Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Makan Ini, Jangan Bersedih


__ADS_3

"Kakaaaak!" seru Given, tiba-tiba dan tentu saja membuat Mario sedikit terkejut.


"Daddy itu kakak. Given sapa kakak dulu ya," -melepaskan tangan daddy-nya untuk samperin Arsen yang sedang bersama dengan papa-nya dan seorang teman laki-laki.


"Given? Kamu disini?"


"Iya, habis nonton di bioskop sama Daddy."


"Daddy? Dimana daddy kamu?" tanya Arsen, ingin tahu.


"Tuh," menunjuk Mario yang sedang berakting melihat ke arah lain.


Stefan dan Jem hanya jadi penyimak.


'Beruntung, mama Arsen tidak disini.' batin Stefan, yang masih mengkhawatirkan kegilaan Mario terhadap Gina.


"Given, kakak sudah punya adik yang lain. Dia bernama Jem."


"Benarkah? Adik laki-laki kesukaan kakak?"


"Iya, tentu saja. Dia juga tidak mengompol saat tidur."


"Benarkah?" -melirik Jem sekilas. Arsen hanya menjawab lewat gerakan kedua alisnya.


"Baiklah kakak, tapi ... Given akan ketempat yang jauh bersama mommy dan daddy. Kita tidak akan bertemu lagi, apa kakak tidak mau ikut?"


"Yah? Untuk apa aku ikut denganmu? Aku sudah mendapatkan adik laki-laki."


"Oke, tapi kakak harus bertemu Given saat besar nanti ya,"


"Hah? Kenapa kita harus bertemu? Memangnya kemana kakak harus menemuimu?"


"Di Kolea (Korea)." -jawabnya polos.


"Ah, sangat jauh. Jangan menunggu! Kakak tidak akan datang." tegas Arsen.


"sangat jauh? Kakak pernah ke Kolea?"


"Pernah. Kakak sering berpergian bersama papa. Iya kan pah?"


"Hmmm. Tentu," jawab Stefan singkat, sembari menahan tawa, merasa perbincangan dua bocah ini terdengar lucu.


"Hmmm, baiklah, Given akan kembali ke daddy. Bye, kakak!" -membalikkan badan kemudian pergi.


"Given, tunggu!" tiba -tiba Arsen mengejarnya dan mengambil sebungkus cokelat dari saku celana. "Jangan bersedih dan makanlah ini." -memberikannya pada Given. Anak perempuan itu hanya mengangguk dan kembali menggenggam erat tangan sang ayah.


.


.


"Kenapa lagi muka anak Daddy jadi murung, hmm?"


Tanya Mario, melihat ekspresi wajah given yang terlihat sangat tak terkondisikan.


Ayah dan anak itu kini dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit.


"Daddy, kakak sudah punya adik yang balu (baru). Kakak tidak sayang Given lagi." -menunduk sedih.

__ADS_1


"Sayang kok, buktinya di kasih cokelat. Cokelat itu tanda sayang, Given."


Sedetik kemudian Mario menyesali keceplosannya. 'Bodoh. Sayang? Ini sama saja dengan, aku nendukung perasaannya Given ke anak itu.'


"Daddy, jadi kakak suka Given?"


"Ehmmm. Begini. Kalau kakak itu bisa punya adik, Given juga bisa punya adik."


"Punya adik?"


"Iya, orang tidak harus memiliki kakak. Tapi, setiap orang bisa punya adik."


"Daddy, Given pengen punya adik."


"Benarkah? Given yakin?" Mario tersenyum senang.


"Emmm." anak itu pun terlihat senang dan menganngguk.


"Akan daddy buatkan adik untuk Given. Tapi, tunggu mommy sembuh, ya."


"Kok tunggu mommy sembuh?" tanya anak itu dengan wajah penuh tanya.


"Iya, karena ... adiknya harus daddy titip di perut mommy dulu, sayang."


'Ya ampun, Mario ...! apa yang sedang kau pikirkan? Percayalah, Jenni tidak akan senang mendengar obrolan ini.' -Lagi-lagi pria itu merutuki dirinya.


"Dad, apa Given juga pernah di titip di perut mommy?"


"Ven, itu ada martabak manis kesukaan mommy. Kita mampir yuk, belikan untuk mommy." -Sengaja mengalihkan perhatian.


.


