Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Meniduri Istri.


__ADS_3

Hai!... kabar kalian gimana? Sehat terus ya guys.


Selamat membaca.....


..@@.......................


Jenni mengambil kembali ponselnya dari Mario setelah berakhirnya obrolan dengan Given. Tanpa mengatakan apapun, Jenni keluar dari kamar itu.


"Jenn, Jen tunggu!" -Mario menahan lengan wanita itu.


"Ada apa?"


"Jangan menganggap enteng situasi ini Jen, aku harus memberimu penjelasan."


"Jelaskan apa?" -bertanya santai.


"Tadi malam aku bersama dua temanku. Mereka laki-laki."


"Mario! Aku sudah bilang terserah mau sama siapa aja. Lagi pula, kenapa temanmu memakai lipstik? Pria di Korea sangat aneh,"


"Jenn, tunggu! jangan pergi dulu."


Mario merasa penjelasannya tidaklah memuaskan. Ia pun kembali ingin Jenni benar-benar percaya pada penjelasannya.


"Kau tidak percaya padaku?" -mendekat


"Kenapa aku harus percayah?" -melangkah mundur.


Mario kian mendekatkan tubuhnya membuat Jenni terpaksa semakin melangkah mundur. "Ap-apa yang kau lakukan?"


"Dengar Jen," -memenjara wanita itu dengan dua tangannya. Yang mana, Jenni telah merapat ke dinding, tak bisa menjauh lagi. "Kau ... adalah istriku. Aku, adalah suamimu."


"Ak-aku tahu. Tapi, ken-kenapa kau membiarkan wanita lain menciummu? Kalau sadar sudah jadi suami jangan genit ke wanita lain."


"Jen, sudah aku jelaskan aku tidak bersama wanita. Harus berapa kali aku katakan?"


"Aku tanya, apa teman priamu memakai lipstik? Hmm?" -tanya Jenni dengan tatapan menantang.


Sialnya, pertanyaan ini tidak bisa dijawab oleh Mario. Pria itu pun memejamkan mata, memikirkan cara agar Jenni bisa paham.


Drrrrrt.... drrrrt...drrrttt.


Sebuah panggilan telepon membuat ponsel milik Mario berdering. Ia pun mengambil benda itu dari saku celananya.


Min (Memanggil). melihat nama temannya itu, Mario terlihat sedikit legah.


"Ini temanku yang bersamaku tadi malam. Kamu harus dengar penjelasan darinya."


[Halo Min,]


[Ada apa Mario, kau menghubungiku berkali-kali.] -dalam bahasa Korea.


"Aku tidak mengerti yang dia katakan" -sahut Jenni.


Benar, Mario lupa kalau wanita ini belum memgerti bahasa Korea dengan baik.


"Akan ku aktifkan perekam panggilan. Seseorang akan menerjemahnya untukmu nanti."


[Min, dengar pertanyaanku baik baik, dan kau harus jelaskan semua. Apa yang terjadi padaku tadi malam kenapa di bajuku terdapat lipstik? Apa kalian berdua melemparku pada jalang?]


Min pun menjelaskan bahwa yang terjadi tadi malam adalah saat keluar dari ruang VIP hendak pulang, Mario tak sengaja menabrak 2 sepasang kekasih karena langkahnya yang sempoyongan. Mereka hampir saja terlibat perkelahian gara - gara hal itu. Yang mana, si pria keberatan karena wanitanya hampir kehilangan keseimbangan sehingga reflek memeluk Mario. Itulah yang terjadi dan Min meyakini bahwa bekas lipstik itu milik wanita tersebut yang tak sengaja menempel karena kecelakaan kecil itu.


[Lagipula, ada apa denganmu? Kau terlihat mabuk berat padahal aku saja tidak memiliki banyak efek dari minuman itu. Kalau saja tidak ada aku dan Jung, mungkin kau sudah berada di kuburan saat ini!]


