Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Pengen Adik


__ADS_3

"Sayang, kamu benar tidak mau ikut Daddy pulang?" tanya Mario pada putrinya.


"Ya ... Given sama Mommy aja, Dad."


"Jadi kamu tidak sedih jika Daddy pulang dan meninggalkanmu dengan Mommy?"


"Tidak sedih Dad," jawab anak itu.


Mario pun memutuskan untuk pergi dari sana dengan keyakinan bahwa ... Given akan merengek memcari dirinya.


Satu jam kemudian.


Ibu dan anak itu berjalan kaki sembari bergandeng tangan menuju Restoran.


"Given, benarkah Given tidak perlu daddy lagi?"


"Ya, Mom. Given sama Mommy aja."


"Baiklah sayang, mulai sekarang, hanya ada kita berdua ya,"


"Oke, Mom. Given happy sama mommy." Given tersenyum di bibir, namun mata-nya tidak bisa berbohong bahwa dirinya sangat sedih di tinggal Daddy. Tapi anak itu sangat tau, jika harus memilih, maka mommy adalah pilihan yang tepat.


"Cssshh! Katanya tidak menginginkan anak itu. Tapi lihatlah senyumannya saat bersama Given. Tunggu! Mau kemana mereka berdua?"


Mario yang tidak benar-benar pergi meninggalkan putrinya itu, kini membuntuti Given dan Jenni. Ia mengira bahwa saat ini Jenni membawa putrinya itu pulang ke tempat tinggalnya yang belum Mario ketahui.


Drrrt drrrt drrrrt.


"Helena? Perlu apa dia menghubungiku?" Mario bergumam.


[Ya, Helena,]


[Mario ... kamu dimana? Bisakah menghiburku? Rencanaku berantakan Mario, gagal. Aku bahkan belum melakukan apapun.]


[Oh, hah ... aku sudah menduganya Helena.]


[Rio ... jadi dimana aku bisa menemuimu? aku ingin ditemani saat ini.] (dengan nada putus asa).


[Soal itu ... maaf Helena, aku ... memiliki urusan yang sangat penting daripada untuk sekedar menghiburmu.]


[Mario, tidak bisakah sebentar saja?]


[Tidak bisa Helena, aku tutup telponnya ya,]


Tuut tuuut tuuut..


"Hah, Stefan ... Gina ... lagi-lagi kalian berdua menang." Gumam Mario, sembari membayangi pasangan itu yang pasti sedang menertawakan Helena saat ini.


"Given?" Mario mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tidak ia temukan lagi ibu dan anak itu.


"Sial, dimana mereka?" Pria itu kini mencari-cari keberadaan kamera pemantau. Namun, sayangnya tidak ada satupun CCTV yang terpasang disana.


"Ini semua gara-gara Helena. Aku kehilangan Given sekarang." pria itu pun memutuskan untuk berparkir manis disana menunggu yang tak pasti.


.......


"Papa, Mama! Arsen pengen punya adik." rengek bocah tampan itu, tiba-tiba.


Gina dan Stefan terlihat saling pandang. Entah apa yang merasuki anak itu, tiba-tiba saja sepulangnya Stefan dan Gina dari kamar 2211, anaknya itu merengek minta adik.


"Arsen, kenapa pengen adik sayang?" tanya sang nenek yang menghampiri Arsen.


"Pokoknya, Arsen pengen adik," tegas anak itu lagi.


"Oke, besok kita cari adik untukmu, oke boy,"


"Maunya sekarang pa!"


"Arsen, jangan membantah sayang."


"Arsen mau adiknya sekarang." tegas anak itu lagi dan berlari ke kamar miliknya.


"Ma ... apa mama yang meracuni pikiran anakku?"


Stefan menatap mama, dengan tatapan curiga.


"Ya ... mau bagaimana lagi, dia merengek saat menunggu kalian jadi mama asal saja mengatakan tentang adik." jawab mama, ragu.


