
Dengan langkah tergesa, ayah dan anak itu memasuki kediamannya.
“Mamaa!” Suara Arsen menggelegar. Sedangkan ayahnya, hanya tersenyum. Legah, mengetahui Gina berada di rumah.
“Hai sayang” Gina merentangkan tangan, menyambut putranya.
“Wah, cucu nenek sudah pulang. kayaknya happy bener? Seneng yah malam mingguan sama tannte Helena?” Ny. Yoris melirik Gina sekilas saat menyinggung nama Helena.
‘Sepertinya mereka habis bersenang-senang, ya ... nikmatilah kebersamaanmu dengan papa, sebelum aku membawamu pergi darinya Arsen,’
Gina membatin. Diusapnya kepala anaknya itu, yang sedang duduk di pangkuannya.
“Justru kita senang karena sudah tiba di rumah. Iyakan boy?” Stefan lalu meneguk air mineral setelah mengatakan itu.
“Hehehe. Iya, soalnya, Arsen kangen mama.”
“Oh? Benarkah itu?”
“Iya Mama, Paapa juga kangen mama Gina, iya kan Pa?”
“Pffff. Uhuk uhuk uhuk!” Stefan keselek air minum yang baru saja masuk dalam tenggorokannya.
“Uhuk, uhuk, waduh, kok mama jadi tiba-tiba batuk juga yah!” Ny. Yoris kini menepuk punggung belakang putranya yang tiba-tiba saja keselek gara-gara mulut bocahnya sendiri.
Sementara Gina, ia menatap ayah dan anak itu bergantian, dengan tatapan aneh.
“Sayang, mama kaget anak kamu bilang kalau kamu ngangenin Gina,” tersenyum senang.
‘Arsen, kamu tuh ngerusak kartu papa deh,’ Stefan terlihat salah tingkah.
“Ah ... maksudku, itu, e—“ Stefan terbatah.
“Tidak perlu gugup begitu. Siapa yang akan mempercayai perkataan anak kecil?” tukas Gina, dengan santainya mengunyah sambil menikmati acara televisi, dan itu sedikit melegakan Stefan yang jelas-jelas merasa telah ketangkap basah.
“Mama ... kita bobo bareng Papa lagi ya,”
“Arsen aja sayang, mama di kamar Arsen aja yah,”
“Nggak mau! Arsen pengen sama Mama Papa” anak kecil itu mengaktifkan mode murungnya.
Stefan melirik Gina, kebetulan Gina juga melirik Stefan, membuat keduanya saling pandang.
“Hei ... tentu saja Arsen sayang, kalian bertiga akan selalu bobo bersama” si Neneknya bocah itu selalu siap memberi dorongan ketika ada kesempatan.
“Bagaimana kalau kaliaan berdua menikah saja?” Tn. Toni Yoris tiba-tiba muncul dan mengatakan sesuatu yang tak masuk akal.
“Hah?” Stefan dan Gina menampakkan ekspresi terkejutnya.
“Iya sayang, lebih baik kalian menikah saja. Secepatnya. Sebelum anak ini tumbuh semakin besar!” ny. Yoris kembali menimpali.
“Tapi Pa, ma, aku ... belum bisa saat ini.” Ujar Stefan.
Degh ...
Hati kecil Gina merasa sedikit tersengat mendengar penolakan halus dari Stefan.
__ADS_1
“Tidak perlu menikah nyonya, Tuan! Tidak ada majikan yang menikahi pengasuh anaknya,” jawab Gina. Stefan terdiam dengan segala pikiran yang mengganggunya.
“Oh, mungkin kalian perlu waktu untuk berpikir lagi. Stefan, bingung karena kekasihmu yang kau tunggu-tunggu itu telah kembali? Segera tentukan pilihanmu. Kekasihmu, atau pengasuh anakmu. Tolong jangan lama-lama. Cucuku sudah semakin besar. Aku tidak ingin dia tumbuh dengan kebingungan karena tidak mengetahui siapa ibunya.”
Stelah menegaskan setiap keinginan dan harapannya, Tuan Yoris itu pergi dengan langkah penuh wibawanya.
Lagi-lagi Gina hanya bisa memendam perasaan yang bersarang di dasar hatinya.
Di Kediaman Keluarga Yares.
“Apa katamu? Gina bahkan tidur di kamar Stefan?”
“Iya tante veni, si Arsen itu yang menginginkan mereka tidur bertiga. Tapi tidak menutup kemungkinan kan, kalau suatu saat mereka saling suka?”
“kamu benar Helena,”
“Akh, tidak. Aku benci memikirkan itu tante, aku harus cepat bertindak.”
“Kamu tenang Helena. Kita cari tahu dulu, si bocah itu, apakah anaknya Gina atau bukan!”
