
Setelah mendengar obrolan tak mengenakkan itu, Mario segera melanjutkan langkah untuk memastikan kebenarannya. Ia pun menelpon Assisten-nya, Tommy.
[Ya, boss!]
[Tom, datang ke RSJ sekarang. Aku butuh bantuanmu disini.]
[Baik boss] jawab Tommy, tanpa banyak bertanya.
.
"Ada yang bisa kami bantu, pak?" sapa petugas pada Mario yang dilihat dari ekspresinya, pria itu sedang ingin menanyakan sesuatu.
'Yang mana harus kutanyakan lebih dulu? Keberadaan Given atau ... tentang Jenni?' Mario membatin.
"Maaf ... apa anda mengenal petugas disini yang bernama Jenni?"
"Oh, si Jenni. Ya, kenal. Tidak ada yang tidak mengenal dia. Lantas, ada perlu apa yah pak?"
"Begini, saya ... ayah dari putrinya."
"Yah?" refleks wanita ramah yang merupakan seorang perawat itu memperhatikan penampilan Mario dari kaki sampai kepala. "Tapi ... Jenni bilang, ayah dari putrinya itu sudah meninggal"
"Apa?" kali ini, Mario lah yang terlihat terkejut. "Ah ... itu tidak penting. Dimana alamat tinggalnya sekarang? Itu yang ingin aku ketahui." sambung Mario.
Perawat tersebut pun mengarahkan Mario ke petugas administrasi yang tentunya mengetahui alamat tinggal Jenni.
.......
Di kediaman Yoris.
Stefan dan Gina secara bergantian berusaha menghubungi kontak Jenni, namun wanita itu tidak menjawab. Padahal, malam ini adalah Resepsi pernikahan Stefan dan Gina yang akan dilakukan secara terbuka. Malam ini juga, Status ibu kandung Arsen akan di ungkap ke permukaan.
Karena tidak bisa terhubung dengan Jenni, maka keduanya berinisiatif memgirimkan pesan teks. Berharap, wanita itu akan membacanya dan dapat hadir seperti yang telah mereka bicarakan.
"Uncle, kenapa Mommy Given belum datang?" tanya gadis manis itu lagi untuk kesekian kalinya.
"Hei, apa kamu sangat merindukan mommy kamu?" tanya Arsen.
"Tentu saja," jawab Given, singkat.
__ADS_1
"Ya udah, pinjam mama aku ajah," saran Arsen.
"Tapi Given sudah pinjam onty hari ini. Apa masih boleh?"
"Tentu boleh. Tidurlah dengan mama aku malam ini. Jangan denganku. Nanti kamu jorok lagi."
"Kakak, onty bilang Given akan pakai pampers. Tidak akan jorok lagi."
"Benarkah? Oh, kalau gitu, kamu boleh bersama kakak lagi malam ini."
"Nah, gitu boy ... adiknya jangan di omel-omel lagi, ya!"
"Oke pah. Given, ayo kita main lagi," ajak Arsen. Namun, dihentikan oleh sang nenek.
"Jagoan, sekarang bukan waktunya main. Kita harus bersiap karena sebentar lagi akan mengadakan pesta. Apa kalian paham?"
Kedua anak itu pun menjawab dengan kata "oke" bersamaan. Kemudian, pelayan mengarahkan dua anak itu ke sebuah kamar untuk berganti pakaian.
Sementara di kamar lain, Gina sedang dibantu untuk merias diri oleh MUA profesional pilihan sang ibu mertua.
Tok tok tok
Ceklek.
"Pahh!" Gina menyapa walau hanya melihat ketiga orang itu dari pantulan cermin di depannya. Gina pun tersenyum.
Setelah wanita itu sudah siap, para MUA dan pelayan pun pamit undur diri dari kamar itu.
"Putriku memang sangat cantik." sang ayah mendekati Gina dan wanita itu pun berbalik.
"Terima kasih Pah, apa papa sehat?"
"Seperti yang kamu lihat. Papa sangat sehat." -menyentuh bahu Gina. "Apa suami-mu baik padamu, Nak?" tanya-nya kemudian dengan tatapan sendu.
"Iya. Dia, sangat baik, pah. Aku tidak salah memilih pendamping, kan pah?" -Gina, dengan air mata yang mulai terlihat.
"Kakakku memang hebat. Kak Stefan memang pilihan yang tepat. Aku bangga telah menggagalkan pelarian kakak waktu itu." -celetuk Nio, bercanda tentunya.
"Nio, jangan bahas itu lagi." bisik Mama, sembari mencubit lengan putranya.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita tunggu di bawah. Kamu istirahat saja disini sayang,"
"Baik pah" jawab Gina.
"Sayang, kamu sama Nio duluan ya, mama mau ngobrol dulu sama Gina."
"Iya. Aku titip putriku, sayang."
Papa san Nio pun keluar dari kamar itu dan tinggallah Gina dan Mama. Untuk sesaat, kecanggungan memguasai ruangan itu. Pada akhirnya, mama Veni mendekati Gina.
"Benar kata papa kamu, kamu terlihat sangat cantik. Lihatlah gaun ini. Sepertinya ini memang dirancang untukmu."
"I ...ya, ini memang dirancang hanya untukku. Hanya ada satu di dunia. Tidak ada wanita lain yang mengenakan gaun ini, selain aku. Bukankah ibu Mertuaku sangat baik? Dia adalah ibu dari suamiku dan bukan istri papa-ku. Tapi dia mau baik dan menerima aku dalam hidupnya."
Mendengar itu, mama Veni lalu ambil sebelah tangan anak tirinya. "Gina, maaf untuk semua kesalahan saya."
Gina hanya tersenyum kecil dan berkata dengan lembut.
"Mah ... aku tidak tahu, saat ini mama tulus atau tidak. Sejak aku masih kecil, mama hadir menjadi mama sambung untukku. Aku pun tidak pernah berangan-angan seorang ibu tiri akan tulus padaku. Yang aku harap dari mama, meskipun tidak menginginkanku, tapi ... jangan pernah menjahatiku. Hanya itu yang aku inginkan dari mama sejak dulu."
Perkataan Gina sontak membuat mama Veni merasa kakinya peluh seketika, ia pun berlutut di hadaoan Gina dengan wajah tertunduk.
"Jangan begini. Berdirilah ma. Yang aku maksudkan adalah ... mama jangan pernah bermimpi sedikitpun untuk membuat keponakan mama menggeser posisiku di tempat ini. Mama tahu, aku adalah menantu kesayangan. Aku sangat bahagia. Tolong jangan merusak kebahagiaanku. Aku sudah membagi papa-ku dengan ikhlas. Sekarang, aku ingin memiliki suamiku seorang diri. Aku tidak ingin berbagi dengan Helena. Apa mama bisa mengerti?"
Mama pun menggeleng dengan wajah sedih. "Gin, itu tidak akan terjadi, hmm? Demi papa kamu, mama tidak akan melakukan itu. Mama janji Gin,"
"Ya ... aku percaya. Memang seharusnya mama memihakku daripada anak orang lain."
Gina pun memberi pelukan hangat kepada ibu tirinya. Mungkin ... ini pertama kalinya bagi kedua orang itu terlihat seperti ini.
"Gin, maukah kamu menerima mama lagi mulai sekarang?"
Gina hanya memgangguk. Kali ini rasanya sangat ingin dirinya menangis, tapi ini bukan saatnya.
"Rawat papaku dengan baik, itu membuatku bahagia dan tenang. Setelah ini mama harus ingat, anak papa bukan hanya Nio, tapi juga ada aku."
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ....