Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Parasit Dalam Hidupku


__ADS_3

Selepas kepergian Gina, Stefan membuka mata. Perlahan, senyum mengembang di sudut bibir pria itu.


'Papa Arsen, aku merindukanmu,' kalimat itu terus ia ulang dalam ingatannya.


"Iyyyyeees," Stefan lalu memeluk gemes putranya itu. "Arsen, mama kamu bilang kangen papa." dalam sekejap tubuh anak itu sudah persis reperti bantal guling, bolak balik dimainkan oleh ayahnya. Syukurnya, bocah itu tidak terbangun dan malah jadi semakin nyenyak.


"Baiklah, sekarang aku bisa tidur nyenyak." Stefan lalu menatap balutan perban pada tangannya. "I'm sorry?" Kembali ia tersenyum membaca permohonan maaf yang dituliskan Gina disana.


"Baiklah Gina sayang, karena kau merindukanku, maka aku memaafkanmu."


Kemarahan yang bersarang didalam hati Stefan perlahan menghilang, terganti dengan perasaan bahagia bukan main.


\=\=\=


Apartemen.


Rio pulang ke apartemen miliknya untuk menenangkan diri.


"Stefan ... bisa-bisanya dia menemukan Jeni dan menghancurkan semua rencanaku. Ternyata benar kata orang. Dia tidak bisa diremehkan."


Mario kini mengetahui dan menyadari bahwa Stefan bukanlah sainganya. Baik dalam kemampuan berbisnis maupun urusan perempuan. Namun, yang Mario tidak terima adalah cinta seorang Gina yang berhasil pula didapatkan oleh Stefan. Rio pun menyadari bahwa yang menjadi kesamaan dirinya dan Stefan adalah sama-sama anak tunggal dan memiliki level kekayaan yang hampir sama.


Rio mengambil beberapa minuman beralkohol rendah dari lemari pendingin untuk ia minum.


'Gina ... apa aku harus menyerah dan membiarkan Stefan menang? Rasanya aku tidak rela membiarkan laki-laki itu mendapatkanmu,'


Terdengar bunyi bell menyadarkan Rio dari lamunannya. Dengan langkah tak bersemangat pria itu pergi membukakan pintu.


Ceklek.


"Helena?"


"Boleh aku masuk, Rio?"


"Silahkan."


"Dari sikapmu, aku menebak bahwa semua rencanamu, gagal. Benar begitu?" tanya Helena, setelah menaruh bokongnya duduk nyaman diatas sofa.


"Iya, aku gagal Helena." Tersenyum kecut.


"Jadi kau akan pasrah dan membiarkan mereka bahagia?"


"Entahlah, tapi ibuku sudah mengetahui semuanya dan dia sangat marah. Aku terancam jika aku nekad. Untuk sekarang, aku akan membiarkannya."


'Lagipula, aku harus singkirkan Jenni terlebih dahulu agar tidak menjadi pengacau dalam hidupku.' sambung Rio, dalam hati.


"Bagaimana dengan rencanamu Helena? Kurasa Stefan tak akan berhasil kau takhlukkan."

__ADS_1


"Sekarang aku tidak peduli dengan cintanya. Yang aku inginkan sekarang hanya membuatnya jatuh bahkan kehilangan mukanya, terhempas dari kedudukannya saat ini. Membuat semua orang tak mempercayainya lagi. Singkatnya, aku ingin dia kehilangan segalanya."


"Bagaimana caranya?"


"Kau akan tahu dalam waktu dekat ini. Aku sedang mempersiapkan segalanya."


"Oke, aku menunggu hal itu terjadi Helena."


Cukup lama mengobrol, Helena pun pergi.


Sementara di kediaman utama keluarga Mario.


"Given,"


"Ya Mom,"


"Given senang sudah bertemu Daddy?"


"Ya. Sangat senang Mom,"


"Given, karena sudah bertemu Daddy, bisakah kita pergi sekarang?"


"What? Mommy bawa Given pelgi (pergi) dali (dari) Daddy?"


"Hmm" Jenny mengangguk.


"No. Mom, jangan tinggal daddy. Given gak mau,"


"Baikalah sayang, kita tidur saja dulu. Ini sudah malam."


