
Maaf guys. Karena faktor jaringan, update yang kemarin double jadinya.🙏🙏🙏🙏
Happy reading ya.....😁
................
Masih di ruang kerja Mario.
"Sudahlah Ma, jangan bahas hal pribadi di kantor. Aku sedang bekerja. Berhenti menggangguku."
"Baiklah, kalau begitu mama akan bicara tegas pada istrimu. Dia harus jadi istri yang baik. Oia Mario, mama akan rekrut isterimu untuk bekerja dengan mama."
"Ma ... tolong jangan aneh-aneh. Dia hanya perlu menungguku di rumah."
"Sorry, tapi mama membutuhkan skil-nya dia. Jenni juga setuju kok, katanya ... dia bosan dan perlu mengerjakan sesuatu." -menjelaskan dengan penuh semangat.
Sementara Mario, pria itu sibuk berpikir bagaimana cara menghentikan wanita paruh baya ini, yang tak berhentinya mengganggu ketenangan. "Bukannya aku tidak ingin dia bekerja, Ma ... tapi .. bagaimana kalau tangannya patah lagi? Sudahlah, aku tidak mau dia lelah." -sembari menyibukkan diri dengan menandatangani dokumen di depannya.
"Chhh, lelah? Dia lelah atau tidak juga sama saja, dia tidak mengerjakan tugasnya sebagai istri sesungguhnya. Dan memangnya kamu pikir mama memperkerjakan dia sebagai apa? Kuli bangunan? Tangannya tidak akan patah hanya karena membuat rancangan."
"Ma ... jangan bilang begitu. Gitu-gitu, aku sayang. Dia hanya butuh waktu agar tidak tertipu lagi olehku. Biarkan saja dia, yang penting, aku bisa melihat dia dan Given setiap hari, itu sudah bagus.
Tunggu! Apa mama bilang? membuat rancangan apa?"
Mama terlihat tambah terheran, mengetahui putranya tidak tahu akan keahlian sang istri. "Dia itu jago fashion desigh. Mama suka itu."
"Benarkah? Oke, dia boleh bekerja asalkan minta izinku dulu." -Mario tersenyum kecil.
.........
Tepatnya di kamar executive suit salah satu hotel berbintang 5 yang terletak di pusat kota Seoul. Stefan beserta anak istrinya baru saja tiba setelah melewati perjalanan cukup panjang. Ketiganya kini berbaring dengan posisi terlentang di atas bed king size yang terasa sangat nyaman, tidak berbeda dengan empuknya tempat tidur di kamar pribadi di kediaman mereka.
Mungkin karena lelah, Arsen pun tertidur.
"Sayang, ayo kita tidur dulu, istirahat. Mumpung anak ini sedang tidur."
"Gina, mumpung dia sedang tidur, bagaimana kalau kita berdua ... enak-enak? Hmmm?" -mulai memainkan tangan pada bibir istrinya.
"Jangan macam-macam. Bagaimana kalau dia bangun?"
"Tidak akan sayang, makanya jangan ribut. Diam-diam saja. Biarkan Arsen di kamar ini. Kita bisa melakukannya disana dan menutup pintu." -melirik ke arah pintu.
"Dasar kau ini, untung aku cinta, jadi oke dah, tapi gendong aku keluar sayang!" - bersikap manja mengulurkan tangan.
"Baik," -mengangkat tubuh Gina sampai di sofa dan mendudukkan istrinya itu diatasnya.
"Energiku sudah digunakan untuk menggendongmu. Sekarang giliran kamu yang bekerja. Ayo, puaskan aku sekarang."
"Sssssh, dasar! Banyak alasan."
Mereka pun melakukannya dengan diam-diam, suara yang biasanya dilepas, kali ini ditahan sebisa mungkin agar tidak ketahuan oleh si jagoan kecil yang tengah bobo ganteng.
__ADS_1
...........
"Namamu adalah Helena, benar?"
Helena pun mengangguk membenarkan. Ia telah bersiap mendapatkan perlakuan kasar dari dua wanita yang tampak tegas ini, namun ternyata ia keliru. Yang ia hadapi adalah sikap elegan yang sangat terpuji.
"Helena, tolong tinggalkan apartemen ini. Kau boleh menjualnya, tapi pergilah kemana putraku tidak lagi bisa melihatmu."
"Nyonya, tapi saya ..."
"Lee terlihat bahagia bersama istri-nya Helena, ini adalah kebahagiaan besar dalam keluarga kami, melihat dia kini hidup di jalan yang benar. Kuharap, kamu sebagai wanita, tidak mungkin tega menyakiti perasaan perempuan lain kan?"
Helena hanya diam, bingung mau berkata apa. Dalam hati ia ingin mengatakan bahwa dirinya kini tengah mengandung keturunan pria itu, tapi ... perasaan takut seketika menghantui. Ia takut jika dua wanita ini bisa saja berbuat nekad padanya. Helena bisa melihat, ada aura kebencian besar kepada dirinya yang tidak mereka tampakkan.
