Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
I Hate Daddy


__ADS_3

(Buang Anak itu. Kau tidak pantas mengandung anakku. Kau hanya wanita miskin. - Kenapa kau tidak menggugurkan anak itu? Jangan pernah bermimpi jadi istriku. kau hanya parasit dalam hidupku).


Perkataan menghina yang pernah terlontar dari mulut Mario itu, kembali muncul dalam ingatan Jenni, secara acak.


Pelukan hangat yang ia terima dari lelaki angkuh itu saat ini, benar-benar terasa menyesakkan.


Dengan pelan ia mendorong tubuh Mario, memberi kesan bahwa diri menolak perlakuan itu. "Tolong jaga sikap. Kita tidak sedekat itu untuk bisa memeluk satu sama lain."


Degh.


Mario seketika merasakan sakit dihatinya atas penolakan tanpa basa-basi itu.


'Kenapa aku merasa sangat terhina?'


Jenni pun memutar tubuhnya menghadap pintu ruang rawat-nya.


"Biar aku bantu ya," -kembali Mario mendekat dan menyentuh pinggang wanita itu, benar-benar ingin membantunya berjalan agar tetap aman, tidak lebih.


Jenni menghantikan langkah lalu menepis tangan Mario. "Kaki-ku memang sakit. Tapi aku bisa berjalan sendiri." -melanjutkan langkahnya.


'Dasar keras kepala.'


Tiba di dalam. Jenni kembali ke atas tempat tidurnya dengan susah payah, namun terlihat baik-baik saja. Meskipun menahan rasa perih, namun ia tetap berusaha sendiri. Rasanya sangat tidak sudi terlihat susah di depan pria congkak seperti Mario.


"Jen, ini ... makanlah" membawa beberapa kotak makanan dan menaruhnya diatas overbed table (meja makan pasien).


Melihat itu membuat Jenni tersenyum kecut. Mungkin wanita itu sedang menertawakan dirinya sendiri di dalam hati. "Jadi dia tau aku ingin memakan makanan enak?"


"Aku ingin makan sesuatu yang lezat. Bukan makanan beracun."


"Yah? Jenn! Kau mengira aku akan meracunimu?"


"Ya mana aku tahu, bisa saja kan,"


"Baiklah jika menganggap ini beracun, aku yang akan memakannya." tanpa basa-basi, Mario pun memakan itu.


"Setiap menu. Jangan cuma yang itu-itu saja. Belum tentu menu yang lain tidak beracun."


"Baik, Akan aku makan semuanya." Mario lalu berpindah ke menu selanjutnya dan mencicipi setiap menu seperti yang di perintah oleh Jenn. 'Jika kebetulan makanan ini beracun, dia bahkan tidak peduli jika aku keracunan?'


"Stop! Aku hanya memintamu memastikan itu tidak beracun. Karena kau terlihat baik-baik saja maka aku akan memakannya." -menarik meja agar mendekat padanya.


Melihat makanan kesukaannya itu berada tepat di depan matanya saat ini, seketika melintas ingatan beberapa tahun yang lalu. Ini adalah semua favoritnya yang ternyata masih di ingat oleh pria itu. Bisa dibilang, setelah kebangkrutan orang tuanya, Jenni tidak lagi bisa memakan makanan ini. Tapi, setelah kehadiran Mario, dia jadi bisa kembali memakan makanan apapun. Jenni pun memulai untuk makan.


"Jenn, biar aku suap ya,"


"Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri."

__ADS_1


Kejudesan Jenni tak mengurungkan niat Mario untuk kembali berbaikan lagi dengan wanita itu.


"Jenn, apa ada sesuatu lagi yang kau inginkan? Aku akan membuatnya ada."


Degh.


'Pria ini belum berubah sama sekali.'


"Dulu kau pernah mengatakan kalimat itu. Aku tidak ingin mendengarnya lagi."


"Jenn, aku tulus!"


"Dulu, kau juga terlihat tulus. Kau memberikan semua yang aku inginkan," - menatap mata Mario. "Setelah itu kau membuangku seperti sampah dan menghinaku."