.........


esok paginya.


"God morning sayang." Gina memasuki kamar Arsen membawa sapaan hangatnya. Pagi ini, wanita itu tampak lebih bersemangat. Berbeda dengan Gina yang sudah fresh, kedua laki-laki kesayangannya itu bahkan belum membuka mata.


"Papa Arsen," Gina mengguncang tubuh pria itu supaya segera bangun.


Perlahan pria itu membuka mata dan langsung bertemu dengan wajah cantik istrinya. Rasanya ingin pria itu menarik Gina kedalam dekapannya namun ia kendalikan dan sengaja mengaktifkan mode datarnya. Pria itu ingin melihat sejauh mana Gina bertindak untuk memperbaiki mood suaminya yang sudah tidak kenapa-kenapa itu.


"Dia masih mengabaikanku?" Gina membatin melihat kepergian Stefan yang meninggalkan kamar anaknya itu tanpa mengatakan apapun.


Kembali ia bangunkan putranya itu membawanya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat sekolah.


....


Tiba di kamarnya, Di atas tempat tidur, sudah tersedia setelan kerja milik Stefan. Siapa lagi yang menyiapkannya kalau bukan Gina. "Dia cukup berniat" gumam Stefan lalu segera masuk ke kamar mandi membawa senyum kemenangan.

__ADS_1


....


Ditempat lain.


"Jen, sayang ... kamu antar ini buat daddy-nya Given ya, ini kode kunci apartemennya." sang mama meminta Jenny membawa sup jagung kesukaan putranya itu. Wanita itu paham, bahwa putranya pasti masih kesal. Biasanya, sup jagung akan membuat hatinya lebih tenang.


"Apa saya yang harus mengantarnya? Saya tidak punya keberanian untuk menemuinya." jawab Jenni, ragu.


"Jen, ini kesempatan kamu buat PDKT. Anak mama itu sebenarnya bukan orang jahat kok,"


'Apa? Kebiasaan menghina seseorang, bukankah itu termasuk kejahatan?'


Pada akhirnya Jenni menuruti.


Kini sampailah ia di apartemen pria itu.


"Angka apa ini? Seperti tanggal lahir seseorang, apa mungkin tanggal lahir istrinya Stefan?" Jenni menggeleng mengingat cinta buta ayah anaknya itu terhadap Gina.


Setelah berhasil masuk apartemen itu, Jenni dikejutkan dengan penampakan yang sangat berantakan. "Dasar jorok." batinnya.


Karena Orland Mario masih tertidur pulas, Jenni meletakkan rantang sup tersebut lalu berinisiatif membereskan kekacauan apartemen itu, membersihkan serta merapikannya.


"Apa yang kau lakukan?" nada datar seseorang mengejutkan Jenni yang sudah hampir menyelesaikan acara bersih-bersihnya.


"Maaf, aku mengantar titipan mama dan melihat disini sangat kacau lalu-"


"Mama? Sekarang kau bahkan menyebut ibuku dengan sebutan mama?" Rio mendekat sembari menancapkan pandangan tak sukanya.


"Oh, itu, maksudku, ibumu."


"Kau berusaha terlihat seperti menantu yang baik sekarang?" semakin mendekat membuat Jenni mundur hingga terjatuh di sofa.


"Jenni, kau benar-benar berniat jadi istriku? Baiklah ... mari kita coba, apa aku masi ada rasa padamu atau tidak.


Rio bahkan naik ke atas Jenni dan menghimpit tubuhnya, membuat wanita itu memejamkan mata menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ah, Jenny terpesona.


"Kau sangat tidak tahu malu ya, apa kau pikir aku akan melakukannya?"


Degh ...


Jenni kembali membuka mata.


"Tidak peduli kau cantik dan baik. Bagiku, kau hanya akan menjadi parasit dalam hidupku. Pergilah dari hadapanku." Rio menunjuk pintu keluar.


'Dia, lagi-lagi mengusirku dan menghinaku. Tunggu saja, suatu saat kau akan sakit menyesali semua ini. Aku sangat yakin itu.'


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2