Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Kiriman Bunga


__ADS_3

Keheningan masih memenuhi kamar Tuan Muda Stefan, menandakan bahwa pemiliknya belum bangun, meskipun waktu sudan menunjukkan pukul 6 pagi.


“Mmmmmmmm” Gina mulai menggeliat. ‘Sangat nyaman’ itulah yang dirasakannya kini.


Gerakan Gina membuat Stefan terbangun dan netranya seketika terbuka lebar, betapa terkejutnya saat dirinya dan Gina dalam keadaan saling memeluk.


Terkejut, namun pria itu tidak menjauhkan diri dari Gina. Ia malah hanya membatin ria. ‘Apa ini? Kenapa kami seperti ini? '


Perlahan, Gina mulai membuka matanya.


Saat itu pula Stefan menutup mata, seolah dirinya masih terlelap.


“hah?” ia bekap mulutnya sendiri dengan satu tangan. Dimana tangan satunya lagi sedang melingkar di pinggang Stefan. Demikian juga tubuhnya sendiri berada dalam pelukan pria itu. ‘posisi apa ini? Mengerikan’ batinnya berteriak.


Segera ia menjauh dari pria itu. Dilihatnya Arsen, masih tertidur. Gina buru-buru kabur keluar dari kamar itu dengan memegang dada yang terasa sangat berdebar.


“Gina”


“Astaga”


Sapaan nyonya Yoris itu nyaris membuat Gina kehilangan keseimbangannya. Lagi-lagi ia harus sport jantung.


“kenapa kamu Gin? Lihat saya seperti lihat hantu?” mama Lina memberi senyuman mautnya.


“Ma-maaf nyonya, saya ... hanya kaget”


“Hayo ... tadi ngapain di dalam?” menaik turunkan kedua alisnya.


“hah?” Gina menggeleng dengan wajah gugupnya.


“Cieh ... tidur bareng lagi yah?” Terus saja menggoda Gina tanpa henti.


“Nyonya, tidak terjadi apapun” Gina berusaha membela diri, merasa tertuduh.


“Ah, terjadi apapun juga tak apa kok Gin.” Semakin bersemangat mengganggu Gina.


‘Oh Lord, orang tua ini, apa dia tadi melihat kami?’ Gina pun mulai merasa curiga.


Ceklek.


Pintu kamar Stefan terbuka. Stefan keluar dengan Arsen yang ada di gendongannya.


“Mama ...” memanggil Gina dengan nada manjanya.


“i-iya sayang” Gina berusaha tersenyum untuk mengatasi kegugupannya yang semakin menjadi, tatkala tak sengaja bertatap singkat dengan ayah dari anaknya itu.

__ADS_1


‘Gila, meski baru bangun, senyuman Gina tetap terlihat cantik.’ Tanpa sadar, lagi-lagi Stefan mengagumi Gina dalam hati.


“Hai, Arsen sayang, selamat pagi” sapa nyonya Yoris kepada cucunya itu.


“Pagi nek,” sapa bocah itu balik.


“Mama” kembali melihat ke arah Gina.


“Hmmm?”


“Sini, peluk” anak itu merentangkan kedua tangannya. Sedangkan tubuh kecilnya itu masih berada di gendongan sang ayah.


Gina pun mendekat ke arah keduanya.


“Mau digendong mama Gina Boy?” tanya Stefan, dan anak itu menggeleng. “Papa aja yang gendong”


“Sini, mama peluk sayang,”


Keduanya pun berpalukan.


Deg~


Stefan kembali terbayang-bayang tentang Gina yang tadi tidur dengannya dalam posisi tak senonoh. Tak lepas ia tatap wajah wanita yang sedang memeluk anaknya ini. Ingin rasanya Stefan ikut memeluk seperti Arsen.


Situasi ini benar-benar mendebarkan termasuk bagi nyonya Yoris. dengan sigap ia mengabadikan momen mesrah ini melalui kamera ponselnya.


‘OMG, ini terlihat benar-benar nyata. Mereka seperti keluarga bahagia’ batinnya senang.


“Papa dengan Mama tidurnya pelukan kayak gini kan tadi malam?”


Kalimat yang keluar dari mulut si kecil itu sontak membuat nyonya Yoris berhenti dari acara senyam-senyumnya memandang foto tiga orang di depannya ini.


Stefan dan Gina menampakkan ekspresi wajah yang sama. Membelalakkan mata. Tak disangka anaknya ini akan mengumbar kejadian itu.


“Gina, Stefan, kalian berdua?” Mama mulai menjahil.


Sementara Arsen hanya tersenyum senang dalam kepolosannya, tanpa merasa berdosa.


Mama mulai melipat kedua tangan diatas perut, lalu menatap curiga pada Gina dan Stefan.


“Tidak seperti itu Ma..” ujar Stefan, berusaha menghentikan pikiran gila ibunya itu.


“Iya, bukan seperti itu nyonya, mana mungkin,” sambung Gina.


‘Kompak banget sih, masih menyangkal’ batin mama.

__ADS_1


“Lalu, kenapa kalian terlihat gugup? Seperti itu juga tidak apa, Mama tidak melarang.”


Dua orang itu terlihat jelas salah tingkah.


“Kalau begitu, ayo turun sarapan.” Mama memutar tubuhnya, membawa senyum mengembang di wajahnya.


Saat keempatnya menuruni tangga, tiba-tiba sang security muncul dengan sebucket bunga lili kuning ditangannya. Setelah menyapa tuan rumahnya itu, ia pun menyerahkan bucket tersebut kepada Gina, mengatakan bahwa bunga itu adalah titipan untuknya.


‘Siapa yang memberiku bunga sepagi ini?’ Gina terlihat bingung.


Sementara, wajah Stefan kini berubah kesal.


‘Cih ... dasar anak nakal ini. Bilang tidak, tapi cemburu?’ batin mama, mengetahui putranya tengah kesal.


“Ehmmm. Cie, dapat kiriman bunga niyee, dari siapa Gin? Pacar kamu?”


Mama sengaja memanasi Stefan yang jelas-jelas terlihat badmood.


“Siapa yang mengirimkanmu bunga sepagi ini? Kurang kerjaan” ketus Stefan, namun terlihat santai saja.


“Emmmm. Aku tidak merasa memberitahukan kepada siapapun bahwa aku tinggal disini.” Gina yang masih bingung, membolak-balikkan bucket tersebut. “Ah, mungkin saja Gina yang dimaksud bukan aku” acuhnya.


Keesokan harinya, tidak disangka Gina kembali mendapatkan kiriman bunga.


Stefan, pria itu kembali merasa kesal tanpa sadar .


Kali ini, pengirim memberikan sepucuk note untuk memperjelas identitas sang pengirim.


(“Hai Cantik, temui aku di taman terdekat sini, nanti malam pukul 7.”


By. Nio Ferando.)


Senyum mengembang di wajah Gina tatkala mengetahui pengirimnya.


‘Siapa itu? kenapa dia harus tersenyum senang? Meresahkan’ Kali ini, sepertinya level kekesalan Stefan kian bertambah.


......


Segera ia menyingkir untuk menghubungi seseorang, memerintahkan orang itu untuk menguntit pengasuh anaknya itu. 'Ini tidak bisa dibiarkan.' gumamnya kesal.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2