
Bila biasanya seorang prialah yang selalu dituntut akan tanggungjawab atas seorang anak diluar pernikahan, berbeda dengan kasus seorang baby boy Arsen.
Gina, wanita yang telah melahirkannya itulah yang sedang dituntut untuk suatu tanggung jawab karena pergi meninggalkan Arsen.
Kini, Stefan dan kedua orangtuanya membawa paksa Gina kembali ke kediamannya dengan alasan suatu tanggungjawab yang harus dilakukan Gina. Suka atau tidak sukanya wanita itu.
Keluarga itu tiba di kediaman Yoris.
Kali ini, Gina tampak masih malu-malu setelah semua rahasianya terbongkar. Ia bahkan tidak berani lagi membalas tatapan Stefan, apa lagi kedua orang tua pria ini.
Setuasi terasa berbeda setelah hubungannya dengan Arsen terungkap.
“Menikahlah denganku. Jangan coba-coba melarikan diri dari tanggungjawabmu”
Gina terdiam sembari berpikir apa yang harus ia katakan.
“Bagaimana mungkin? Bagaimana aku harus menikah denganmu?”
‘Ssssh, putraku masih saja gengsian. Sudah jelas dia juga cinta Gina, masih aja sebut-sebut tanggung jawab. Alasan kamu Fan,’ nyonya Yoris membatin.
“Cuma itu yang harus kamu lakukan saat ini Gina. Kamu cinta putra saya kan? Seperti katanya, buat dia berusaha mencintai kamu. Oke?” timpal mama dari Stefan itu.
“Cinta? Tidak mungkin. Itu dulu nyonya. Aku tidak yakin perasaanku masih sama” jawab Gina dengan wajah gugupnya.
‘Apa? Berani sekali dia menghilangkan perasaan terhadapku?’
“Mamaaaaaaaa”
“Arsen?” Gina merentangkan tangan.
Seperti sudah terpisah dalam waaktu yang sangat lama, Arsen dan Gina seperti tak rela menyudahi pelukan mereka.
“Maaaa, Arsen kangen Mama” dengan tangan kecilnya, ia usap wajah mama-nya itu.
Stefan dan mama Lina hanya diam menyaksikan.
“Ma... tidak pergi lagi kan? Kalau mama pergi, Arsen akan ikut. Arsen pengen Mama.”
Gina menggeleng bersama airmatanya yang terus saja keluar. "Iya sayang, kita akan bersama lebih lama.
‘Jangan pernah bermimpi untuk pergi dariku Gina.’ Batin Stefan.
DITEMPAT LAIN.
Kediamnan keluarga ayah Gina.
“Maafkan saya om, tante,” ungkap Helena.
“Tidak perlu meminta maaf padaku Helena, kita bertiga sama-sama salah disini.” Ucap papa Farel.
__ADS_1
Mama Feni, hanya diam. Sepertinya otaknya tengah aktif memikirkan sesuatu.
Nio, pria muda itu tersenyum puas. “Ehm ... aku sangat legah. Akhirnya, penantian kakakku akan citanya akan segera terwujud”
“Nio, jangan senang dulu. Pria itu belum tentu mencintai kakak kamu.” (mama Veni)
“Iya Nio, bisa saja ini hanya karena Gina telah melahirkan anak untuknya. Kasihan sekali putriku, aku memang bodoh sebagai seorang ayah,” timpal sang ayah, masih dengan raut wajah menyesal.
“Cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Aku yakin pria itu akan jatuh cinta pada kakak. Aku bisa melihat dari cara dia menatap kakakku.”
“Jika seperti itu, papa senang. Tapi papa sangat sedih karena telah membuang putri satu-satunya kepunyaan papa, dan keluarga orang lain memungutnya dengan sukarela.” Papa Farel nampak sangat –sangat menyesal.
“Om, tapi aku masih mencintai Stefan.”
“Itu urusanmu Helena. Bicaralah baik-baik tentang perasaan kalian. Selesaikan dengan benar sebelum pernikahan mereka. Jika memang pria itu masih mencintai kamu seperti yang pernah kamu katakan, aku juga tidak akan bisa membiarkan dia menikahi putriku.”