Panggilan pun berakhir, memancarkan sedikit aura kelegaan pada wajah Mario.


"Ayo kita cari nona Oh, dia yang akan menjadi penerjemah." -melangkah pergi, sembari memanggil nama Sang pembantu.


"Ehmmm."

__ADS_1


"Tommy? Kenapa ke rumahku sepagi ini?" -Mario.


"Tom, kau datang?" -Jenni. Tersenyum senang.


"Mario, Gina ... aku datang, ingin mengenalkan seseorang pada kalian berdua. Maaf karena kedatanganku yang mungkin mengganggu waktu berduaan kalian."


"Chhh.. kau ini. Apa kau melihat nona Oh dibawah?"


"Tidak. Tidak ada siapapun dibawah, kecuali security yang berada diluar. Itu makanya aku keatas. Maaf atas kelancanganku."


Ketiganya pun turun ke lantai dasar untuk menemui siapa yang dimaksud oleh Tommy.


"Sayang, kenalkan, ini pak Mario, atasan aku dan ini Jenni, istrinya. Jenni ini temanku."


"Jen, Mario, dia Icha. Calon istriku."


Dalam hati, Mario merasa legah karena yang di kenalkan Tommy adalah seorang wanita terlebih lagi wanita ini adalah kekasih temannya itu.


'Bagus, jadi... aku tidak perlu khawatir kau akan mencari perhatian istriku.' -batin Mario.


"Hai, aku Mario,"


"Aku, Jenni!"


Senang bertemu dan berkenalan dengan kalian. Pak Mario dan kak Jenni, kalian terlihat sangat serasi" Icha tersenyum ramah, namun dalam hati sedikit bertanya-tanya kenapa ekspresi wajah pasangan yang di pujinya itu tampak aneh alias kaku.


"Icha sayang, aku mengangumi kepintaranmu dalam menilai. Mereka memang sangat serasi." timpal Tommy, seraya tertawa dalam hati, menertawai pengantin baru yabg bahkan belum menyadari perasaan cintanya ini.


Mario pun ikut membenarkan perkataan Tommy. Ia juga mengatakan bahwa gadis itu punya penglihatan yang bagus.


'Serasi apanya?' Yang benar saja.' Jenni membatin.


"Oh Mina! Nona Oh!" -Mario memanggil sang pembantu yang tak kunjung merespon. "Apa orang itu tuli?" -gumamnya.


Jenni pun berinisiatif mencari keberadaan sang pembantu, namun yang ia temukan malah sepucuk surat kecil.


(Hari ini dan besok adalah waktu cuti saya. Jangan lupa nikmati sarapannya. Dari : Oh Mi Na.)


'Ini pasti ulah mama biar aku bisa berduaan sama Jenni' -membuang napas malas.


"Baik, karena nona Oh tidak ada, Tom ... aku ada tugas untukmu." -mengambil ponselnya lalu membuka file perekam suara telepon lalu meminta Jenni dan Tommy mengikutinya.


"Icha, maaf aku tinggal sebentar ya,"


"Oke, aku akan tunggu disini.


Tiba di salah satu ruangan.


"Jenn, aku tidak tahu kenapa harus menjelaskan ini padamu, sampai harus melibatkan orang lain, meskipun kau tidak peduli. Aku ingin tidak ada salah paham, walaupun kau menganggap ini tidak penting."


"Tomm, terjemahkan bahasa ini padanya."


Setelah mengiyakan permintaan Mario, Tommy pun mulai mendengarkan rekaman itu dengan seksama. Sedangkan Jenni, wanita itu juga menyimak dengan serius.


Setelah rekaman itu berakhir, terlihat dari wajahnya, Tomi tengah menahan tawa. Namun, ia sadar bahwa ini bukan waktunya untuk bergurau.


"Begini ... Jenn ..." Tommy pun menerjemah penjelasan si Min sejelas-jelasnya kepada Jenni.


"Ooooh, begituu ..." -Jenni terliha mengangguk-angguk.