'Aku akan mengikuti kamauan mereka, tapi... setelah anak ini lahir, aku akan beritahu Lee. Dia harus tahu bahwa dia adalah ayah dari anakku.'
"Baiklah nyonya, saya akan pergi dari sini."
"Bagus, aku akan mencari pembeli tempat ini. Hasil penjualannya semua untukmu, anggap saja sebagai kompensasi."
Helena pun, mengangguk.
..............
Kediaman Mario. Pria itu tiba di rumah saat waktu sudah menjelang malam. Seperti biasa, Given menyambut kepulangannya dengan wajah ceria serta memberi dan menerima kiss tanda sayang.
"Dimana Mommy?" tanya Mario, berbisik.
"Di kamar. Siapkan baju ganti Daddy."
Ceklek,
Mario membuka pintu kamar dan ternyata benar, Jenni disana. Sepertinya, wanita itu baru selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang basah dan sedang ia keringkan, tak lupa, wanita itu masih mengenakan bathhrobe alias jubah mandinya, yang terlihat kekecilan.
'Ada apa dengannya? Apa dia sengaja terlihat seperti itu di depanku?' segera Mario usir pikiran kotornya. 'Itu tidak mungkin. Dia pasti tidak segan membunuhku jika menyentuhnya.'
"Kamu sudah pulang?" Jenni sekedar menyapa, terlihat seperti biasa, kaku. Beda hal jika sedang berdebat, wajahnya benar-benar terlihat penuh ekspresi. Memang, adu mulut dengan Mario, sudah jadi kebiasaan belakangan ini.
Untuk itu, Mario lebih memilih diam tanpa menyapa atau sekedar basa basi. Baginya, berada di atap yang sama, menghirup udara yang sama dengan Jenni, adalah hal yang patut ia syukuri.
'Dia terdengar sedikit ramah kali ini,' -batin Mario.
Di kamar Given.
Sudah jadi kebiasaan anak perempuan kecil itu, tidur bersama sang ayah dan seperti yang terjadi sebelumnya, Mario akan membacakan dongeng untuk pengantar tidur putrinya itu.
"Dad, Given rindu kakak Arsen."
"Yaaaa? Heeii. Given tidak perlu merindukan kakak. Kakaknya pasti tidak merindukan Given."
'Aduuuh, bicara apa aku? Apa putriku akan sakit hati?'
__ADS_1
Tok tok tok,
Ceklek, pintu terbuka.
"Mommy?"
"Apa mommy mengganggu kalian?" -Menghampiri keduanya dan ikut bergabung di atas tempat tidur, membuat ayah dan anak itu saling menatap.
"Boleh kok, mommy disini, ya kan Dad?"
"Tentu saja Given," -jawab Mario, datar , tanpa melihat ke arah istrinya.
.
.
Setelah bocah perempuan itu tertidur, Jenni pun memulai pembicaraan. Tentu saja kedatangannya ke kamar ini karena ada maksud.
"Mario, ada yang ingin aku bicarakan."
"Apa itu?"
"Aku... ingin meminta izinmu untuk bekerja di kantor mama."
"Oh, apa kau yakin akan bekerja? Tanganmu sudah benar-benar sembuh?"
"I ...iya!"
"Boleh, bekerjalah. Tapi ... tidak boleh terlalu memaksakan diri. Kau baru saja sembuh."
Terlihat senyum kecil pada sudut bibir Jenni, merasa senang mendapatkan izin dari Mario. Ia pun kembali mengingat hal lainnya lagi yang dikatakan oleh sang ibu mertua, bahwa ia harus jadi istri yang baik. Melayani suami misalnya.
"Ada lagi Mario, emmmm."
"Apa itu bicaralah." -berkata tanpa menoleh. Pasangan itu masing-masing menatap langit-langit kamar.
"Itu ... mama bilang, aku ... harus jadi istri yang baik."
"Kau sudah sangat baik Jen, tidak melakukan tindakan kriminal."
"Aku ... berpikir mama benar, aku ... harus layani kamu ditempat tidur juga." -dengan ekspresi datarnya.
"Apa?" -menoleh. "Kau tidak perlu melakukannya jika hatimu tidak ingin. Mama hanya ingin melihat kita menjadi suami istri sesungguhnya. Tapi, pelan-pelan saja. Kau tidak perlu buru-buru hanya karena permintaan mama. Ikuti kata hatimu."
'Tapi kalau boleh, jangan terlalu lama. Aku sudah tidak sabar melihat Jenni yang dulu. Jenni yang ceria, hangat dan selalu menginginkanku.' -batin.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Selamat 1 Muharam guys.
Tetap jaga kesehatan ya🥰