\=\=\=\=\=\=
Di dalam ruang kerjanya, Stefan berdiri menghadap tembok kaca dengan mata tertutup. Pria itu sedang menunggu kedatangan seseorang.
Ceklek,
Seseorang melangkah masuk dengan langkah pelan, sehingga Stefan tidak mendengar.
Seseorang itu pun memeluk Stefan.
Stefan membuka matanya karena ada yang memeluknya dari belakang. Ia pun menampilkan smirk senyum. “Kau datang dan langsung memelukku?”
Orang itu hanya mengangguk, tanpa bersuara.
‘Apa aku tidak sedang bermimpi?’ Stefan mengusap lembut tangan yang sedang memeluknya.
CEKLEK,
Pintu kembali terbuka, membuat Stefan menoleh kearah pintu. “Gina?” reflek ia menepis tangan seseorang yang sedang memluknya itu. “Helena? Kau?” betapa terkejutnya ia, tak menyangka jika perempuan itu adalah Helena dan bukan Gina.
“Ehm. Maaf, sekertarismu tidak di tempat, jadi ... aku tidak tahu jika kamu sedang ada tamu.” Gina menutup kembali pintu, seraya tersenyum kecil.
“Fan tunggu” Helena menahan tangan Stefan, saat pria itu hendak menyusul Gina.
“Helena, kau pergilah dari sini. Kau telah membuat calon istriku salah sangka.”
“Fan, tapi aku, bagaimana denganku? Aku masih cinta kamu.”
“Cinta? Maaf! Aku tidak punya perasaan itu lagi. kamu terlambat.”
“Fan, please!”
“Dengarkan aku Helena, jangan pernah muncul lagi dihadapanku dengan alasan cinta. Aku akan menikahi Gina. Aku akan memberikan hatiku hanya untuk dia.”
__ADS_1
“Fan, tapi aku –“
“Baik, supaya kau mengerti, aku sudah tidak punya perasaan lagi terhadapmu Helena. Kau tahu, awalnya aku memang membenci wanita yang telah membuatku menjadi seorang ayah secara tiba-tiba. Aku membenci wanita yang telah membuatku kehilangan dirimu. Tapi sekarang, aku sangat bersyukur, karena dia adalah Gina. Sekarang, hatiku hanya untuk Gina.”
“Fan, aku menyesal-“
“Maaf, penyesalanmu sangat terlambat, pergilah!” menunjuk pintu keluar.
Helena pun keluar dengan perasaan jengkel.
Sementara Gina, ia sedang berdiri di dekat meja sekertaris.
Helena melirik Gina dengan wajah kesal.
‘Cissshh! Apa mereka bertengkar karena aku?’ batin Gina.
Stefan pun keluar, untuk menyusul Gina.
“Gin, kamu masih disini?” pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya saat melihat ternyata Gina masih berada disana.
“Ah, iya! Harus kah aku pergi dulu? Itu ... kekasihmu baru saja pergi. Dia pasti belum jauh. Susullah dia” Gina menunjuk ke arah kemana perginya Helena.
“Gina, ayo masuk”
“Emmm kamu tidak menyusulnya dulu? Cepatlah, atau dia akan semakin jauh lagi dan menghilang lagi”
Stefan tersenyum kecut.
“Pergilah, aku akan menunggu di dalam,” Gina melangkah masuk, dan disusul oleh Stefan.
“Kenpa malah masuk? Kamu tidak susul dia dulu? Tadi dia terlihat sangat kecewa. Jangan sampai kamu menyesal jika tidak bisa menemukannya lagi.”
“Gina, bisa diam dulu?”
“yah?”
“Aku memilih menikah denganmu.”
Gina tersenyum lalu mengatakan “Fan, kamu harus ikuti kata hatimu. Jangan sampai menyesal lagi. kamu sudah menunggunya selama ini. Apa kamu lupa?”
‘Aku tidak pernah menunggunya. Yang aku tunggu adalah ibunya Arsen’ sayangnya, Stefan hanya mengatakan itu dalam hati.
.
.
Bersambung.....
🥰🥰🥰🥰
__ADS_1