"Jenn, untuk itu semua, aku-"


"Kau ingin mengulangnya lagi? Apa hatiku ini mainan? Aku memang miskin, tapi aku juga merasa sedih jika dihina. Apa lagi penghinaan itu datang dari kamu, orang yang saat itu sangat aku cintai."


Mengucapkan itu kembali menyayat hati Jenni. Membuat air mata wanita itu turun dengan sendirinya.


"Jenn, ayo bahas ini bersama dengan kepala dingin. Aku tahu kamu kecewa. Tapi,-"


CEKLEK


Pintu terbuka.


"Given, kamu sudah puas bermain dengan kakak?"


Jenni mengalihkan pembicaraan dan anak itu hanya mengangguk.


"Mom, kenapa mommy menangis? Apa Daddy sakiti mommy lagi?" Menatap polos wajah ibunya. Lalu bergantian memandang wajah Mario yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan tajam.


"Dad, I hate you!" -kini menatap sendu.


Mario merasa seakan kedua kakinya bergetar. Ia pun menyamakan tingginya dengan anak itu. "Given, jangan bilang begitu. Ini Daddy Given," -menunjuk dirinya sendiri.


"No! I hate you. Given tidak butuh daddy. Daddy ga sayang mommy. Daddy jahat! Pelgi! Pelgi .. !" -mendorong paksa tubuh Mario hingga menjauh dari Jenni.


Anak itu kembali ke arah Jenni dan duduk di atas kursi, menyentu tangan sang ibu dengan hati-hati sambil menatap wajah ibunya dengan tatapan bersalah. "Momm, I'm sorry. Momm, ayo pelgi, tinggalkan daddy."


'Ya Tuhan, kenapa putriku terlihat sangat benci ayahnya? Apa dia berpikir Mario telah mencelakaiku?'


"Given, kamu tidak butuh daddy lagi?" Jenni menatap lekat putrinya itu.


Anak itu menjawab dengan anggukan.


"Benar tidak merindukan daddy lagi?"

__ADS_1


Kembali mengangguk dengan tatapan sedih. Mungkin, bagi bocah itu ... keamanan sang ibu jauh lebih penting dari pada harus tinggal dengan daddy yang jahat.


"Given tak apa tanpa daddy?"


"Iya," lagi-lagi memgangguk, dengan tatapan sedih dan mulutnya yang mewek.


"Tinggal hanya dengan mommy, tak apa?"


"Hmmm" -anak itu mengangguk pasti untuk kesekian kalinya.


Jenni pun merentangkan tangannya untuk bisa saling memeluk.


"I love you momm," ucap anak itu, sesegukan.


'Given, maafkan mommy karena kamu harus kebingungan seperti ini sayang.'


"Given, dia tetap daddy Given. Tidak boleh benci daddy, sayang!"


.........


Di luar ruangan. Tommy bersama Mario duduk di kursi tunggu tanpa mengatakan sepatah katapun. Tommy pun tidak tahu harus mengatakan apa kepada boss-nya itu. Satu hal yang ia sadari, saat ini Mario sedang menangis dalam diam.


'Apa yang harus aku lakukan? Jenni terlihat sangat membenciku. Putriku tidak menyukaiku. Bahkan aku adalah orang jahat dimatanya.'


CEKLEK


Pintu terbuka dan Given muncul dari sana.


"Given," tampak kelegaan di wajah Mario melihat putrinya kembali menghampirinya.


"Dad, I'm sorry."


Ucapan anak itu sontak membuat Mario menarik anak itu kedalam pelukannya.


"Given, thanks sayang!"


"Dad, jangan dekat-dekat momny Given lagi. Given sayang mommy. Mommy itu sangat kasihan."


.


.


Bersambung....


Guys, berita gembira🤭 . Dapet hadiah dari yang kuasa.


Jangan dikira tespack punya mama Arsen ya, itu adalah milik diriku🥰🥰

__ADS_1



__ADS_2