Kedua wanita itu tidak menyadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka dengan sangat jelas.
‘Sebelum kalian berdua bertindak, aku yang akan bertindak lebih dulu. Jangan berpikir bisa mengacaukan kehidupan kakakku.’ Seseorang itu tak lain adalah Nio Fernando Yeres.
Kembali ke kediaman Keluarga Yoris.
"Mama ... Papa, Arsen ngantuk! Hoooaaamm” anak itu menguap lebar.
“Oke boy, kita ke kamar papa yah,”
“Emmm. Arsen duluan saja sayang, nanti mama menyusul. Mama masih nonton drama dulu, oke”
‘Alasan saja dia’ batin Stefan.
“Ayo boy, kita ke kamar, nanti mama akan menyusul kita” melirik sekilah kearah Gina.
“oke deh pah,”
Keduanya pun menaiki tangga menuju kamar Stefan. Gina hanya menatap kepergian keduanya dengan menyunggingkan sedikit senyuman.
30 menit kemudian.
‘Mungkin saja dia sudah tertidur. Lebih baik aku ke kamarnya dan tidur.’ Gina membatin. Wanita itu lalu menaiki tangga, ingin menuju kamar putranya, namun sebelumnya ia memastikan keadaan Arsen di kamar Stefan.
Ceklek,
Gina membuka pintu dengan hati-hati.
Stefan yang belum terlelap, menutup mata seolah sedang tertidur.
Beberapa saat, Gina menatap ayah dan anak itu, yang tertidur berpelukan. Arsen tertidur di dada ayahnya sambil memeluk pria itu.
Gina mengelus kepala anaknya itu dengan sayang. ‘Ya ... peluklah dia Arsen, nikmati kebersamaan terakhir ini. Setelah ini, kamu tidak akan bertemu Papa lagi meskipun kamu merengek. Kita berdua akan segera pergi darinya. Akkh, rasanya sangat sakit membayangkan itu. Mampukah aku memisahkanmu dari ayah yang sangat kamu sayangi ini?’
CUP.
__ADS_1
“Selamat tidur Arsen sayang” Lama Gina mengecup kepala bocah itu.
Degh-
Arsen yang mendapat kecupan, tapi Stefan yang merasakan efeknya. Jantung pria itu lagi-lagi berdebar.
Bagaimana tidak, kepala bocah itu bertengger di dada Stefan, sehingga membuat jarak Gina dengannya kini sangat dekat. Stefan dapat menghirup aroma sensual dari tubuh wanita ini, yang seakan memintanya untuk dapat menghirupnya lebih dalam lagi.
‘Gila. Jantungku benar-benar terasa semakin tak jelas saat dia sedekat ini.’
Ceklek,
Stefan membuka mata. “Setelah membuatku berdebar, dia pergi? Kemana dia? Apa dia tidak tidur?” bergumam.
Stefan lalu membuka ponselnya yan sudah lama ia diamkan. Ternyata .. ada beberapa pesan disana.
“Foto?” kedua mata Stefan membelalak saat melihat beberapa foto yang dikirim ke ponselnya.
“Apa ini? Siapa ini?”
Foto-foto tersebut di kirim oleh orang suruhan Stefan yang menguntit Gina, memperlihatkan pengasuh putranya itu sedang berpeluk erat dengan seorang pria.
GERAM. Itulah yang dirasakan oleh Stefan. Pria itu segera keluar dari kamarnya mencari keberadaan Gina. Kamar Arsen, itulah yang menjadi tujuan pria itu.
Ceklek,
Tanpa mengetuk, langsung membuka pintu.
“Aaaaaaaaaaaa” Gina berteriak karena terkejut.
Stefan pun nampak kaget dengan penampakan di depannya. Ternyata Gina mengenakan pakaian tidur haramnya, membuatnya terlihat sangat sexy.
“Sssuuutt! Diam!” reflek membekap mulut Gina.
“jangan berteriak. Orang akan mengira aku sedang ingin melecehkanmu.”
Stefan tak sadar, sedang dalam posisi yang tampak tak senonoh, dimana dirinya berada diatas tubuh wanita itu, yang sedang terbaring diatas tempat tidur.
“Lepas. Apa maksudmu? Masuk kamar tanpa mengetuk?”
“Terserah aku, ini rumahku. Sekarang jawab, ini siapa?” Memperlihatkan Foto Gina dan seseorang yang adalah adiknya itu.
“Em... e... dia ...”
“Siapa yang menyuruhmu bebas berkeliaran dan bertemu dengan pria lain hah?” Pria itu bertanya dengan nada tak suka, menahan kedua tangan Gina.
“Pak Stefan? Kenapa anda terlihat marah. Lepaskan aku!”
.
.
Bersambung....
guys, komen please, semangatin aku🤭
__ADS_1