Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Menikahi Dia


__ADS_3

Pada waktu dini hari. Karena hari ini akan kembali berhadapan dengan dunia kerja di kantor, Mario bangun lebih pagi. Tambah lagi, berkas untuk pendaftaran pernikahannya sudah siap, jadi ... pria itu terlihat lebih bersemangat.


"Apa dia sudah bangun? Ayo kita ke kamarnya." Entah kenapa, terselip rasa khawatir akan wanita itu.


Tiba di depan kamar Jenni, Mario meraba detak jantungnya. 'Betapa beruntungnya wanita ini akan menjadi istriku, karena aku merasa sangat menyayanginya.' -tersenyum.


CEKLEK.


"Stop! Jangan masuk!"


"Jennnnn?" -terperanjat, kaget.


"Tutup matamu! Jangan tanyakan apapun. Keluar!"


"Iya, tapi ... kamu kenapa? Kenapa berada di lantai?" -bukannya pergi, Mario malah mendekat. Ya iyalah, mana tega Mario melihat penampakan kacau ini.


"Jen, kamu terjatuh atau apa? Dan, cairan apa ini?" -mengendus, merasa ada aroma menyengat masuk ke hidungnya.


"Jenn, kamu, ... astaga, ayo ke kamar mandi." -mengangkat tubuh Jenni, tak lupa membawa serta tongkat penyanggah.


Ia lalu menurunkan Jenni dengan hati-hati, "Ini tongkatmu. Aku akan menghidupkan shower."


Tanpa mengatakan apapun lagi, membuka shower dan mengaturnya ke mode hangat, agar Jenni tidak kedinginan.


"Jenn, aku bantu lepaskan pakaianmu."


"Ya???"


"Maaf, maksudku, kamu harus mandi. Kalau pakaianmu tidak di lepas, luka ditanganmu akan terkena air."


"Emmm baiklah, lakukan, tapi tutup mata."


'Cssss. Tutup mata? Kau pikir aku dukun? Bisa melakukan sesuatu tanpa melihat?''


"Baiklah Jenn, aku tutup mata."


'Untuk apa lagi malu-malu? Bukankah kita dulu sering saling melihat tubuh masing-masing?' -refleks menggeleng. 'Bodoh. Apa yang aku pikirkan?'


"Kenapa menggeleng? Apa yang otakmu pikirkan?"


"Tidak ada Jenn."


"Jangan melepas semuanya." -maksud Jenni adalah jangan melepas pakaian dalam.


"Tenang saja Jen, aku tidak berencana menelanjangimu bulat-bulat."


Pakaian yang telah terkena noda pipis itu pun sudah terlepas dan kini tergeletak di lantai.


"Apa sudah boleh membuka mata?"


"Boleh, tapi berbaliklah."


'Apa dia tidak bisa bicara dengan nada santai? Kenapa selalu ngegas saat bicara denganku?'


-Mario, berbalik membelakangi Jenni.


"Kenapa kamu bisa mengompol diusia ini?"


"Aku tidak ngompol. Aku hanya tidak sempat tiba di toilet."


"Makanya ... nurut sama calon suami. Aku bisa menemanimu di kamar, tapi malah mengusirku keluar. Mana tanganmu? Letakkan dibahuku, biar tidak terkena air."

__ADS_1


'Apa? Menyentuh bahunya?'


"Jen, cepatlah! Atau aku akan berbalik menghadapmu."


"Iya, iya!"


"Sekarang mundur, biarkan air showernya membilas tubuhmu."


"Iya!"


"Hati-hati, jangan sampai terpeleset."


"Iya!"


"Sudah, cukup," ujar Jenni, sudah sekitar 30 detik tubuhnya terkena semburan air hangat.


"Apa kamu yakin sudah bersih? Aku bisa membantumu menggunakan sabun mandi."


"Hei! kamu ingin kesempatan meraba tubuh aku?"


"Jeeeenn!" -Mario refleks berbalik, dengan wajah tak percaya. "Apa yang otakmu ini pikirkan?" -menunjukk kepala Jenni. "Apa kau kira aku ini pria mesum? Hei! Dulu, kalau saja kamu tidak naik ke ranjangku dan meraba tubuhku, kita tidak akan pernah memulai -- aaaaahh," -Mario terlihat menyesali perkataannya. "Maaf, Jenn!" -


.............


Di tempat lain, Stefan dan Gina melangkah dengan bergandeng mesrah keluar dari kediaman papa Farrel setelah berpamitan.


