Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Daddy ...!


__ADS_3

"Pakaian apa ini? Rio sengaja memintaku mengenakan ini? Apa yang ada di otak pria itu?"


Dan lagi, secara tiba-tiba Rio memajukan waktu pertemuan dengan Gina. "Apa pria itu sudah tak sabaran bertemu dengan istri orang lain? Dasar tak tahu malu."


Pertemuan yang seharusnya nanti malam, berubah ke waktu sore hari. Gina berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap bertemu denga Rio untuk bernegosiasi.


\=\=


"Csssh, aku tahu Gina, kau akan melakukan apapun demi ayahmu itu. Tapi tak apa. aku tidak akan mengecewakanmu Gina." Rio bergumam.



(pinjem dirimu yah oppa😆)


Orland Mario sudah tiba di restoran lebih dulu. Dengan perasaan dag dig dug ia menunggu kedatangan Gina. "Maaf Gina, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaanku padamu. sekalipun kamu adalah milik orang lain, aku tidak peduli. Aku bisa jadi lebih baik dari pada Stefan."


Tak lama, muncullah wanita yang ia tunggu.


"Waw ... dia benar-benar mempeson." Rio bergumam.



"Maaf membuatmu menunggu, Rio."


"Gina, duduklah. Santai saja," ujar Rio, ramah. Terlihat jelas kebahagiaan diwajah pria itu.


Gina pun duduk di tempat yang disediakan untuknya.


"Langsung saja Rio, aku tidak punya waktu banyak. Mari bicarakan kesepakatan baru."


"Begitukah? Bagaimana jika kita sepakat untuk menjalin hubungan seperti pasangan kekasih." ujar Rio tanpa basa-basi.


"Apa?"


"Jadikan aku suami kedua. Aku tidak apa-apa"


Permintaan Rio benar-benar membuat Gina ingin meneriaki pria itu. Namun, kekesalannya ia tahan demi memperlancar urusan mereka.


"Rio, bukannya aku jual mahal. Tapi aku punya suami. Bahkan, aku punya anak. Aku tidak bisa menghianati mereka." jawab Gina, datar.


"Aku tidak peduli Gina."

__ADS_1


"Rio, please. Kau bisa mendapatkan seorang gadis cantik. Jangan aku." Gina sedikit menekan perkataannya.


"Tapi aku memilihmu Gina," Rio mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Gina.


"Gina, aku akan mengembalikan semua saham ayahmu secara cuma-cuma asalkan kau bersedia membuka hati untukku." tutur pria itu, dengan wajah memohon. ia lalu mengeluarkan sebuah box mewah berukuran mini dari saku dan membukanya dihadapan Gina, yang membuat mata Gina auto membulat.


"Menikahlah denganku." Sebuah cincin permata indah ingin Rio sematkan pada jari Gina.


"Stop Rio, hentikan." Gina lalu berdiri dari duduknya.


Tap tap tap tap


Terdengar langkah kaki seseorang memasuki ruangan yang dimana hanya ada Gina dan Mario, keduanya pun menoleh.



"STEFAN?" Rio terlihat menelan kasar. Ia pun ikut berdiri.


Gina? tantu saja wanita itu merasa senang atas kedatangan suaminya. Namun, rasa was-was, takut dan khawatir lebih mendominasi perasaannya.


Stefan semakin mendekat. Akan tetapi, ia menghentikan langkahnya memberi jarak beberapa meter. Bagi pria itu, saat ini bukan waktunya untuk bergulat adu kekuatan otot dengan saingan liciknya ini.


"Apa maksud kalian berdua bertemu di belakangku?" tanya Stefan yang mana membuat Gina merasa tertuduh telah main serong.


"Tentu saja karena aku mencintai Gina." jawab Mario, mantap. Saat ini ia berada di sebelah Gina.


"Cinta?" Stefan kini menatap lurus istrinya. Sorotan dari mata tajam Stefan menyapu tubuh istrinya itu dari bawah sampai atas kepala.


"Kau bilang cinta tapi memakai cara licik untuk mendapatkannya?"


Gina yang tak ingin suaminya mengetahui permasalahan keluarganya pun melangkah pasti mendekati Stefan. "Papa Arsen, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ujarnya panik.


Stefan tidak menanggapi Gina. Ia kembali melayangkan tatapan lasernya pada Mario.


"Ayo kita pergi dari sini Fan," Gina menarik tangan suaminya. Namun tidak berefek apapun.


"Juallah perusahaan mainan itu padaku. Dengan begitu aku akan membiarkan kejahatanmu."


"Cssshh... apa? Kau pikir kau bisa membodohiku Stefan?"


"Membodohi? Kau terlalu pintar untuk kubodohi Rio. Tapi merusak harga saham lalu menggelapkan uang sebuah perusahaan yang bahkan baru berkembang dan membelinya dengan harga terjun bebas adalah tindakan licik dan murahan."

__ADS_1


'Jadi ... dia tau permasalahan papa?'


"Fan, dari mana kamu tahu masalah itu? Apa papa memohon bantuanmu? Atau mama Veni?"


"Brengsek, jangan berani menghinaku Stefan. Aku akan jadi orang jahat jika ketenanganku diusik."


"Begini saja, biarkan aku yang ambil alih perusahaan itu dan tikus yang telah kau lepaskan disana akan ku bebaskan. Asal kau tahu saja, aku sudah menangkap tikus-tikusmu itu dan mereka telah membuat pengakuan. Jika pengakuan mereka sampai ke pihak berwajib, maka ... karirmu sebagai CEO terkenal akan hancur saat itu juga."


"Kau berani mengancamku Stefan? Apa kau ingin keluargamu hidup terancam selamanya? Aku juga bisa menghancurkan karirmu. Apa kau pikir aku tidak tahu skandalmu beberapa tahun lalu?"


"Kau juga memgancamku Rio, aku tegaskan. Jangan pernah menyentuh istri dan anakku, jika kau dan keluargamu ingin hidup tenang."


"Jangan pernah bermimpi menyelamatkan saham ayah mertuamu. Hanya aku yang boleh melakukannya."


"Kenapa? Karena istriku? Kau menginginkan istriku sebagai gantinya?" Stefan tersenyum licik. "Jika dia mau denganmu, ambil saja dia." dengan nada menghina sembari melirik Gina sekilas. 'Maaf Gina sayang, aku tidak bermaksud mengatakan ini.'


"Daddyyyyyyy ...!"



Seorang anak perempuan tiba-tiba berlari memasuki ruangan itu dengan wajah bahagia.


Stefan, Gina dan Mario beralih pandang ke arah gadis kecil itu.


Yang lebih mengejutkan adalah anak perempuan kecil itu berhenti tepat di hadapan Stefan.


'Tidak! dia ... panggil suamiku Daddy?'


Setelah menatap lekat anak perempuan itu, perlahan Gina menggeser pandangannya dan yang membuat Gina bertambah syok, suaminya itu pun memberi senyum hangatnya pada gadis kecil itu membuat Gina spontan melangkah mundur dan membekap mulutnya sendiri. Ia tatap suami dan anak perempuan asing itu secara bergantian dengan tatapan tak percaya.


Melihat pemandangan menghibur di depannya, Mario kini melangkah mendekati Stefan dengan gagahnya.


"Aku sudah menduga Stefan, kau bahkan memiliki seorang putri sekarang, berapa wanita yang telah kau tiduri. Hmm?"


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2