
"Tolong jangan begini. Kau bisa mengatakannya dengan cara yang biasa saja. Tidak perlu main peluk."
"Jen, kenapa aku merasa kau tidak bahagia?"
"Ya? Kenapa? Bukankah kita menikah hanya demi kebahagiaan Given? Aku ataupun kamu, tidak perlu merasa bahagia."
Degh...
"Jenn, kamu-" -wajahnya mulai menegang dengan ekspresi penuh tanya.
Jenni tersenyum kecil. "Aku ... semalam sudah memikirkan ini, aku, tidak bersedia jatuh cinta pada siapapun, ataupun dicintai." -dengan nada datar.
"Aku hanya tidak ingin egois sebagai ibu dari Given, dan hanya dia alasanku berada disini, menjadi istrimu."
"Jenn, tapi aku-"
"Jangan pernah ikutsertakan perasaan dalam hubungan ini. Kamu bebas mencari wanita lain yang bisa saling memberi dan menerima denganmu."
"Jenn, tapi bagaimana dengan perasaanku?"
"Itu urusanmu."
"Jenn, jangan begini! Apa kau pikir pernikahan itu sebuah permainan?"
"Bagi banyak orang, pernikahan mungkin adalah impian yang indah. Tapi, bagiku ... itu hanyalah hal konyol. Aku ... merasa tidak nyaman memikirkannya."
"Jen, tapi dulu, ... kamu tidak bilang begini. Kamu bilang cinta lebih dulu padaku."
"Itu dulu. Sekarang, itu semua sudah berbeda. Itu ... adalah pengalaman tidak menyenangkan bagi aku."
"Jenn, jangan mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu."
"Mario, aku tahu sejak awal, kamu selalu melihat Gina. Walaupun aku tidak dekat dan tidak mengenalnya, tapi aku tahu kalau dia sangat menyukai Stefan. Sebagai teman Stefan, aku ... lebih suka Gina yang baik daripada Helena, si wanita genit itu."
__ADS_1
"Jangan bahas orang lain lagi, Jenn,-"
"Itulah yang mendorong aku semakin bersemangat menggodamu, agar kamu melupakan Gina. Aku memang menyukai kamu, itu makanya kita sampai tidur bersama. Lagi pula, kamu pria kaya yang sangat murah hati. Lama kelamaan, aku ... terperangkap disana, menikmati semuanya. Aku kira, itu adalah cinta yang baru sebagai pengganti cinta kedua orangtuaku yang tidak lagi mampu mereka berikan. Karena, dulu ... aku tiba-tiba kehilangan cinta dari mereka, itu sebabnya aku seperti orang gila menginginkanmu. karena ... aku merasa sangat kehilangan kasih sayang mereka. Tidak taunya, cinta yang baru itu pun pergi dan menghilang lagi, membuat lukaku semakin dalam."
"Jen," -menyentuh jemari Jenni, namun tak berlangsung lama. Wanita itu menarik tangannya, perlahan.
"Sudahlah!"
Tiba-tiba.....
"Daddy! Mommy!"
Given datang dengan membawa bucket bunga ditangannya. Ia pun berlari ke arah keduanya.
"Daddy, ini hadiah bunga dari Given, untuk mommy. Ini, tolong Daddy yang berikan," -menyerahkan bucket tersebut.
"Terima kasih ya Given sayang," ucap Jenni setelah menerimanya dari Mario.
'Lihatlah fake smile yang ia tujukan kepada putrinya. Jenn, kamu benar-benar pandai berakting.'
Tangan kecil itu pun mengambil masing-masing cincin dan memberikannya pada kedua orang tua-nya. "Mommy, pasangkan ini ke tangan Daddy Given."
"Waaaa. Baiklah sayang," -mengambil tangan Mario tanpa mengatakan apapun, memasangkan cincin tersebut di salah satu jadi pria itu.
Mario sempat terpaku sejenak melihat itu. Bukan terpesona, akan tetapi ... penasaran. Pernikahan ini, akankah berakhir bahagia? Atau ... berakhir karena suatu saat Jenni bisa saja menjauh dan meninggalkannya, menyadari bahwa Jenni adalah satu-satunya orang yang terpaksa melakukan ini.
(Jangan menikah dengan orang lain. Wanita yang harus kamu nikahi adalah aku).
Mario masih mengingat dengan Jelas, kalimat itu pernah keluar dari mulut seorang Jenni, ketika dia baru muncul bersama Given. Saat itu, Mario dengan jelas masih membenci wanita yang kini menjadi istrinya itu.
'Kemana perginya kalimat itu sekarang? Kenapa tidak berlaku lagi?' -batinnya.
'Apa dia sedang membalas semua perkataanku, sekarang? Saat aku menginginkan dia, dia menolakku mentah-mentah. Jenn, apa perasaanmu untukku memang sudah tertutup?'
__ADS_1
"Daddy ....!"
"Eh? Given?" -tersadar dari lamunan.
"Ini, cincin untuk Mommy. Pasangkan ke tangan Mommy, Dad!"
"Oh, tentu saja sayang."
"Yeeeeeeeeeeeeeeeee!" -anak itu bertepuk tangan dengan riang. Ia bahkan melompat gembira.
"Wah wah wah! Ada pengantin baru nih, Given." -mama muncul dengan melipat kedua tangan di atas perut. Ia pun mengambul posisi duduk diantara keduanya.
"Mario, tidak adakah yang ingin kamu katakan pada setelah resmi memjadi suami?"
Pertanyaan itu membuat Mario tersenyum simpul.
"Ma, aku ... hanya memohon dukungan mama, agar pernikahan kami, bahagia. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik, layaknya suami idaman, Seperti ayahku. Ma ... terima kasih sudah memaksaku menikahinya."
"Mario, kamu ... benar-benar cinta istrimu?"
"Iya."
Degh...
Jenni menelan kasar, mendengar pengakuan Mario, mengatakan (Iya) tanpa embel-embel.
"Jen, apa ... perasaan kamu juga sama?"
Jenni tersenyum paksa lalu menjawab. "Itu tidak penting, Ma. Yang terpenting saat ini, kami adalah pasangan sah secara hukum sebagai orang tua Given."
.
.
__ADS_1
Bersambung.