
Drrrrt drrrrt drrrrt.
Tertera nama [My First Love] sedang memanggil.
Dengan ragu Gina memjawab.
(Ha-halo)
Stefan:
(Mama Arsen, bagaimana? Apa sudah siap? Supir akan men-)
Gina:
(Tidak perlu menjemputku. Aku ... tidak bisa ikut denganmu. Maaf,)
Stefan :
(Yah? Kenapa Gin? Apa kau ... baik-baik saja?)
Gina:
(Ya ... aku, baik-baik saja. Tapi, aku ingin bersama dengan Arsen. Kuharap kamu mengerti.)
Stefan:
(Baiklah, kalau memang Arsen jadi alasan, aku tidak memaksamu.) terdengar nada kecewa dari perkataan Stefan. Pria itu mengakhiri panggilan.
'Maafkan aku, aku tidak sampai hati meninggalkan papa yang sedang dilanda kekacauan ini.'
"Gin, bagaimana? Kenapa kamu tidak mengatakannya pada suamimu?" Mama kembali mendekati Gina.
__ADS_1
"Ma, tenang saja. Aku, akan bicara baik-baik dengan Rio. Aku akan buat dia mengembalikan hak Papa. Aku yakin, orang yang menyebabkan kerugian perusahaan mainan itu adalah Rio. Dia berlagak menjadi pembelinya dan merampas hak semua orang di dalamnya. Dia sungguh licik."
"Gina, jangan mengorbankan hidupmu nak, Papa yang akan mencari cara. Tapi untuk hari ini, papa belum bisa memikirkan apapun."
"Iya Pah, asalkan papa jangan sakit."
"Nio juga akan berusaha pah, mah, jangan terlalu khawatir. Jangan sampai kalian berdua sakit hanya gara-gara ini." timpal Nio Fernando.
"Apa kamu bilang Nio? hanya? Seluruh aset sudah papa pertaruhkan demi pengembangan perusahaan itu, tapi kamu bilang hanya? Bagaimana mama harus bersikap dihadapan teman-teman mama setelah ini?" mama Veni sudah terlihat sangat risau. Ia tak berhenti mondar mandir di dalam ruang kerja suaminya itu.
Keesokan harinya,
Pagi-pagi Gina sudah berpamitan kepada sang ibu mertua untuk mengunjungi kediaman Papa Farrel.
..
Tap tap tap.
"Oh, ada Nyonya Muda Stefan Yoris, ternyata kau masing ingat pulang ke sini yah," sindir Helena, yang ternyata masih nyaman menumpang di rumah itu.
"Maaf, saya tidak ada urusan dengan anda." Gina kembali melanjutkan langkahnya.
"Gina, Gina ... ternyata kau sangat berani ya, by the way ... apa ... mantan kekasihku itu benar-benar memperistri dirimu? Aku menduga kalian bahkan belum melakukannya lagi. Ingat. Dia hanya menikahimu karena bocah itu." Helena menyilangkan tangan diatas perutnya.
"Maaf, apa kau masih tidak terima aku menjadi istrinya? Owh, haruskah aku mengirim rekaman video panas dimalam pertama kami?" Gina memunculkan seringai licik di sudut bibirnya. "Aku sudah berpesan Helena, rebut dia kembali selagi kami belum resmi menikah. Tapi apa yang kau lakukan? Sekarang kami sudah sah, bahagia dan penuh cinta. Jangan harap bisa mengambilnya lagi. Kau sudah terlambat."
Sebuah ide gila tiba-tiba muncul dalam otak Gina. Ia lalu mengambil ponselnya dan memberanikan diri menelpon Stefan. Tentu saja sembari memanjatkan doa supaya Stefan tidak mengatakan sesuatu yang bisa mengacaukan akting pertamanya ini.
drruuut drrruuutt
Tentu saja pria itu segera menjawabnya sekalipun saat ini ia tengah memimpin sebuah meeting yang sangat penting.
__ADS_1
"Maaf, ini telepon dari istri saya, jadi saya harus menjawabnya." ucap Stefan, penuh keramahan, yang mana membuat semua yang hadir sepakat mengangguk.
(Halo, mama Arsen.) sapanya.
Gina:
(Halo juga papa Arsen sayang, bagaimana disana? Apa ... semuanya baik-baik saja? Aku dan anak kita sangat merindukanmu. Cepatlah pulang ya, sa ... yang), Gina benar-benar mengatakan kalimat panjang yang secara acak terpikirkan di dalam otak cerdasnya.
Stefan:
(I-ya ...,) Stefan hanya menjawab dengan satu kata yang hanya terdiri dari tiga huruf itu. Pria itu tentu saja syok dengan energi positif yang sangat tiba-tiba dari istrinya itu.
"Helena, sekarang kau dengar kan?"
Tuut tuut tuut,
'Meresahkan. Jadi wanita itu sedang berakting? Awas saja dia, akan ku tambah hukumannya.'
Kembali ke kediaman papa Farrel.
Gina pergi menjauh dari Helena setelah berhasil membuat panas dalam hati wanita itu, membuatnya mematung dengan rahang mengeras.
"Kakakku, kau terlihat sangat keren" puji Nio pada kakak perempuannya.
"Nio, kenapa sepupumu itu meresahkan sekali? Dia sungguh mengganggu ketenanganku." desis Gina, dan Nio hanya menggidik bahu.
Karena hari ini Farrel tidak berangkat ke kantornya, maka oria itu pastilah berada di ruang kerjanya di rumah.
Setelah mengetuk, Nio dan Gina masuk dan menemukan papa Farrel sedang terlihat sibuk memghubungi beberapa orang.
"Gina, kamu datang?" Sapa sang ayah.
__ADS_1
"Iya pah, aku mau bilang, aku sudah bernegosiasi dengan Rio melalui telepon. Dia sepertinya bisa di ajak kompromi, akan tetapi ... dia mengajakku bertemu besok malam untuk membahasnya baik-baik. Aku akan pergi. Papa tidak perlu risaukan apapun, aku akan baik-baik saja."