arsen.


“Mama cari rumah baru Papa.”


“Apa?”


“Fan,” mama datang menghampiri putranya. “Sebelum kalian menikah, Gina ingin tinggal terpisah nak,”


“Eh? Kenapa dia tidak memberitahuku?”


“kamu peduli sama dia Fan? Mulai suka yah?” cibir mama Lina.


‘Bukan suka lagi ma, aku sudah jatuh cinta padanya.’


Setelah mmbatin, Stefan berdehem “Ehm. Diakan calon istriku Mah, dia juga ibunya anakku. Jelas aku peduli.” Ucapnya, datar. Ia ambil ponselnya lalu menghubungi Gina.


Tentu saja mama merasa senang melihat itu. putranya terlihat jelas menyukai Gina, sang calon menantu kesayangan.


Stefan terus saja menghubungi Gina, namun tidak ada tanggapan dari wanita itu. “Dimana dia? Kenapa tidak menjawab ponselnya?”


Tap tap tap.


“Aku pulang!”


“Gina?” Stefan sontak berdiri dan menurunkan Arsen dari pangkuannya.


“Mama!”


“Kamu dari mana hem?” tanpa aba-aba, Stefan memeluk Gina. Memeluk wanita itu dengan sangat erat.


‘Kenapa dia memelukku?’


“Gina, kalau mau kemana-mana, harus bilang padaku. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Pelukan pria itu kian erat. Sedangkan, bocah Arsen hanya memandang kedua orangtuanya itu dengan wajah tersenyum.


Nyonya Yoris pun pergi dari sana dengan wajah tersenyum. ‘Semoga kalian bertiga bisa bersama selamanya dengan bahagia,' batinnya.


‘Benarkah kamu menkhawatirkan aku? Aku merasa senang mendengarnya.’


“Papa, Mama, Arsen juga mau di peluk.”


“Eh, boy.” Stefan pun melepas pelukannya.


“Emmmm. Aku ... ingin bicara dengan kakek dan neneknya Arsen.”


“Yah? Bicara dengan mereka tanpaku?”


“Hmmm”


“Silahkan, mereka pasti di ruang baca.”


Stefan pun kembali memangku Arsen sembari menatap kepergian Gina. ‘Aku pastikan, kau akan jadi istriku secepatnya Gina,’


.


Silahkan masuk Gina, Tuan dan Nyonya Yoris mempersilakhan Gina untuk dudud. Wanita itu pun menuruti.

__ADS_1


“Jadi ada apa ini Gina? Tumben kamu datang ke ruangan ini.”


“Emmmmmm.” Gina terlihat canggung. “Sa-saya, mau minta maaf Tuan, Nyonya,” Gina menunduk.


“Hei ... maaf untuk apa lagi Gina?” Ny. Yoris menanggapi.


“Saya telah bersalah. Sekali lagi maafkan saya,” Gina masih menunduk, menyesali yang telah terjadi.


Sejujurnya, Gina masih sangat malu pada kedua orang tua ini, atas apa yang telah ia lakukan.


“Gina, awalnya saya memang marah padamu. Saya ingin menghukummu karena telah meninggalkan Arsen. Tapi semua itu sudah berlalu. Lupakanlah dan berbahagialah dengan anak dan cucuku, Gina”


Pada awalnya, Tuan dan Nyonya Yoris memang merasa sangat marah pada wanita yang telah melahirkan Arsen dan meninggalkannya. Akan tetapi, kedua orang tua Stefan itu terlihat sangat menerima Gina dengan tulus. Kemarahan mereka padanya mencair begitu saja setelah tahu bahwa, Gina tulus mencintai Stefan.


“Gina, lakukanlah yang terbaik sebagai ibunya Arsen, dan sebagai istri untuk Stefan. Itu sudah sangat membahagiakan kami berdua.”


“Nyonya, apa saya harus menikahinya? Saya merasa tidak pantas untuknya,”


“Saya yakin kamu bisa jadi istri yang pantas untuk putraku Gina,”


‘Lagi pula, putraku sudah jatuh cinta padamu.’


“Benar yang dikatakan istriku Gina, kamu sangat pantas untuknya. Lagipula kalian memiliki Arsen. Anak itu akan sangat bahagia bila kalian berdua bersatu.”


...


Akhirnya, Gina mantapkan hati untuk menikah dengan Stefan. Pria itu merasa sangat bersyukur karena Gina benar-benar akan menjadi istrinya. Gina pun berharap, semoga pernikahan yang telah ia setujui ini benar-benar merupakan pilihan yang tepat baginya.


Gina lalu menjelaskan kepada Stefan bahwa dirinya ingin tinggal ditempat yang terpisah bersama Arsen sebelum menikah.


“Kenapa harus tinggal terpisah? Bukannya kamu sudah terbiasa dirumah ini?” tanya Stefan.


“Aku ... hanya merasa tidak enak jika tinggal disini karena berstatus sebagai calon istri kamu.” Jawab Gina.


“Baiklah, baiklah ... kalau begitu, tinggallah di apartemenku, aku akan mengantarmu kesana.”


“Tidak perlu. Aku sudah medapatkan tempat tinggal”


“Kalau begitu, ayo, aku akan mengantarmu.”


“Baiklah kalau kamu memaksa.”


Tap tap tap


Gina dan Stefan menuruni tangga. Stefan membawa koper milik Gina dan Arsen, sedangkan Gina menggendong putranya itu.


Mama lina menghampiri ketiganya. “Gina, sayang! Itu, ada da keluargamu.


‘Mereka?’


Ternyanta, ibu tiri dan ayah yang dulu sangat disayanginya itu datang. “Nak, papa datang menjemputmu!”


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2