Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Kiss Me


__ADS_3

.........


Kediaman Keluarga Yoris.


Gina dan Rani sedang membuat cemilan kesukaan mereka yang biasa mereka buat sewaktu masih tinggal bersama. Yaitu, Roti bakar Nestum. Membuat camilan satu ini sangatlah mudah, yang mana bahan dasarnya terdiri dari Roti tawar, cokelat batang yang dicairkan dan bubuk nestum.


"Ran, aku ingin tahu, kau dan suamimu ingin berapa anak?" tanya Gina.


"Mungkin 2 saja Gin,"


"Kalau begitu, buatlah 3 anak, berikan 1 untukku. Kau tahu kan, aku tidak bisa lagi buat anak."


"Benarkah kau tidak buat anak setiap malam?" goda Rani.


"Owh, bukan. Maksudku, aku buat anak tapi tidak bisa menghasilkan anak lagi." -keduanya pun tertawa.


"tenang, anak di perutku saat ini adalah anak perempuan. Akan kuberikan dia padamu saat dia dewasa dan menjadi menantumu."


"Apa? Rani ... pikiranmu sungguh jauh sekali. Aku meminta anak bukan menantu."


"Hei ... sama saja. Gin, aku serius. Mari jodohkan anak - anak saat besar nanti."


"Hmmm. Perkara itu, aku tidak yakin. Belum tentu mereka bisa saling suka nantinya, Rani."


"oke, kita lihat saja nanti."


"Tapi Rani, aku serius tentang memberiku satu anakmu. Hehehe."


"Hmmm. Oke, tapi aku tidak bisa janji. Hehehe"


.......


Di tempat lain.


"Hei ... wanita nakalku, bangun." Lee, membangunkan Helena yang sedang tidur nyenyak, padahal ini sudah siang hari.


"Hmmmmm" Helena menggeliat.


"Semalam aku yang aktif, tapi kenapa kau yang kelelahan, hmmm?"


"Tuan Lee, please jangan membangunkanku. Aku tadi sudah bangun lebih awal untuk membuatkanmu sarapan."


"Iya. Terima kasih. Aku sudah menikmatinya. Tapi bangunlah dulu karena kita harus bicara." -kedengarannya, Lee sangat serius sehingga Helena membuka matanya.


"Bicara apa?" -duduk manis di sandaran tempat tidur.


"Ini, kunci apartement dan mobil untukmu. Kau akan berangkat bersama dengan orangku besok."


"Berangkat? Kemana? Lee, kau ... membuangku atau apa?" tanya Helena, dengan perasaan sedikit panik.


Mendengar pertanyaan itu, Lee tertawa seolah itu pertanyaan yang menggelitik pendengarannya.


"Pulang ke negaraku dan aku tidak membuangmu. Justru aku sedang memeliharamu sebaik mungkin. Aku juga akan datang menemuimu saat aku sedang menginginkanmu. Apa kau mengerti?"


"Untuk apa memberiku mobil? Aku bahkan tidak mengerti peraturan lalu lintas disana."


"Tenang. Aku menyiapkan seseorang disana untuk menemanimu dan kau akan cepat mengerti."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan biaya hidupku? Apa ...-"


"Ini kartu untukmu. Aku akan memberimu biaya hidup melalui kartu itu."


Dengan cepat Helena mengambilnya. "Baiklah, aku akan menurutimu."


"Bagusss, wanita nakalku yang penurut." membelai rambut Helena.


.........


Keluarga Park Yoo Ra.


Nyonya rumah itu mendatangi Jenni di kamar dengan membawa buah-buahan.


"Jenn sayang, waktunya konsumsi buah-buahan dulu," tersenyum bersemangat.


"Terima kasih, Nyonnya!" ucap Jenni, sopan.


"Nyonya lagi?" Yoo Ra menggulirkan bola matanya ke atas, sebagai tanda protes.


"Baiklah, Ma ...!"


"Ya ... seperti itu. Sekarang kamu sudah tidak punya mama selain saya. Jadi, anggap saya sebagai mama kamu, oke,"


"Ya, Ma ..."


"Oia Jenn, setelah ini, bersiaplah untuk pergi menginjungi makam mama kamu."


"Benarkah? Kita akan kesana?" tanya Jenni, bersemangat.


"Ma, haruskah besok kita pergi?"


Mama Yoo Ra mengambil tangan Jenni dan menatapnya dalam. "Kita harus pergi besok, pekerjaan mama dan bakal suami kamu itu sudah menunggu lama. Kamu bisa mengerti kan Jenn?"


"Ma, lalu ... pekerjaan apa yang akan kulakukan disana?"


