Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Merindukan Pedang


__ADS_3

Pengumuman,


level karya ini, dalam 2 bulan berturut-turut, stay di angka (5) sungguh terlalu si mimin.😌


.....


Selamat membaca ya😁


ayo ttp semangat nikmati PPKM (Pelan Pelan Kita Melebar)😄.


...👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇👇...


Semalaman tidur dengan posisi tegang beralaskan sofa, Mario terbangun pada pukul 3 dini hari. "Aaagh, leherku terasa akan patah." -keluhnya.


Ia pun beranjak, menuju tempat tidur dimana Jenni berada, menguasai tempat tidur itu tanpa perasaan.


"Dia terlihat sangat nyenyak. Dia benar-benar menikmati tidurnya." Pria itu pun keluar dari kamarnya, ke kamar sebelah yakni kamar Given.


Ceklek.


Membuka pintu. Anak kecil-nya itu rupanya tidak berbeda dengan Jenni, tertidur pulas di atas tempat tidurnya seorang diri. Mario tersenyum melihat kedamaian diwajah putrinya itu, ia pun kini ikut masuk ke dalam selimut bersama Given, memberi anak itu pelukan hangat.


"Given sayang, daddy love you."


..............


Ceklek.


Pintu kamar terbuka saat Jenni baru saja bangun dan hendak beranjak menuju toilet.


"Jenn, mau kemana?" -tanya Mario, bergegas meletakkan mangkuk sarapan yang ia bawa.


"Mau kesitu!" menunjuk toilet.


"Oke, biar aku bantu." -dengan sigap mengangkat tubuh Jenni.


"Tidak harus menggendongku. Memangnya aku lumpuh?" -Jenni, dengan nada jutek.


"Yaaaayyyy! Keren Dad, Daddy sangat kuat!" -Given bertepuk tangan senang melihat perhatian daddy kepada mommya-nya.


Masuk kedalam toilet, Mario pun menurunkan Jenni.


"Kau lihat kan, anak kita sangat senang jika kita akur. Jangan selalu berbicara ketus padaku saat ada dia."


"Dad, keluarlah! Daddy tidak boleh di dalam sini dengan mommy."


"Ya?" Jenni - Mario, bersamaan.


"Kata onty Gina, kakak Arsen tidak boleh ikut saat Given di toilet. Karena kakak Arsen laki-laki. Daddy kan laki-laki." -dengan polosnya, anak itu menjelaskan, membuat kedua orangtuanya saling tatap.


"Dad, ayo keluar!" -anak itu kembali bersuara menyadarkan kedua orangtuanya.


Jenni pun mengambil sikat gigi, megolesinya dengan pasta gigi secukupnya.


"Given, saat malam hari di rumah kakak Arsen itu, Given tidur dengan siapa?" -tanya Mario.


"Tidur dengan kakaklah, Dad!"

__ADS_1


"Yah? Beritahu daddy, siapa yang meminta Given tidur dengan kakak?"


"Onty dan uncle-lah Dad, tapi Given senang," -tersenyum lebar.


"Lalu, saat tidur, apa yang kakak Arsen lakukan? Dia tidak menganggumu?" -mulai khawatir.


"Tidak, kakaknya tidur dan tutup mata aja."


"Benar? Kakak Arsen tidak memeluk Given menganggap Given bantal guling?"


Pertanyaan Mario berhasil membuat Jenni tersenyum dan geleng-geleng sambil menyikat gigi.


"Tidak, tapi Given yang peluk kakak," -masih dengan senyum lebar polosnya.


"Yaaaaa? Gi...veeeennnn! Dengar daddy, itu juga sama bahayanya dengan berada di toilet barengan."


Pria itu pun mengangkat tubuh anaknya itu, membawanya keluar dari sana. "Ayo, keluar sayang, biarkan mommy sendirian disini."


"Ven, bawa kesini tongkatnya mommy ya,"


'Pria ini lucu juga. Kenapa dia sebucin itu pada Given? Memangnya dia pikir apa yang akan terjadi pada anaknya? Dia belum tau saja, Arsen selalu mengomeli anaknya yang masih ngompol. Jika dengar hal itu, pasti dia akan protes' -tertawa dalam hati.