"Ma ... mama tau, istriku tidak bisa mengandung lagi. Untuk apa menyebutkan tentang itu?" Stefan menegang, merasa kesal.


"Maafkan mama Fan, Gina."


"Tak apa ma ... Sayang, tidak perlu marah ke mama."


"Tapi mama keterlaluan Gin, mama menyinggung perasaanmu."

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak apa-apa." jelas Gina.


"Apa kalian tidak punya teman yang memiliki anak? Pinjam saja sebentar untuk menghibur putra kalian." sahut Mama, mencari jalan keluar.


"Aaargh. Siapa yang mau meminjamkan anak malam-malam begini?"


"Sayang, ayo, bicara dengan Arsen." Gina menarik tangan suaminya dan kini mereka berada di depan pintu kamar bocah itu.


Tok tok tok.


"Sen, mama dan papa masuk ya.."


Ceklek.


Masuklah keduanya dan mendapati Arsen yang sedang bersembunyi dibalik selimutnya.


"Arsen, mama dan papa mau keluar jalan-jalan nih, mau ikut?"


Anak itu mulai terpancing dengan ajakan jalan-jalan.


"Papa ... Arsen mau ikut."


"Wahhh, anak mama memang pintar. Ayo sayang, kita ganti baju dulu ya,"


Ketiganya kini berada di dalam mobil untuk jalan-jalan.


"Pa ... Arsen pengen makan. Kita ke restoran yuk, Pah."


"Oke, boy" jawab Stefan.


Ketiganya pun memasuki sebuah restoran dan memilih tempat duduk disana.


"Kakaaaaak!" seru seorang anak perempuan dan berlari ke arah Arsen.


Anak itu kini berdiri di dekat Arsen dengan senyum penuh menghiasi seluruh wajahnya.


"Given?" Stefan langsung mengenali wajah bocah imut itu.


"Hei ... sedang dengan siapa Given?" tanya Gina pula.


Sedangkan Arsen, anak itu tampak sedikit bingung. Kenapa dirinya bisa bertemu dengan adik yang tadi siang ia beri cokelat.


"Given! Given! Sayang, kamu ngapain? Jangan ganggu pengunjung sayang." Jenni menghampiri putrinya.


"Mom, Given suka kakak ini." menunjuk Arsen.


"Given, bicara apa kamu? Ayo kembali ke belakang sayang."


"Jen, biarkan saja. Sepertinya ... mereka ingin berteman."


"Baiklah Fan, Gina, aku ... akan kembali bekerja."


"Bekerja? Kamu ... bekerja? Disini? Dimana Mario? Dia membiarkanmu bekerja?"


"Oh, dia ... kami tidak bersama."


"Tapi kenapa? .... oh, maafkan aku terlalu banyak bertanya Jen."


Jenni pun memgangguk.


"Kakak, minta cokelat lagi, boleh?"


"Aku tidak membawanya. Itu ada di dalam tas sekolahku. Tertinggal di rumah." jujur Arsen.


Akhirnya, makananpun datang.


"Pah, apa dia akan makan dengan kita?" memberi kode dengan melirik Given sekilas.


"Tentu saja boy," jawab Stefan. "Given mau makan apa?" tanya-nya pada Given.


Anak itu hanya menggeleng, artinya tidak ingin memakan apapun.


.


"Kakak! Given ingin bermain dengan kakak."


"Hei ... aku akan pulang. Kembalilah ke mommy kamu."


"Giveeen," Jenni kembali menghampiri Given.


"Mom, Given mau main dengan kakak ini." memegang erat lengan baju Arsen.


"Sayang, ini sudah malam. Kakaknya mau pulang."


"Jen, dimana kalian tinggal? Ayo, biar sekalian kami antar pulang." tawar Stefan.

__ADS_1


'Apa yang harus aku jawab? Aku tidak akan mempermalukan diri dengan mengatakan akan pulang ke sebuah gudang rumah sakit jiwa.'


"Fan, kami berdua tinggal di daerah dekat sini. Jalan kaki saja cukup."


