Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Dia Mati Rasa?


__ADS_3

"Papa Arsen, sini biar aku membantumu."


Dengan penuh semangat disertai senyum tak bersalah, Gina menawarkan diri untuk mengeringkan rambut Stefan yang terlihat masih basah setelah mandi. Sementara Stefan, pria itu masih brakting seolah masih marah, hanya diam menerima perlakuan baik dari Gina.


Dari bahasa tubuhnya, Gina sengaja menempel pada suaminya dan dapat terlihat bahwa Gina berusaha menggoda suaminya itu, namun sepertinya tidak berefek apa-apa bagi Stefan.


'Dia benar-benar masih marah. Dia bahkan tidak tergoda dengan sentuhanku. Tunggu! Apa aku harus menyerangnya dengan tubuh polos?' Rencana liar sedang terpikirkan oleh Gina, namun segera ia tepis karena tersadar saat ini adalah pagi hari dimana suaminya akan segera berangkat kerja.


"Papa Arsen," Karena suaminya itu bahkan tidak mengatakan apapun setelah Gina bersikap baik, Gina kembali bertingkah lebih berani. Ia menahan tangan pria itu lalu memeluk pria itu. Kali ini tidak dari belakang, melainkan dari depan. Berharap mendapat balasan pelukan juga.


"Ayo seperti ini setiap pagi, mulai sekarang. Sebelum berpisah di pagi hari, kita harus seperti ini."


"Kenapa? Kamu berusaha membuatku berhenti kesal?"


"Bukan. Tapi aku sedang berusaha membuat kamu jatuh cinta padaku." semakin mengeratkan pelukan, tak peduli.


"Sudahlah! Aku akan terlambat ke kantor."


🙄'Apa dia mati rasa?'


Gina terpaksa melepas pelukannya.


..........


DNA menunjukka bahwa Given dan Rio benar adalah ayah dan anak. Akan tetapi, Rio saat ini masih betah tinggal di apartemennya. Jenni sudah bulatkan tekad untuk pergi. Ia pun berpamitan pada wanita baik yang terlihat sangat tulus menyayangi dirinya dan juga Given itu.


"Ma, aku ... harus bawa putriku pergi. Maaf, aku tidak bisa bertahan."


"Sayang, jangan. Bertahanlah sebentar saja. Mama yakin Rio akan sadar dan menerima keberadaan kamu Jen, tolong jangan pisahkan mama dari cucu mama Jen,"

__ADS_1


"Mom, Given mau Daddy. Jangan bawa Given tinggalkan daddy, Mom."


"Kalau begitu, tinggallah bersama Grandma dan daddy, mommy akan pergi." Jeni menarik kopernya, melangkah pergi.


"Jen, apa yang kamu lakukan? Kamu tega meninggalkan putrimu?"


"Mom ..." Given berlari mengejar ibunya. Kini anak itu menangis menahan kaki ibunya itu, agar tidak pergi. "Jangan pelgi Mom,"


Tin tin.


Sebuah mobil memasuki halaman, yang datang tak lain adalah Orlan Mario.


"Daddy ..." baru saja Mario turun dari mobil, Given sudah berlari ke arahnya. Anak itu sepertinya sedang kebingungan akan situasi.


"Hei, jangan lari-lari sayang," Mario menggendong anak itu. "Daddy, I miss you."


Entah sudah berapa kali Given mengatakan itu. Mulut kecilnya selalu saja mengatakan "I love daddy, I miss you daddy." sejak pertama mereka bertemu.


"Aku titip Given. Mungkin disini dia akan hidup lebih baik, dari pada ikut denganku."


Setelah mengatakan itu, Jenni kembali menarik kopernya. Sementara ibu dari Mario hanya bisa menahan tangisnya dari arah pintu.


"No ... no ... Mom," Given meronta dari gendongan ayahnya, dan kini kembali kaki kecilnya mengejar kepergian Jenni. "Mom, don't leave me, please!" Lagi-lagi anak itu menangis.


"Dad, panggil Mommy, please" Anak itu seperti orang kebingungan, bergantian menatap Jenni dan Rio.


"Jen, apa kau tidak kasihan mendengar tangisan putrimu?" Mario tiba-tiba berteriak kesal karena menilai Jenni bahkan tidak memperdulikan tangisan Given memanggilnya.


Jeni terpaksa menghentikan langkah, berbalik menatap putrinya yang hanya menangis ditempat.

__ADS_1


Anak itu takut jika Jenni akan membawanya pergi dari ayahnya, disisi lain, ia juga tidak ingin terpisah dari ibunya. Untuk itu, ia memilih menangis dengan nyaring di antara ayah dan ibunya itu . Berharap, semuanya akan baik-baik saja.


Ya, kini Jenni kembali mendekati putrinya itu.


"Given, lihat mommy. Saat Given sudah puas bersama daddy, Given bisa pulang ke rumah kita. Mommy akan tunggu Given disana. Ya?"


Tangis anak itu semakin pecah mendengarkan perkataan mommy-nya. Ia kembali menggeleng kuat sebagai jawaban (tidak).


Anak itu pun menoleh ke arah pria yang beberapa hari ini ia ketahui sebagai daddy-nya. Pria itu hanya mematung ditempatnya tanpa mendekat ke arah Given, seperti yang dilakukan mommy-nya, yang mana membuat anak itu merasa sedih. "Dad, I love you." ucapnya lagi, dengan air mata yang terus menetes.


BRUK


Jeni dan juga Rio terkejut karena tiba-tiba Given ambruk, jatuh pingsan.


"Given. Kenapa? Sayang, bangun." Jeni menepuk-bepuk wajah anak itu, untuk membangunkannya.


Terlihat sang nenek pun berlari karena melihat hal itu. Ia juga tidak berhenti memanggil-manggil nama anak itu.


"Ayo, kita bawa dia ke rumah sakit."


Rio berlari menggendong putrinya itu masuk ke mobil dan juga di susul oleh Jenni dan sang mama.


'Given, maafkan daddy. Tolong jangan sakit sayang, jangan kenapa-kenapa. Daddy janji akan menyayangi kamu. Tapi ... maaf, tidak untuk mommy kamu.


.


.


Bersambung

__ADS_1


🥰


__ADS_2