
Pada malam harinya, Given terlihat sangat antusias, rumah yang ia tinggali dengan Daddy-Mommy tiba-tiba saja kedatangan banyak tamu.
Kedatangan para sanak saudara dari Grandma-nya itu adalah untuk memberi ucapan selamat atas pernikahan Mario dan mengucapkan selamat datang kepada Jenni dan Given.
"Hei ... inikah anak dan istrimu Mario?"
Semua orang dengan ramah bergantian menyapa Given dan Jenni. Merrka semua adalah sanak saudara nyonya Park Yoora.
Ibu dan anak itu hanya bisa membalas sapaan dengan kata (Hai) disertai senyuman, karena belum bisa berbicara dalam bahasa Nasional Korea.
Tidak hanya para orang dewasa, anak-anak juga hadir disana, itulah yang membuat Given tampak sangat bersemangat. Tak butuh waktu lama, anak itu sudah terlihat akrab dengan para sepupu-nya itu.
"Jenn, maaf aku harus setidaknya merangkulmu sesekali dan berpegang tangan denganmu di depan mereka. Kuharap jangan keberatan dan kondisikan ekspresi wajahmu. " -Mario berbisik.
"Aku mengerti!" Jawab Jenni, singkat.
"Kakak, aku kagum padamu bisa mendapatkan istri secantik ini. Pantas dulu dirimu sangat betah kuliah di luar negeri. Ternyata, menemukan gadis cantik disana." (dalam bahasa Korea) -salah seorang adik sepupu Mario datang menghampiri, dengan membawa sepiring makanan.
"Tentu saja, aku memang mengagumkan." jawab Mario, menatap singkat istrinya.
"Apa katanya?" tanya Jenni.
"Ehmm. Dia mengatakan aku mengagumkan sehingga wanita cantik sepertimu tergoda padaku."
"Ya? Yang benar saja, aku tidak yakin itu yang dia katakan."
"Tidak usah bertanya kalau kamu tidak percaya padaku." -tersenyum, merangkul bahu Jenni.
"Apa dia memintamu melakukan ini?"
"Tidak. Aku hanya ingin memamerkan kebahagiaan pada semua orang." -senyumnya semakin dalam.
"Jangan aneh-aneh!"
Mama Yoo Ra kembali mendatangi pasangan yang terlihat bahagia dengan senyum palsu-nya itu.
"Mario, Jenni, kami semua akan tinggal disini malam ini. Kalian tidak keberatan kan?"
"Tidak sama sekali Ma, tinggal lama juga tidak apa, iya kan, Jen?"
"Kamu apaan si? Bagaimana kalau mereka tahu kita tidak tinggal di kamar yang sama?" Jenni, dengan volume suara yang dikecilkan.
"Kata siapa kita boleh tinggal terpisah? Mulai malam ini kita akan tidur bersama."
"Hei! Kamu jangan gila. Aku tidak mau. Aku akan tinggal dengan Given."
"Dan membiarkan semua orang tahu kalau pernikahan ini menyedihkan? Kamu ingin merusak kebahagiaan Given? Hmm?"
__ADS_1
Jenni membuang napas kasar. Melihat itu, membuat Mario tersenyumm miris.
'Betapa tidak inginnya dia tidur berdua denganku? Dia sangat tega. Setidaknya berpura-pura saja terlihat senang. Jenn, hatimu sangat dingin.'
"Kakak ipar, kakak ipar! Kami ingin akrab denganmu. Apa kita bisa berteman?" -Kali ini, Jenni dihampiri 2 adik perempuan manis.
"Kalian berdua, percuma berbicara dengannya. Dia tidak mengerti." sahut Mario.
"Oppa, ajarkan istrimu bahasa kita. Agar kami bisa akrab."
"Kenapa? Agar kalian bisa bebas mengajak istriku melakukan kebiasaan-kebiasaan kalian yang membosankan?"
"Tidak, Oppa. Kita janji tidak akan merugikan istri Oppa. Kita mau pamer ke teman-teman bahwa kami punya teman yang berasal dari negara asing."
"Tidak merugikan dia, tapi itu merugikan aku! Kalian ingin mengenalkan istriku dengan teman pria? Tidak akan kubiarkan."
"Oppa, kita akan bilang kalau dia istrimu."
"Tidak, titik."
Kedua gadis itu terpaksa menghela napas kasar. "Oppa, kau sangat tidak bersahabat. Kasihan kakak ipar, sepertinga dia akan cepat mati berada disampingmu."
"Eh, kunyuk, bicara apa kalian?"
Kedua gadis itu pergi secepatnya dari sana, puas membuat abangnya kesal.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Jenni, tanpa melihat wajah orang yang ditanya.
"Yah? Apa mereka Tuhan? Kau jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda. Aku akan selalu menjagamu, biar aman dan jauh dari sesuatu yang membahayakan."
"Cssssh, aku tidak tersentuh mendengarnya!"
"Kau tidak perlu merasa tersentuh."
Waktu sudah hampir tengah malam para tamu dadakan itu masih sibuk dengan masing-masing memiliki teman untuk berbincang. Bagi mereka, pertemuan kali ini sangat berkesan dimana mereka punya waktu untuk saling menyapa satu dengan yang lain. Saat-saat seperti ini termasuk jarang terjadi dalam keluarga Park karena kesibukan masing-masing.
"Aku dan istriku pamit ke kamar sekarang. Sepertinya dia sudah mengantuk."
"Mario, kamu yakin mau ke kamar karena mengantuk? Bukankah kalian ingin ...-"
"Tentu saja. Aku sudah tidak tahan. Kami pergi dulu."
"Mario, kenapa tidak menggendong istrimu? Kasihan dia."
"Dia bukan wanita manja. Dia bisa berjalan sendiri."
__ADS_1
Keduanya berjalan pelan menuju kamar.
"Apa yang mereka bilang?"
"Selamat menikmati malam pertama. Itu yang mereka katakan."
"Apa? Sepertinya kau selalu menterjemahkan bahasa seenanknya."
"Mereka memintaku menggendongmu. Mau aku gendong?"
"Tidak perlu."
"Aku hanya bercanda, Jen."
Tiba di kamar.
Mario pun menjelaskan kepada Jenni letak kamar mandi, ruang ganti dan tempat pakaiannya tersimpan.
"Kenapa pakaianku sudah ada di kamar ini?"
"pelayan yang memindahkannya kesini."
"Kamu yang meminta mereka melakukannya?" -dengan nada mulai menekan.
"Mungkin mereka kurang kerjaan sehingga memindahkan pakaianmu ke kamar ini. Tapi tak apa, ini kan kamarmu juga." -Mario, memjawab dengan gaya santainya. Seoalah dirinya tidak terlibat dalam hal itu.
"Ya sudah, aku ingin tidur. Dimana aku akan tidur?" tanya Jenni.
"Apa kau buta? Ada ranjang besar di depanmu."
"Lalu kau dimana?"
"Tentu saja di sebelahmu!"
"Apa? Tidak! Aku siap."
"Tenang, Jen! Malam ini aku tidak akan mengajakmu melakukan hubungan ****." -Mario, menahan tawa usilnya.
"Yaa? Hei! Bicaramu, tidak bisa di sensor?" geram Jenni, membuat Mario hampir saja tertawa ngakak.
"Malam ini aku akan tidur di sofa. Biar kau bisa tidur nyenyak."
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Duh, mama papa Arsen belum sempat muncul di part ini.🥰
Makasih untuk apresiasi kalian terhadap cerita ini guys.