"Tante, bolehkah pinjam adik ini? Dia ingin pulang denganku." tiba-tiba Arsen bertanya. membuat kedua orang tuanya itu menatapnya heran.


"Hei ... apa kamu bisa jaga anak tante?" tanya Jenni pula, dengan ramah.


"Bisa tante, aku akan berteman dan mengajaknya bermain. Mainanku sangat banyak. Dia boleh main sepuasnya denganku." jawab Arsen.


"given, benarkah kamu ingin ikut dengan kakak ini? Ini sudah malam sayang. Tidak akan cari mommy?"


Given mengangguk bersemangat.


"Fan, bisa aku bicara dengan istrimu?"


"Tentu saja Jen, silahkan!"


Jenni dan pun menyingkir sejenak dari Stefan dan dua anak itu.


"Gina, begini." Jenni mengambil tangan Gina. "Apa tidak apa-apa anakku ikut ke tempat tinggal kalian?"


"Tentu saja tidak apa-apa. Percayakan saja padaku dan Stefan." ujar Gina.


"Gina, sebenarnya ... aku memang ingin menitip putriku pada orang yang bisa menjaganya. Aku ... sedang mengurus ibuku yang sedang sakit sekarang." jelas Jenni kemudian.


"Owh... jadi begitu. Bagus, ini kebetulan. Pulanglah dan urus ibumu. Aku ... akan membantu merawat anakmu."


"terima kasih banyak ya Gina, telepon aku kapanpun Given menanyakanku."


Gina mengangguk. Keduanya pun kembali ke arah tiga orang itu.


"Given, jangan nakal yah sayang, bermain sepuasnya dengan kakak."


"Okey mom, Mommy ... jangan sedih ya, Given akan pulang, tidak lama-lama."


Jenni hanya tersenyum legah mendengar perkataan putrinya.


"Fan, aku titip Given ya, kalau dia mencariku, maka telpon saja aku."


"Baik,"


Jenni pun menatap kepergian mobil Stefan yang membawa serta putrinya. "Given ... bermainlah lebih lama dengan kakak itu. Tolong jangan cari Mommy dulu. Biar mommy yang menahan rindu untukmu. Karna Mommy ... akan fokus bekerja dan merawat nenekmu, nenek yang bahkan belum kamu kenal."


.......


.


.


Tiba di kediaman Yoris.


Arsen menggandeng tangan kecil Given untuk segera memasuki kediamannya. Anak itu ingin segera buru-buru memamerkan banyaknya mainan di kamarnya.


Rumah sudah begitu sepi, karena nyonya Yoris sudah pasti telah beristirahan di jam ini.


"Lihatlah putramu sayang, dia sangat senang mendapatkan Given sebagai adik. Keinginannya terkabul." ujar Gina. pasangan itu membuntuti langkah putranya dari belakang.


"Waah, kakak! Banyak sekali mainanmu?"


Kedua anak itu pun bermain dengan mobil-mobilan dan segala jenis mainan anak laki-laki disana. Arsen yerlihat sangat bersemangat karena kali ini dia ounya teman untuk bermain. Sampai akhirnya ... keduanya tertidur diantara mainan yang berserakan di lantai.


"Stefan dan Gina yang baru saja masuk ke kamar itu, hanya bisa mengelus dada melihat betapa memgerikannya penampakan kamar Arsen saat ini. Stefan pun memgangkat tubuh dua bocah itu untuk tidur bersama di tempat tidur Arsen. Setelah memberi selimut dua bocah itu, pasangan itu pun kembali ke kamar mereka.


Keesokan paginya.


Arsen terbangun karena mendengar tangisan kencang seseorang.


"Given, kamu kenapa?"


Anak itu menangis kian kencang.


"Giveeeen. Kamu sangat jorok" Arsen seketika turun dari tempat tidurnya.


"Mamaaaa ... Mamaaaaaa!" teriaknya memanggil Gina.


"Arsen, ada apa ini pagi-pagi teriak?"


"Ma ... pulangkan adik ini. Dia mengompol."


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2