"Papa Arsen, aku gugup! Belum siap bertemu mamah." (Yang dimaksud ialah mama Lina, sang ibu mertua).


"Jangan gugup. Santai saja. Mama tidak akan memakanmu."


Masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan, tangan keduanya saling bertautan.


"Kenapa bertanya? Tentu saja!" -memanyunkan bibir.


"Maka dari itu, tidak perlu khawatir memgenai apapun lagi ya, aku akan terus menjadi milikmu seorang. Begitu pun sebaliknya. Gin, aku tidak pernah sedikitpun menyesali keadaan ini. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya agar istriku selalu bajagia bersamaku." -Cup. Memberi kecupan singkat di punggung tangan istrinya.


Tiba di kediaman Yoris.


Keduanya langsung saja menuju kamar orang tuanya itu.


Tok tok tok


Ceklek.


"Hei! Kalian, baru pulang saat pagi, menghabiskan malam dimana kalian berdua?" goda sang mama sembari mengedipkan mata.


"Ma, langsung saja ... kami berdua, tidak setuju dengan usul mama."


"Yah? Ow... tak apa, itu tak masalah. Mama kan cuma memberi usul."


"Jadi mama tidak kecewa?" tanya Gina.


"Tidak, sayang! Untuk apa mama kecewa? Lagian mama masih punya ide lain."


"Maaa! Ide gila lagi?" -Stefan menyambar.


"Astaga Fan, kamu tu, apa tidak bisa santai saja? Tidak harus pakai urat. Ide mama adalah ... mengadopsi anak. Entah dari panti asuhan, atau dari mana, terserah kalian. Jangan buru-buru, pikirkan baik-baik. Kalau kalian sudah siap, silahkan."


"Ma ... mama benar-benar tak masalah?" Gina, antusias.


"Tidak masalah, Gin. Anak kandung, atau anak angkat, mama akan dengan senang hati menerima sebagai cucu mama."

__ADS_1


"Aaargh, Ma ... Mama tau, usul mama diawal itu sangat meresahkan para readers. Mereka mengira ini adalah konflik baru. Belum lagi istriku, dia hampir saja menyuruhku melompat dari balkon kamarnya." Stefan memijat pelipisnya.


"Yaaaa? Owh! Sorry, Mama tidak tau kalau kalian akan sebaper itu."


Sorre harinya.


Mario, dengan langkah besarnya memasuki kediamannya, dengan sebuah amplop dokumen ditangannya. Melangkah dengan wajah tersenyum puas.


"Mario, sudah pulang kamu?"


"Ma, Mama benar datang. Maaf, aku ingin menemui Jenni."


"Jenni tidak di kamar. Dia sedang terapi kakinya yang terkilir itu."


"Terapi? Dimana?"


"Tuh!" menunjuk dengan mulut.


"Jen? Mah! Dengan siapa dia?"


"Oh, orang itu adalah perawat. Kabarnya dia sangat handal soal terapi yang dibutuhkan Jenni. Bukankah mama cukup baik berinisiatif?"


"Maaaa! Itu hanya terkilir. Tidak perlu therapi. Bawa pulang perawat itu."


"Yah?" mama menoleh, heran.


"Mario! Jangan macam-macam. Mama sudah bayar dia mahal."


"Suruh pergi, atau aku yang akan mengusirnya? Maa! Jenni adalah milikku. Aku tidak senang dia disentuh pria lain."


"Mario, apa kau sehat? Kau cemburu pada seorang perawat? Katamu tidak punya perasaan apapun dengannya. Lalu apa sekarang? Luar biasa!" -membuang pandangan.


"Maa, jangan menganggapku bercanda. Minta orang itu pergi atau aku tidak akan menikahi dia."


"Ya ampun, Mario! Dia hanya menyentuh kaki wanitamu! Bukan hatinya." -kesal mama, lalu beranjak pergi, melaksanakan perintah Mario.


Setelah kepergian sang perawat muda itu, mama kembali ke dalam, meninggalkan Jenni sendirian duduk di kursi taman.


"Lebih baik aku melatih kakiku lagi. Sepertinya, ini akan segera sembuh," -pelan-pelan berdiri.


Baru saja berdiri, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Mario?" tebak Jenni.


"Iya, ini aku! Jenn, terima kasih. Sekarang, kamu ... adalah ... istriku!"


"Apaaaaa?"


.


.


Bersambung.


......................


Nah... cepet banget bang, udah nikah aja! kayak mie instan?


Mario: Biar cepet tamat thor😆😆😆


Heleh, modus lu babang🤩

__ADS_1


__ADS_2