
"Ehmmm! Given, apa masih tersisa sarapan untuk uncle?" -Tommy beralih menyapa gadis kecil itu.
"Yah... habis uncle!"
"Waaah, gimana nih? Uncle Tom lapar!" -Memgelus perutnya. "Maukah Given keluar sarapan bersama uncle?"
"Oke uncle!" -keduanya pun, pergi. Pergi begitu saja tanpa pamit pada Jenni - Mario yang sedang pada posisi saling menatap tajam.
"Mario, lepaskan aku."
"Hei, kau yang memelukku Jenn."
"Itu karena kau menahan lenganku!."
"Oke, aku akan lepas. Tapi, jangan pernah lagi bertingkah seperti tadi."
"Mario, kau ... cemburu?" -dengan mata menyelidik.
"Aku tidak senang kalau istriku bersikap hangat pada pria lain. Menurutmu apa? Itu cemburu atau bukan?" -mendekatkan wajah.
"Aaa, Mario, kau tidak perlu repot-repot merasa cemburu. Tommy adalah teman baikku. Lagi pula, kita berdua ...-"
"Kita apa? Mau bilang kita berdua bukan pasangan? Aku suamimu, kamu istriku! Jenn, ...Tommy itu pria normal. Dia bisa salah sangka dengan sikap manismu."
"Mario, lepaskan!"
"Janji dulu,"
"Iya, aku janji!"
"Pintar!" -mengacak rambut Jeni, gemas. Lalu pergi.
"Mario," panggil Jenni pelan.
"Ya? Ada apa?" -Mario berbalik.
"Terima kasih."
"Untuk?"
"Aku tau setiap malam kamu memberi penghangat pada pergelangan kakiku. Kaki-ku sekarang sembuh. Terima kasih atas perhatianmu." Menunduk.
"Oh, jadi kau tau? Kau sedang tidur saat aku memberi kakimu terapi. Bagaimana kau tau?"
"Aku tau. Karena aku terkadang terbangun."
"Berarti, kau tahu, apa lagi yang aku lakukan selain itu?"
"Ya? Selain itu? Apa lagi?" -Tanya Jenni dengan wajah polos.
"Yang kulakukan selain itu adalah ...-" -Mario kembali mendekat.
Dekat...
Dekat...
Semakin dekat.
Cup.
"Mario!" - Jenni terkejut mendapat kecupan singkat di kepalanya.
"Itu yang aku lakukan setiap malam." -dengan wajah cool menaikkan sebelah alis. "Benarkah tidak tahu aku melakukan itu?" -mengangkat dagu Jenni.
"Aku tidak tau." -Jenni menggeleng cepat.
"Benarkah tidak tahu?" -dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Kau, apa yang kau lakukan? Beraninya berbuat itu padaku?" -Protes.
"Terserah kau saja, silahkan marah. Aku berhak melakukan apapun pada istriku."
"Mario, kau ...!"
"Bahkan aku berhak melakukan yang lebih dari itu, Jenn. Tapi ... aku menahannya, karena kamu masih menolakku. Tapi tak apa, aku ... akan menunggumu."
"Mario ...!"
"Sssuuuut, jangan katakan apapun lagi. Jangan mencoba menghentikan aku! Ini keputusanku. Aku, akan melanjutkan perasaan cintaku yang dulu sempat tertunda."
"Mario ..."
"Biarkan aku mencintaimu sendirian. Kau tidak perlu buru-buru membalasnya. Aku menganggap ini sebagai hukuman yang harus aku terima, karena sudah pernah menyakitimu."
"Mario, kita, ...-"
"Aku tahu, kamu ... sudah lama menganggapku mati. Ya kan? Kau mengatakan pada semua orang bahwa ayah putrimu sudah meninggal. Jen, aku mengerti, kau sangat membenciku. Aku akan menghargai itu sebagai balasan dari kejahatanku yang dulu." -kemudian, pergi. Meninggalkan Jenni yang diam mematung, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Baik Jenni, maupun Mario tidak menyadari, ada mama Park yang sedari tadi datang dan mendengar serta melihat interaksi keduanya. "Mario-ku, mama bangga padamu, kamu ternyata benar-benar menyadari kesalahanmu. Jenni, ya ... aku harus bicara dengannya. Dia menantu aku satu-satunya. Dia harus benar-benar menjadi istri Mario."
Tap tap tap!
Jenni menoleh kearah suara langkah seseorang.
"Maa, mama datang?"
"Hai Jenn, bagaimana keadaanmu?"
"Sudah baikan Ma."
