Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Terciduk


__ADS_3

Terheran, bingung, merasa terciduk, berkumpul jadi satu. "Kenapa kamu ada disini?" reflek Gina bertanya.


"Tentu saja ingin menjemput calon istriku" melirik belanjaan Gina yang berada diatas meja kasir. Terukir senyum kecil disudut bibir pria itu, merasa senang.


Semua orang yang berada disana menatap heran Stefan. Benarkah wanita ini calon istri seorang Stefan? Lalu kenapa dia berbelanja disini? Dan lihatlah penampilan wanita ini. Ia sama sekali tidak terlihat berkelas. Wajahnya saja yang cantik.


Sedangkan Stefan? Siapa yang tidak mengenalnya? Pria itu terkenal sebagai penerus keluarga Yoris yang memiliki segalanya.


"Haiiz! Tunggu sebentar mbak." Gina menyeret Stefan, menjauh dari barisan antrian.


"Tunggu disini. Aku akan menyelesaikan pembayaran." Dengan gerak cepat ia kembali ke meja kasir.


Ia meminta kasir untuk menyelesaikan pembayaran menggunakan kartu yang telah Stefan berikan.


"Baiklah Mbak, berarti yang tadi tidak jadi di cancel kan ya?"


"Iya, saya ambil semuanya mbak." jawabnya tanpa ragu, meskipun dalam hatinya merasa teramat malu. 'Belum jadi istrinya, aku sudah semerepotkan ini.'


"Permisi mbak, apa benar kamu calon istrinya? Apa kamu si miskin yang dijodohkan dengan si kaya? Apa dia pelit dan hanya memperbolehkanmu belanja produk biasa? tanya beberapa orang, setengah berbisik sembari melirik Stefan.


"Dia benar calon suami saya."


'Apa katanya? Aku si miskin yang dijodohkan dengan si kaya? Hei ! aku menguntitnya bertahun-tahun. Dijodohkan? Yang benar saja! '


"Kenapa? Ada masalah? Apa semua orang kaya hanya boleh mengenakan barang mahal yang high quality?" Gina tersenyum ramah yang dipaksakan.


Gina pergi begitu saja setelah tidak lagi mendengar pertanyaan yang cukup meresahkan dari orang-orang itu.


"Sini, biar aku yang membawanya." Stefan ingin menyambar paperbag ditangan Gina.


"Eh, jangan! Aku bisa membawa ini."


"Lihatlah orang-orang disana. Suaminya yang membawakan belanjaan istri."


"Tidak perlu. Kamu sudah membayarnya. Tidak sopan jika kamu lagi yang membawanya. Lagi pula kita bukan suami istri." ketus Gina.


"Hei ... kenapa aku merasa kau sedang marah?"


"Iya, aku marah. Kamu seenaknya membatalkan makan siang." Berjalan cepat, bertingkah seolah sedang kesal.


Padahal, Gina hanya sedang mengusir rasa malunya karena sudah ketahuan membeli lingerie, terlebih lagi tidak punya cukup uang untuk membayar.


"Kau ini sangat keras kepala."


Kini bawaan Gina sudah berpindah ke jinjingan Stefan.

__ADS_1


DI DALAM MOBIL


"Jadi sekarang mau kemana?" tanya Stefan, basa-basi.


"Aku mau pulang."


"Pulang? Tapikan dirumah tidak ada anak kita."


"Aku mau pulang saja."


"Ciee, mau cobain baju baru ya?"


"Apaan si," Gina mengerutkan alisnya tajam. 'Pria ini sudah mulai berani.'


"Tar malam makan malam diluar mau?"


"Tidak perlu. Aku ingin memasak sendiri."


"Ciee, yang berlatih jadi istri baik."


'Sepertinya pria ini ngajak ribut.'


"Aku hanya ingin memakan masakanku"


"Jangan masak sendiri. Nanti kamu kenapa-kenapa gimana? Minta ditemani pelayan."


"Masaklah untukku juga."


"Tentu saja."


Kini keduanya tiba di Kediaman Yoris, namun masih di dalam mobil.


"Gina,"


"Yah?"


Stefan mengambil satu tangan Gina.


CUP


memberikan satu kecupan, yang mana membuat Gina melebarkan matanya, tak percaya.


"Masak yang enak yah, mama-nya Arsen," memberi senyum hangat yang mematikan.


"Jangan tegang begitu Gin. Aku sedang berlatih. Ternyata, tidak buruk."

__ADS_1


'What? Berlatih? Dia main tarik ulur sekarang?'


Gina pun tak ingin berlama-lama di dalam mobil, ia segera kabur dari sana membawa jantungnya yang masih berdebar.


Stefan tersenyum lebar melihat kepergian Gina. "Oke, mama-nya Arsen, papa-nya Arsen akan kembali kerja dulu. Tunggulah kepulanganku. I love you Gina," gumamnya, yang tentu saja hanya dirinya yang dengar .


Drrrt drrrrt drrrt


Nomor tanpa nama sedang memanggil.


Stefan lalu menjawabnya. melalui headset bluetooth.


Stefan : (Halo?)


(Halo Nak Stefan, ini saya ... papa-nya Gina)


Stefan : (Oh, ya? Ada apa?)


Farrel : (Saya ingin bertemu untuk bicara. Apa bisa?)


Stefan : (Kalau begitu, saya akan ke kantor bapak sekarang).


Panggilan pun berakhir.


Sebenarnya, Stefan punya banyak pekerjaan yang menunggunya. Akan tetapi, yang mengajak bertemu ini adalah bakal mertuanya sendiri. Meskipun Gina sudah terlanjur menjauh dari keluarganya, tapi Stefan percaya wanita itu tidak akan membenci keluarganya.


Kembali ke kediaman Yoris.


Gina sedang menyiapkan menu spesial dengan penuh semangat.


Entah apa yang ada dipikiran wanita itu, tapi ia tak kuasa menahan senyumannya.


Setelah menyelesaikan acara memasaknya, tiba-tiba timbul ide dikepala Gina untuk menyiapkan pakaian ganti untuk calon suaminya itu. Ia pun masuk ke kamar Stefan dan mengambil pakaian yang ia maksud untuk pria itu kenakan malam ini.


Ceklek,


Pintu kamar terbuka, membuat Gina terkejut, mematung.


"Gin, sedang apa dikamar ini?"


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Doakan supaya bisa double up hari ini🄰


__ADS_2