
Hai ...! Bagi kalian yang merayakan, othor mau ngucapin "Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H"
🙏God Bless you guys🥰
Lanjut yuk!
............
Tak ada basa-basi barang satu katapun antara Mario dan Jenni. Mario yang tidak ingin merusak suasana hati Jenni, hanya diam bersabar. Karena ia tau, kehadirannya tidaklah baik untuk mood Jenni yang sedang kurang sehat. Tidak bukan hanya kurang sehat, wanita itu benar-benar sedang tidak sehat. Apa lagi hati-nya.
Mungkin karena lelah dari jalan-jalan bersama, ayah dan anak itu kini tertidur sambil berpelukan di atas sofa di ruang yang sama dengan Jenni.
Lama memandang wajah tenang Mario yang sedang tidur, Jeni kembali memutar memorinya ke 5 tahun yang lalu.
Saat itu dirinya menerima telepon dari ibunya yang sudah mengalami gejala stress berat. Omongan sang mama yang ngelantur kemana-mana membuat Jenni terpaksa mengeluarkan kalimat yang menyatakan bahwa dia sangat beruntung punya teman yang kaya dan sebaik Stefan dan memiliki Mario sebagai pacar yang selalu memenuhi semua kebutuhannya. Perkataan itu tentulah membahagiakan sang mama yang pikiranya sudah menyimpang. Bahkan sang mama saat itu memintanya memanfaatkan pria-pria kaya itu.
Jika pikiran wanita itu masih normal, kala itu ia tidak akan mengajarkan putrinya menjadi wanita hina seperti wanita yang telah merebut suaminya.
Setelah bicara dengan sang mama, Jenni melihat Mario yang tak jauh darinya, namun pergi begitu saja, seperti tidak melihat Jenni.
Jenni pun mengira-ngira, apa tadi kekasihnya mendengar pembicaraan itu? Tak ingin berburuk sangka, Jenni tetap berpikir tenang. Namun, lambat laun, Mario kian menjauh. Tidak lagi perhatian seperti biasa dan semakin tak terlihat.
Sampailah saat Jenni mengetahui kehamilannya, ia pun nekad menemui Mario. Disitulah Mario menghinanya terang-terangan bahkan tidak ragu meminta Jenni membuang Given yang baru saja tumbuh di dalam rahim. Lalu pria itu pun keluar dari kampus untuk pindah kuliah dan meninggalkan Indonesia karena sakit hati pada Jenni.
'Kenapa hidup mempermainkanku begini? Papa yang berselingkuh lalu mati meninggalkan hutang perusahaan, bangkrut, mama tiba-tiba hilang akal sehat, aku yang menjadi wanita murahan yang berhubungan intim dengan pacarku sebelum menikah, ditinggalkan saat sedang hamil, diminta menggugurkan kandungan. Kenapa semuanya menimpaku? Kenapa? Apa aku sekuat itu untuk menerima ini semua? Tidak. Aku tidak kuat. Aku ... sangat sakit.'
Kala itu Jenni menangis semalaman dan keesokan harinya, ia mendapat sedikit kelegaan.
__ADS_1
Flash back off.
'Dia terlihat sedikit manusiawi sekarang, heh ... dia pasti merasa iba melihat kondisiku yang sangat kacau ini.' Jenni membatin.
.....
Beberapa hari kemudian. Waktunya Jenni boleh pulang dari Rumah Sakit dan itu membuat Given sangat senang. Apa lagi, anak itu sudah tidak pernah menyaksikan sangat daddy berbicara dengan nada sinis pada Jenni, ibunya. Memang, kedua orang tuanya itu tidak pernah terlibat obrolan akrab, tapi ... yang Given lihat, daddy sudah tidak marah-marah lagi pada mommy.
"Waaaa, mama-nya Given sudah boleh pulang dari rumah sakit, nenek sangat senang Given pulang ke rumah nenek lagi, sayang." Park Yoora menyambut kepulangan Mario, Jenni dan Given, dengan hebohnya memeluk gemes sang cucu yang beberapa hari tidak ia jumpai karena banyak urusan pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Given, minta daddy menggendong mommy kedalam." bisiknya kemudian, ke telinga anak kecil itu.
Melihat sang ibu sudah berdiri dengan alat bantu jalan sebagai penyanggah, Given lalu berkata. "Daddy, gendong mommy Given."
"Ya? Ow!" -melirik Jenni sekilas.
"Mommy bisa jalan sendiri Ven." sahut Jenni.
"Ya ... hujan, mommy Given jadi basah deh, ayo glendma kita masuk." -Given menyeret tangan sang nenek.
"Dari pada kau kebasahan, nurut saja kata anak itu." -akhirnya Mario menggendong Jenni.
"Hei ... turunkan aku."
"Sabarlah. Aku tidak berencana menggendongmu selamanya." -meneruskan langkahnya.
"Hiiisss. Turunkan sekarang."
__ADS_1
"Jangan banyak bicara atau aku akan membantingmu ke lantai keras ini."
"Apaa?"
"Diam." -masuk ke kamar.
"Kenapa membawaku ke kamarmu?"
"Memangnya kenapa? Begitu tiba di Seoul, status kita sudah jadi pasangan sah sebagai suami istri."
"Apa? Bicara apa kau?"
"Istirahatlah disini. Aku akan bersama Given di kamar sebelah. Kalau ada apa-apa, tekan tombol itu dan semua orang akan mendatangimu."
"Kau ini kenapa? Lebih baik aku yang bersama Given."
"Tidak. Aku saja. Kau sudah bersamanya selama 4 tahun hidupnya, tanpa aku." -pergi dari kamar membawa tongkat milik Jenni.
"Mario, kau kejam. Kembalikan itu."
Pria itu malah menutup pintu dengan santainya.
"Dasar pria gila. Apa dia ingin menguasai hidupku?"
.
.
__ADS_1
Bersambung...
ya... double up🤭