"Hei, jangan buru-buru. Yang pertama akan kamu lakukan adalah belajar berbahasa Korea. Setelah itu baru kita pikirkan pekerjaan apa yang bisa kamu kerjakan. Tapi ..."


"Tapi?" -Jeni, dengan ekspresi penuh tanya.


"Tapi menurut mama, kamu cukup lakukan pekerjaan sebagai istri yang baik, bergaul dengan nyonya muda disana dan ... buat lah banyak cucu untuk mama."


"Yahhh? Maa! Aku bahkan bukan istri putramu. Mama yang benar saja." -protes Jenni.


"Astaga Jenn, kamu ini, itu buktinya sudah ada Given padahal kalian juga bukan suami istri."


Degh ...


Jenni terdiam dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.


"Jenn, maaf, mama ... keceplosan. Maksud mama, setelah ini kalian akan menikah. Lalu ciptakan adik untuk Given." -memberi pelukan.


"Jenn, apa kamu tahu penyesalan terbesar saya? Sebagai pasangan, saya dan mendiang papa itu sangat sibuk dengan pekerjaan. Walaupun kami saling cinta, tapi kami hanya mendapatkan Mario. Kami sepakat memiliki hanya satu anak karena mementingkan pekerjaan. Lihatlah sekarang. Kamu jadi tidak punya adik ipar, kan."


"Ma ... sudahlah. Jangan bersedih." -mengurai pelukan.


"Mama sangat menyesal karena ayah-nya Given tidak memiliki saudara. Memang, ada yang namanya sepupu, tapi itu berbeda, kan."

__ADS_1


"Iya, Maa. Aku mengerti. Tapi, aku takut menjadi istri. Aku ... takut, suatu saat suamiku berpaling seperti yang dilakukan papa ... dan ... aku berubah menjadi gila seperti mama-ku. Itu sangat menakutkan, Ma!" -Jenni kembali mengingat kedua orang tuanya membuat hatinya kembali bersedih.


"Sssuuuut. Jangan pikir itu, sayang. Tidak akan. Itu tidak akan menimpamu. Sekali pun tidak akan pernah." -mengusap punggung belakang Jenni, memberinya sedikit ketenangan. Akhirnya, keduanya menangis bersama.


.


"Waaaa. Apa kalian berdua habis nonton drama melow? Kenapa menagis?" Mario, yang baru saja masuk, dengan santainya membuat lelucon. Pria itu bukannya tidak tahu apa yang sedang menjadi topik dua wanita itu. Justru karena ingin menghibur, maka dirinya mengatakan hal konyol itu sembari berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil jaket.


Di dalam mobil.


Jenni, Given dan Mario tentu saja sedang dalam perjalanan menuju pemakaman. Hanya ada kebisuan diantara ketiganya, hingga membuat Given merasa bosan, karena dirinya duduk sendirian di kursi belakang


"Dad, Mom, apa masih jauh?" tanya anak itu memecah keheningan.


"Tidak sayang. Sebentar lagi." jawab Mario.


Mobil berhenti mengikuti isyarat lampu merah yang sedang menyala.


Given muncul ditengah daddy dan mommy, merangkul keduanya dengan tangan kecilnya. "Dad, mom, kiss me please!"


"Oke sayang."


Cup.


HAPPPP. Given membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan dan matanya yang melebar. Anak itu berhasil membuat bibir daddy dan mommy-nya saling bertemu. Persis seperti ajaran sang grandma.


Deg deg


deg deg


deg deg


Jenni dan Mario sama-sama melebarkan bola mata, terkejut menyadari apa yang sedang terjadi.


'Uppsss apa ini?' batin keduanya. Sudah pasti Jenni menarik tubuhnya lebih dulu.


"Givennnnnn! Apa-apaan kamu?" kesal Jenni, membalikkan tubuh menatap tajam anaknya itu. Given hanya tertawa girang sambil bertepuk tangan.


Sedangkan Mario, pria itu terlihat seperti habis memenangkan tander senilai ratusan milyar. Tersenyum dengan sangat jelas, namum mengalihkan perhatiannya pada isyarat lampu.


"Givenn, awas ya, mama hukum kamu saat di rumah.


"Hehehe." anak itu malah cengengesan.


"Given happy, sayang?" tanya Mario kemudian, melihat wajah anaknya melalui kaca spion.


Anak itu mengangguk dan menjawab "Very Happy, Daddy." - tersenyum.


Mario pun membalas senyum manis putrinya itu dan berkata dalam hati : "Sama, daddy juga happy Given!"


.


.


Bersambung....


🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2