"Gila. Kenapa aku tertawa memikirkan Mario?" -Bergumam.


..........


Di Apartemenn baru.


Helena, dengan wajah khawatir ia berusaha menghubungi Tuan Lee, yang telah mengirimnya ke Kota Seoul, membuatnya terjebak di dalam Apartemen.


"Dia benar-benar tega. Sudah berhari-hari aku tinggal disini dan dia tidak muncul." -merasa sedih.


..............


Yoris Group.


Drrrrrt drrrrrt drrrrrrt.


Stefan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, meraba saku jassnya saat merasa ponselnya bergetar.


"Gina?"


Klik, menjawab.


[Iya, Gina sayang,]


[Papa Arsen, aku tunggu di kamar 2211 ya,]


[Kapan?]


[Sekarang. Sudah waktunya pulang kerja kan?]


[Sekarang? Mau apa? Kenapa kamu disana?]


[Tunggu suami-lah,]


[Hmmm. Tumben? Apa kau sedang sakit?]

__ADS_1


[Kalau sakit, aku akan menunggumu di kamar pasien. Bukan kamar Hotel.]


[Baiklah, baiklah! Aku kesana ya, aku sudah di mobil. Jangan membuka pintu pada sembarang orang.]


[Hmmmm. Oke, hati-hati dijalan papa Arsen,]


Panggilan pun berakhir.


'Csssh, dia terdengar sangat bersemangat. Apa dia mau ..." -Mengingat istrinya sedang menunggu, Stefan menambah kecepatan.


.


Kamar 2211. (Awas, Haredang guys🤭)


Gina sedang berdiri menatap keluar jendela dengan melipat kedua tangannya di atas perut. Bukan tanpa sebab wanita itu datang ke kamar hotel ini. Setelah di pikir-pikir, belakangan ini Gina selalu sibuk menikmati kebersamaan dengan Rani, sahabatnya. Ia juga kerap menemani wanita itu saat mengantar sang suami ke rumah sakit.


Hal itu Gina lakukan dengan senang hati, tanpa paksaan. Itu sebabnya, saat Stefan tiba sudah tiba di rumah sepulang kerja, selalu mendapati istrinya yang sudah terlelap.


Drrrt, drrrt


PAPA ARSEN memanggil.


[Iya?]


[Buka pintunya. Aku sudah tiba.]


Klik, membuka pintu.



"Hai ... sayang!" Sapa Stefan, menyambut Gina dengan senyum tampan.


"Papa Arsen," -Gina, memeluk. "Aku merindukanmu,"


"Rindu? Syukurlah! Aku kira kau sudah lupa padaku,"


"Maaf, sayang!" memeluk erat.


"Apa kita akan menghabiskan waktu berpelukan disini?"


"Tidak sayang, ayo masuk." -menyeret tangan Stefan.


"Sayang, sepertinya ... kamu ..."


"Sssuuuut! Diam saja papa, biar aku yang melakukannya." -Melepaskan Jas. Perlahan membuka kemeja, dengan tatapan meresahkan. Sungguh, Gina bertingkah agresif. Dengan nakal, tangannya kini melepas ikat pinggang, menurunkan resleting dan ... dan ... meraba benda kenyal di dalam sana.


"Berbaringlah!" berbisik manja, sedikit mendorong tubuh Stefan. Pria itu sudah pasti dengan senang hati mengikuti permainan menyenangkan itu.


Cup. Mengemut pelan bibir sexy milik suaminya, pindah ke leher, sembari memainkan lidah di area sensitif lainnya. Sedang tangannya aktif bermain dengan benda kenyal yang kini pasudah berubah menjadi pedang, berdiri tegak.


"Sayang, aku merindukan pedang ini."


.


.


Ber ber ber ber sambung.🤭

__ADS_1


Terima kasih buat dukungan kalian atas karya ini guys🙏


__ADS_2