"Jen, mama ... ingin meminjam Given."
"Mak...sudnya?"
"Berlibur? Kemana?"
"Ke paulau Jeju."
"Jeju? Emmm, terserah mama. Kalau Given ingin ikut, silahkan."
"Oia, dimana Mario?" -memutar pandangan ke segala arah.
"Oh, dia ... di kamar."
"Kalau begitu, ayo.ke atas, kamu siapkan pakaian Given, mama akan bicara dengan Mario. Semoga dia mengizinkan putrinya ikut dengan mama."
.
Tiba dikamar, mama menutup pintu dan menghampiri Mario yang sedang bersiap berangkat untuk bekerja.
"Ma, ada apa? Kapan datang? Wajah mama terlihat tak biasa?"
"Mario, Mama ingin membawa pergi Given untuk beberapa hari."
"Ya? Ma ... mau dibawa kemana?"
"Hei, dengar Mario, mumpung tidak ada Given, kau punya waktu luang berdua dengan Jenni. Dapatkan hatinya lagi."
"Ma... dia istriku. Tidak ada yang perlu mama khawatirkan dalam hubungan kami."
"Mario, maaf kalau mama lancang. Tapi, mama tau hubungan kalian sangat rumit."
"Tidak rumit. Kita hanya butuh waktu."
"Mario, dengar! Kalian harus memiliki waktu berdua. Pepet terus istrimu. Dia akan luluh kalau kamu berusaha terus."
__ADS_1
"Maaaa, jangan khawatir. Tidak perlu mengajariku. Istriku tidak bisa dipaksa."
"Mama tidak memintamu memaksa dia. Mama mau kamu terus melakukan pendekatan."
Setelah puas mengatakan maksudnya, sang mama keluar dari kamar.
...........
Di kediaman Yoris.
Arsen terlihat sedih karena akan berpisah dengan Jem. Tidak hanya Arsen, Gina juga terlihat sedih melepas kepergian Rani, sahabatnya.
Untuk saat ini mereka dibolehkan pulang dulu ke kotanya dan akan kembali melakukan pengobatan untuk sang suami-nya Rani pada 2 bulan kemudian.
Jem juga berjanji pada Arsen akan ikut saat pamannya kembali ke jakarta 2 bulan lagi.
.
"Ya ... Jem pergi Ma, Arsen jadi tidak ada teman lagi."
"Boy, jangan sedih. Dua minggu lagi, kita akan ke Korea Selatan untuk acara ulang tahun perusahaan teman papa. Disana Arsen punya teman bernama Joon kan?"
"Papa Arsen? Ke Korea? Yang benar? Apa aku juga akan ikut?" tanya Gina.
"Tentu saja Gin, nyonya Kim ingin berkenalan denganmu."
"Nyonya Kim? Siapa itu?"
"Dia ibu ya Joon. Istrinya Tuan Kim. Dia wanita yang lembut, ramah dan baik hati."
"Papa, kau terdengar sedang memuji wanita lain." -Gina memicingkan mata.
"Kau cemburu? Dia adalah mantan Miss Korea. Dia beruntung dinikahi oleh temanku, si Tuan Kim."
"Apa dia cantik?"
"Tentu saja cantik. Dia seorang wanita. Dengar, kau lebih cantik dari wanita manapun." -mencubit hidung istrinya.
"Iya, mamaku memang sangat cantik." -timpal Arsen.
Setelah mendengar kabar tentang pertemuannya dengan Joon dua pekan lagi, Arsen terlihat kembali ceria.
Karena sering ikut dalam perjalanan sang papa kemanapun, Arsen pun juga dikenalkan dengan anak-anak teman papa dari berbagai Negara. Tahun lalu adalah pertemuannya dengan Joon yang usianya lebih muda 2 tahun darinya. Sudah pasti putra Tuan Kim itu sudah tidak mengingat Arsen lagi.
.........
Di Apartemen Helena. (Seoul)
"Mr. Lee, akhirnya kau datang. Aku sangat merindukanmu!"
Helena menyambut kedatangan Lee dengan perasaan bahagia.
"Helena, mungkin ... aku tidak akan pernah lagi mendatangimu."
"Ke..kenapa?"
"Aku ... akan menikah. Aku juga akan meninggalkan pekerjaan haramku."
"Mr. Lee, tapi ... kenapa tiba-tiba? Aku tidak siap."
"Helena, kita sudah janji hanya akan menjadi teman diatas ranjang."
"Tap...tapi, bagaimana nasibku setelah ini?"
.
.
__ADS_1
Bersambung.....