
"Jen, jangan menakutiku! Bangun! Bangun! Jen!"
'Sial. Akan ku tuntut orang gila itu kalau sampai kamu kenapa-kenapa.'
'Dia sangat kurus kenapa dia bekerja begitu banyak? Melawan orang gila saja dia tidak punya tenaga. Dasar perempuan bodoh.'
Mario tanpa sadar terlihat begitu peduli terhadap Jenni. Namun, yang pria itu pikirkan, siapapun akan melakukan hal yang sama jika melihat kejadian tadi.
Tiba di Rumah Sakit.
Para petugas medis langsung mendorong brankas pasien dimana Jenni berada untuk melakukan tindakan penyelamatan.
"Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk"
"Tapi ... saya ingin menemani dia dok." -Mario, dengan tatapan memohon.
"Maaf Pak, yang boleh berada di dalam hanya pasien dan petugas medis. Mohon kerja sama anda."
Terpaksa Mario melepas tangan Wanita itu dan dalam sekejap air mata Pria itu turun begitu saja, melihat pintu ruang tindakan yang perlahan tertutup.
'Aku sangat tidak menyukaimu. Tapi kau berhasil membuatku mengeluarkan air mata.'
........
Di Kediaman Yoris.
Nyonya Yoris baru saja kembali ke kediamannya setelah pagi-pagi sekali sudah harus berpergian karena mengurus beberapa hal yang mendesak.
Samar-samar, wanita setengah baya yang masih terlihat sangat cantik itu mendengar suara tangisan seorang anak kecil.
"Mommy, Daddy!"
"Giveeen, yang tenang yah, cantik. Onty lagi menghubungi telepon mommy kamu yah,"
"Ontyyy, Given kangen daddy and mommy. Huuuaaaa," raung anak itu lagi.
Tok tok tok.
Pintu kamar Arsen di ketuk dan sang ibu mertua sudah berdiri tegak di depan pintu.
"Ma, masuk Mah."
"Gin, baru tadi malam Araen minta adik, dan apa ini? Kalian mendapatkan adik untuknya?" mendekati Given.
"Given, kenalkan, ini Grandma-nya kakak Arsen. Mah, anak ini namanya Given. Dia anak dari teman papa Arsen." terang Gina.
__ADS_1
"Owh? Begitu? Tapi, kenapa wajahnya sedih sayang?" mama Lina menyentuh pipi Given yang terlihat menggemashkan.
"Glenma, Given kangen mommy and daddy." adu-nya lagi.
Gina pun menjelaskan pada mama Lina bahwa sejak tadi dirinya sudah menghubungi Jenni, akan tetapi tidak pernah dijawab seklaipun oleh wanita itu.
"Mama ... Arsen pulang!"
Wajah sedih Given menghilang seketika tatkala melihat Arsen muncul di depan pintu, sepulang dari sekolah.
"Kakak sudah pulang?" ia pun berlari ke arah Arsen.
Bukanya menyapa Given, Arsen malah bertanya, "Ma ... kok adik ini belum dipulangkan?"
"Kakak, Given masih ingin main bersama kakaaak." rengek anak perempuan itu.
"Sen, adiknya masih ingin bermain denganmu. Tak apa yah sayang,"
"Tapi Given sangat jorok, Ma ..."
"Tidak sayang, nanti malam, mama akan pakaikan pampers sebelum tidur. Ya kan Given?" anak manis itu pun mengangguk setuju penuh semangat.
.........
Di Rumah Sakit.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Maaf, apa anda ini wali pasien?" tanya sang dokter.
"Em ... emm ...," Mario tampak ragu untuk menjawab.
"Pasien mengalami patah tangan dan keseloe pada kaki kanannya. Untuk itu kita akan segera melakukan operasi pada tangan pasien.
"Patah?" Mario seakan tak percaya.
Setelah semua urusan adminis trasi selesai, Jenni pun dibawa masuk ke ruang operasi.
Rio kembali duduk sembari memijat pelipisnya.
Drrrrt drrrrt drrrrt.
Mama memanggil dan Mario pun segera menjawab.
[Ya, Mah...]
__ADS_1
[Mario, dimana kamu? Bagaimana cucu mama?]
degh-
'Given?' Mario baru teringat akan putrinya.
[Ma, bisa kah mama ke rumah sakit sekarang? Jenni sedang di operasi.]
[Apaaa? Ke ... kenapa?]
[Nanti aku ceritakan Mah,]
Mama pun segera mengakhiri panggilan setelah menanyakan di rumah sakit mana Jenni berada.
Menit demi menit berlalu, mama pun tiba di rumah sakit.
"Mario, apa yang terjadi?" -bertanya dengan wajah paniknya.
Putranya itu pun menceritakan tentang kejadian yang ia lihat yang menyebabkan ibu dari putrinya itu celaka.
"Kasihan sekali dia, itu pasti sangat sakit." gumam sang mama.
"Ma, aku akan ke rumah sakit itu lagi. Given pasti disana atau ... orang-orang disana pasti tahu dimana anakku."
"Iya nak, pergilah. Temukan anakmu dan bawa dia kesini."
Mario pun bergegas pergi dari sana. Ibunya itu pun memandang kepergian Mario sembari bergumam, "Mama tahu kamu masih peduli Jenni Mario, kamu hanya belum sadar akan perasaanmu."
Tiba di rumah sakit. Saat melewati koridor, tak sengaja Mario mendengar nama Jenni disebut. "Kasihan ya, si Jenni sudah bekerja keras tapi, dia malah dicelakai oleh ibunya yang gila itu."
Obrolan itu sontak membuat Mario menegang. 'Jadi ... orang itu ibunya?'
.
.
Bersambung😁
Guyss makasih atas dukungan kalian untuk karya ini🥰🥰
...PENGUMUMAN...
Hari ini, Novel kedua othor udah tamat ya guys.
__ADS_1
Othor kali ini akan fokus selesaikan cerita (Anakku dan Cinta Pertamaku)😁. Silahkan bagi yang belum mampir kesana😊