
"Kau boleh lakukan apapun Gina sayang, pedangku ini milikmu. Aah," -mendesah, enak. ******* bibir istrinya itu kini terasa maju mundur pada benda pusakanya.
"Aaaah, oohw, aaaaah... Ginaa, ini sa ...ngat, nikmat, sayang... aaaahhh,"
"Ayo buat dia terasa lebih nikmat, papa Arsen,"
"Baiklah! Kau mau gaya apa, hmmm?"
"Duduk!"
"Oh, aah, ooh, aah...." terdengar desahan yang saling berperang.
Emmmmmh, Stefan mulai meremas kedua aset berharga milik istrinya, serta melumaatnya dengan lembut.
"Ahhhhhh, kak Stefan,"
"Hhhm? Apa sayang? Enak? Hmmm?"
"Ahh, ahh, Kaaak ...Stefan, aku mera...sa sedang, me...layang."
skidipappapappapdumdumdumpeppeppep.
Akhirnya, adegan berbahaya itu, berakhir setelah keduanya sama-sama telah mencapai puncak kenikmatannya.
"Sayang ... mau mandi dulu, apa tidur saja dulu?"
"Mandi. Ayo, aku masih ada sisa tenaga buat gendong kamu masuk bathup."
Di dalam kamar mandi, pasangan itu kini berendam dalam bathup, dengan taburan bungan aromatetaphi. Stefan memeluk Gina yang bersandar di atas tubuhnya.
"Kenapa memainkannnya lagi? Kamu masi ingin?"
"Aku hanya ingin menyentuhnya. Ini milikku, kan Gina!"- Stefan, meremas.
Remas apa thor?
😆 tebak aja sendiri.
"Iya papa Arsen, ini ... dan semuanya adalah milikmu. Kamu, juga milikku. Jangan pernah bermain gila di belakangku ya, sayang."
"Di belakang ataupun di depanmu, tidak akan terjadi sayang. Kamu juga ya, bahkan ujung kukumu ini jangan bersentuhan dengan pria manapun. Paham?" -kembali meremash sesuka hati.
"Sayang, dulu, setelah aku mengantar Arsen saat berusia 6 bulan, aku sangat menderita. Karena, aku tidak bisa memberi ASI lagi ke dia dan itu terasa sangat sakit. Aku bahkan sampai demam."
"Demam? Kenapa? Kamu tersiksa merindukan dia?"
"Bukan hanya itu. Maksudku, ini ... yang sedang kamu remas, terasa sangat sakit karena ASI di dalamnya tidak lagi bisa tersalurkan ke anak itu."
"Gin, kamu saat itu kan sakit, kamu tetap memberi ASI?"
"Saat itu kan penyakitnya baru aja mulai. Jadi tetap aku berikan." -menangis dalam hati.
"Sayang, maafkan aku ya, aku tidak disampingmu di saat-saat kamu menderita. Kamu, tersiksa sendirian. Andai saja ... saat itu kita sudah saling mengenal. Aku akan rawat kamu baik-baik. Aku yang akan bantu habiskan ASI-nya biar ini tidak sakit."
__ADS_1
"Cssssh, belum tentu papa Arsen, saat itu kamu sedang menunggu kembalinya cinta pertamamu kan, kamu bahkan membenci mama Arsen, kamu ... membenci aku saat itu."
"Eh, jangan bawa-bawa orang lain. Coba saja kamu waktu itu terang-terangan datang bertemu denganku bersama Arsen, percayalah, saat itu juga aku akan nikahi kamu."
"Tidak mungkin, itu mustahil. Yang ada, kamu pasti akan mengusirku apa lagi kalau tahu aku sedang sakit. Pasti kamu tidak sudi menikahi wanita penyakitan."
"Hei, otak mu ini, berhenti berpikir yang tidak-tidak."
"Hehe ..." -cengegesan.
"Gin, kenapa saat kita bercinta di kamar ini, kamu selalu memanggilku kak Stefan?"
"Kenapa? Ada masalah? Kamu tidak suka?"
"Aku suka, tapi kenapa?"
"Entahlah, saat di kamar ini, aku mengingat bayangan dirimu yang dulu." -tersenyum.
"Jadi, apa bagimu malam pertama kita cukup berkesan?"
"Ya ... sangat berkesan. Itu tidak bisa aku lupakan. Dengan mudahnya aku memberikan diriku ke kamu. Itu kebodohan terbesar yang pernah aku lakukan sepanjang sejarah hidupku."
"Jangan menyesalinya sayang, kamu itu ... sangat berharga bagiku."
"Aku tau itu. Papa Arsen, mari jadikan kamar ini milik kita berdua. Saat bosan melakukannya dirumah, kita akan ke kamar ini, bagaimama?"
"Ide bagus Gina sayang, aku setuju. Aku akan membicarakannya dengan pemilik hotel ini."
............
"Giveeen! Giaveeen!"
"Apa, apa! Ada apa Mommy?" -berlari menghampiri Jenni.
"Lihatlah, kaki mommy sudah sembuh. Mommy tidak butuh tongkat lagi!"
"Yeeeee! Horeeee! Mom, Given akan panggil Daddy." -berlari untuk memanggil Mario.
"Eh? Kenapa harus beritahu dia?"
.
"Daddy... Daddy...!"
"Ada apa Venn?"
"Dad, mommy tidak butuh tongkatnya lagi. Kaki mommy sembuh." -dengan wajah sumringah.
"Wah benarkah? Ini berita bagus."
"Dad, ayo lihat mommy."
"Sabar Ven, daddy akan selesaikan ini dulu." -hampir selesai membuat sarapan.
__ADS_1
"Ayolah Daddy, cepet!"
"Given?" -Jenni menuruni tangga.
"Momm? Dad, itu mommy datang."
Mario hanya melirik sekilas, lalu meletakkan sarapan buatannya ke atas meja.
"Daddy, ayo!" -menarik paksa ayahnya, mendekat ke arah Jenny.
"Selamat ya, mommy sudah sembuh!" -Mario memberi pelukan, berhasil membuat Jenni melebarkan bola matanya.
"Ehmmm. Iya," -Jenni menjawab singkat.
"Mom, Dad, ayo sarapan."
Ketiganya kini menikmati sarapan bersama.
"Tidak perlu menyuapiku lagi. Aku bisa makan sendiri."
"Diamlah, sayangi tangan patahmu. Aaaaaaa, buka mulut."
"Tanganku sudah tidak begitu sakit. Aku bisa pelan-pelan." -membuka mulut, menerima suapan.
.
"Good morning!"
Tepat setelah menyelesaikan sarapan, Tommy datang dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya.
"Toommm! Kau datang? Aku merindukanmu" Jenni berdiri lalu berjalan menyambut Tommy dengan merentangkan tangan.
Melihat reaksi berlebihan itu, membuat Mario ikut beraksi. "Sssh, meresahkan!" gumamnya.
HUGH, Jenni memeluk.
"Mario?" Kaget, karena orang yang dipeluknya adalah pria itu, Mario.
"Apa?" -Mario menatap dengan menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa, jadi kamu?" -Menarik tangannya, namun ditahan oleh Mario.
Pria itu pun menjawab,
"Ini baru benar. Orang yang harus kamu peluk itu adalah aku. Bukan Pria lain. Hmm?"
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Salam sehat guys