.


Di Rumah Sakit.


Jenni terlihat sangat gelisah. Perkataan Park Yoo Ra barusan sebelum meninggalkan ruangan benar-benar menguras isi pikirannya. Given dan dirinya benar-benar akan dibawa pergi dari negara ini dan tinggal di Korea Selatan.


"Bagaimana ini. Orang tua itu tidak terlihat sedang bercanda. Haruskah aku merelakan anakku pergi tanpaku? Jika aku ikut, bagaimana dengan tunggakan di RSJ itu? Kalau aku pergi, itu namanya lari dari tanggung jawab dan aki akan berakhir jadi buronan."


Ia lalu membuka ponselnya dan membuka kontak. 'Aku harus memohon bantuan siapa? Tommy atau Stefan?'


Lama wanita itu berpikir keras. Diantara kedua orang itu, siapa yang harus ia hubungi. Pada akhirnya, pilihan itu jatuh pada Tommy.


'Aku memang bodoh karena telah perkenalkan orang tua itu dengan Given, cucunya. Pada akhirnya, akulah yang terancam kehilangan anakku.'


Drrruuut, drrruuut, drrruuut,


Ponsel Tommy terhubung akan tetapi pria itu lama tidak menjawab.


'Ya ampun, Tomm. Bagaimana ini?'


[Halo, Jen] suara seorang pria dari seberang sana.


[Tomm. Kau kah ini? Apa kau sangat sibuk?]


[Tentu saja. Ayah dari anakmu itu memberiku tugas yang sangat banyak]

__ADS_1


[Oh. apa ... aku sangat mengganggu?]


[Tentu tidak. Untukmu, aku pasti ada waktu. Apa kau perlu bantuan?]


[Emmm. Tom, begini, aku ingin bertanya pendapatmu.]


'Astaga, Jenn! Bukan itu yang ingin kau katakan. Kau ingin meminta tolong!'


[Silahkan. Tentang apa itu, Jen?]


[Emmm. Tidak. Begini. Itu. Aku ... emm ... Nyonya Park Yoo Ra mengatakan dengan sangat serius bahwa aku dan Given akan dibawa pergi neninggalkan kota ini.]


[Iya, aku tahu itu Jenn. Lalu?]


'Justru aku sudah mengurus paspormu dan Given' -Tommy tersenyum jahil.


[Tomm, apa ... menurutmu aku juga ikut? Aku ... ingin tinggal, Tomm.]


[Kenapa harus tinggal? Kau yakin bisa terpisah dari Given selamanya? Sudah, nurut saja Jen]


[Tidak bisa, Tomm. Aku benar-benar tidak bisa pergi. Aku mohon, bantu aku bicara dengan ibunya Mario.]


[Kenapa tidak ingin ikut? Apa kau masih takut dengan pria pemarah itu? Tenang saja, akan ada aku disana. Kau tidak sendirian.]


[Begini ... aku ... punya masalah! Tunggakan biaya rawat mama di rumah sakit itu, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, Tomm.]


[Csssh, jadi itu masalahnya? Itu sudah beres, Jenn. Pak Mario sudah mengurusnya.]


[APAAAA? DIA?]


[Jenn. Santai. Tidak perlu pake urat begitu]


[Pembicaraan kita berakhir.] -Jenni, mematikan panggilan dengan perasaan kesal.


'Jadi ... pria itu, sudah menyelesaikannya? Heh, hidupku memang lelucon baginya. Dia mulai membuatku benar-benar menjadi parasit seperti yang pernah dia katakan.'


'Ma! ... seandainya mama baik-baik saja, hidupku tidak akan sehina ini. Aku harus menyalahkanmu Mah! ... Ma ... aku merindukanmu. Merindukan mama yang dulu.' -Jenni, menangis.


Ceklek. Pintu terbuka.


"Mamaaaa!" Given menyapa dan berlari ke arah Jenni.


Dengan sigap wanita itu mengusap bawah matanya.


"Given?" -tersenyum hangat.


Tak lupa, papa Mario menyusul dibelakangnya dan merasa sedikit terganggu melihat wajah Jenni yang terlihat bersedih dibalik senyumannya.


'Jenni habis menangis? Apa lagi yang membuatnya sedih?'


.


.


Bersambung...


Tengkyu Readers

__ADS_1


__ADS_2