'Giliran penjelasan orang lain, dia langsung percaya.' -Mario menggeleng heran.


.


.


2 Minggu Kemudian.


Didalam pesawat menuju Seoul, Korea selatan. Arsen, Stefan dan Gina pergi untuk memenuhi undangan ulang tahun perusahaan milik Tuan Kim. Sebenarnya, Stefan bukanlah tamu undangan. Mengingat dirinya adalah pemegang saham terbesar kedua di perusahaan tersebut. Namun, karena tidak ingin pamer kepada Gina, ia pun mengatakan bahwa mereka akan hadir sebagai undangan.

__ADS_1


"Papa Arsen, apa disana kita akan bertemu Given dan Jenni?" -tanya Gina.


"Kenapa sayang? Kau ingin ketemu mereka?"


"Iya ... aku merindukan Given."


"Sayang, kau terdengar seperti Arsen. Tunggu, kau ingin menemui Jenni dan Given atau ... Mario?" -memicingkan mata.


"Papa ... Arsen tidak merindukan Given. Arseb hanya ingin menemui Joon." -celetuk bocah laki-laki itu tidak terima yang sang ayah katakan.


"Apa -apaan sih, kok Mario? Jangan asal deh." -Gina.


"Becanda sayang. Aku harap tidak bertemu pria itu disana. Aku tidak rela dia menatapmu bahkan hanya 1 detik."


"Boy, kau tidak lagi menyukai Given?"


"Tidak. Dia adik perempuan. Arsen maunya adik laki-laki."


"Sudahlah papa, jangan bahas. Arsen, tidak boleh seperti itu. Awas kalau kamu tergila-gila sama Given saat besar nanti." -Gina.


"Hei! Bicara apa kamu? Jangan gila. Dia masih anak-anak. Pikirannyanya belum sampai kesana Gin, lagi pula ... aku tidak berencana berbesanan dengan mantan penggila istriku." -Stefan menyela.


.........


Helena.


Masih di apartemen. Kini ia seorang diri, karena Mr.Lee benar-benar sudah tidak berkunjung. Bahkan kabarnya, pria itu telah menikah.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Sekarang aku hamil dan ... dia tidak kesini? Aku harus apa?" -menatap tespack ditangannya dengan perasaan campur aduk.


Tok tok tok.


Tit tit tit.


Ceklek.


Suara puntu terbuka membuat Helena merasa senang. Siapa lagi yang datang dika bukan dia, pikirnya.


Degh.


Jantung Helena terasa akan copot tatkala melihat orang asing di hadapannya. Terlebih lagi, dua orang ini datang dengan ekspresi wajah tak bersahabat.


"Jadi, kau adalah bekas wanita simpanan putraku?" -pertanyaan itu meluncur tanpa basa-basi mulut lantang seorang wanita elegan yang sudah tak muda lagi.


Ya ... orang yang datang tak lain, sudah pasti adalah ibu dari Mr. Lee. Ia datang bersama dengan seorang gadis yang mengaku sebagai adik dari Lee.


"Ha-halo nyonya!" sapa Helena, seraya memberi hormat.


...........


Mario.


Pria itu masuk ke ruang kerjanya setelah baru saja menyelesaikan meeting.


Ceklek,


Baru saja menaruh bokongnya di kursi empuk miliknya, seseorang muncul tiba-tiba.


"Mama?"


"Apa? Kau terlihat kaget atas kedatangan mama? Tidak suka?"


"Jadi, ada apa mama kemari? Mau mengevaluasi hasil kerjaku?"


"Iya, mengevaluasi kerjamu sebagai suami. Apa kau sudah berhasil meniduri istrimu?"


"Ya? Ma! Apa maksud mama? Jangan ikut campur tentang hubunganku dengan istriku." -menjawab kesal.


"Jadi kalian tidak tidur bersama?"

__ADS_1


"Aku tidur dengan putriku. Itu tak masalah sama sekali."


__ADS_2