
Tiba di depan kamar yang bertuliskan angka 2212.
Tok tok tok.
Stefan mengetuk.
Ceklek,
"Papa Arsen," suara Gina memanggil. Namun, bukan pintu bernomor 2212 yang terbuka, melainkan 2211.
Stefan pun menoleh, dan benar saja. Istrinya itu keluar dari sana dan berjalan ke arahnya, lalu tanpa basa-basi langsung nyosor mencium bibir milik suaminya itu.
Ceklek,
Kamar bernomor 2212 pun terbuka, memunculkan sosok Helena dengan penampilan yang sungguh menguji iman kaum Adam. Betapa terkejutnya wanita itu melihat adegan ciuman panas persis di depan matanya.
Geram? Sudah pasti.
Gina yang menyadari sepenuhnya bahwa Helena menyaksikan hal itu, semakin memperdalam aksinya, dengan mata terbuka sempurna menyoroti Helena yang nampaknya sedang kesal.
"Papa Arsen, kamu mengetuk pintu kamar yang salah." bisik Gina dengan nada manja. "Bukankah ... 2211 adalah tempat malam pertama kita?" Gina mengedipkan sebelah matanya, menggoda. Yang mana membuat Stefan tersenyum senang.
"Kamu yang memberiku nomor kamar yang salah sayang,"
"Oh, anggap saja ... aku salah saat mengetik pesan. Bagaimana kalau kita berdua ke kamar yang benar sekarang? Soalnya ... disini ada orang lain." Melirik Helena.
Stefan pun memutar pandangan matanya, lalu bertemu dengan tatapan tajam dari Helena.
"Helena, kau ... disini?" Stefan mengerutkan dahi. "Di kamar ini?" sambungnya lagi.
Helena, saat ini wanita itu merasa benar-benar sedang dipermainkan. Dengan perasaan marahnya yang telah sampai ke ubun-ubun sudah tidak bisa lagi mentolerir hati dan pikirannya dan merasa dirinya harus bertindak.
"Kalian?" Dengan langkah besarnya ia mendekati Stefan dan Gina dan siap menancapkan jarum suntik yang ia sembunyikan di balik tubuhnya ke salah satu dari mereka.
"Kalian sedang main main denganku?" Ia layangkan tangannya ke udara, siap untuk memukul. namun sayang, tangannya ditahan oleh Stefan. Saat tangannya ditahan oleh tangan pria itu, disitulah ia berpikir memiliki kesempatan untuk menancapkan jarum suntiknya ke pria itu. Namun, lagi-lagi, seseorang menggagalkan aksinya hingga merampas spui tersebut dari tangan Helena.
"Nio?"
"Sorry kak Helena, aku ... menggagalkan usahamu. Berhentilah. Kau sudah kalah."
"Nio, Kau," tatapan Helena bertambah menakutkan. Dengan mengeraskan rahang ia menahan kemarahannya yang saat ini rasanya hanya ingin mengamuk.
__ADS_1
"Kalian bertiga, memoermainkanku? Ini namanya pengeroyokan." bentak Helena.
"Papa Arsen, lepaskan tangannya" dengan kasar Gina membuat tangan Stefan melepas tangan Helena. "Aku sudah pernah bilang kan sayang, jangan pernah bersentuhan dengan wanita manapun selama kamu jadi milikku."
'Astaga Gina, ini bukan saatnya cemburu. Itu bukan sentuhan aku sedang menahannya untuk tidak berbuat kasar padamu.' batin Stefan, lalu tersenyum menatap istrinya.
"Kau bilang ini pengeroyokan? Baik. Cukup aku yang akan menghadapimu sebagai sesama perempuan."
Gina mendorong tubuh Helena untuk masuk ke kamar 2212, semntara Stefan dan Nio ia minta tunggu diluar.
"Gina, kau cukup pemberani sekarang?"
"Itu tidak penting Helena," Gina meremas pakaian tipis yang dikenakan wanita itu.
"Apa maksudmu meminta suamiku mendatangi kamar ini? Apa kau pikir dia akan dengan senang hati bermain denganmu? Apa kau masih ingin memakai trik lama itu untuk mendapatkannya? Tidak akan bisa. Stefan, hanya tergila-gila padaku. Owh ... cairan dalam suntikan itu? Cairan apa itu? Sesuatu yang akan membuatnya mati? atau... pingsan? Atau sesuatu yang akan membuatnya menyerang dan memperkosamu, seperti yang dialakukan padaku 6 tahun lalu? Uppsss, tidak, dia tidak memperkosaku. Tapi ... aku yang dengan senang hati menikmatinya." Gina, tersenyum jahat.
"Gina, kauuu!"
"Wah, kamar apa ini? Kamar ini sangat keren, kau sepertinya sudah mengeluarkan uang banyak untuk membuat kamar seindah ini Helena, apa kau sakit?" Gina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Apa kau tidak punya harga diri? apa kau serendah itu? Helena, kita ini sama-sama wanita. Apa kau sanggup menyakiti perasaan wanita lain?"
Degh.
"Berhentilah, sebelum kau menyesali semua ini. Kau tidak akan berhasil. Sadarlah, atau ... tindakanmu ini bisa membuatmu hidup di dalam jeruji dalam waktu yang lama."
Gina pun melepas remasan tangannya dari kerah baju Helena.
"Helena, bagaimanapun juga, terima kasih karena dulu pernah membuangnya hingga aku memiliki kesempatan untuk mendapatkan dia."
Gina lalu pergi meninggalkan kamar itu. Sedangkan Helena, wanita itu berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Stefan terlihat mendekati Gina dan memeluknya.
"Ehm ... sepertinya, ada yang punya nama panggilan baru nih," sindir Nio, dan pasangan itu hanya tersenyum ke arahnya.
"Nio, sekali lagi terima kasih ya," ucap Stefan tulus, pada adik iparnya itu.
"Sama-sama kakak ipar, kakak tenang saja. Demi kebahagiaan kakakku, aku akan melakukan apapun."
Nio lalu melihat jam di tangannya. "Kurasa, aku harus pergi. Kakak ipar, kakak, selamat bersenang-senang." Nio tersenyum dan melirik ke arah kamar 2211.
__ADS_1
Setelah kepergian Nio, pasangan itu kini saling lirik-lirikkan.
Stefan mulai memainkan lidah di dalam mulutnya dan menatap Gina dengan tatapan nakal.
"Gina sayang, ayo segera lanjutkan yang tadi." bisiknya di telinga Gina, yang mana membuat Gina menutup wajah pria itu dengan tangannya.
"Nakal ya, tadi itu sedang menjalankan misi papa Arsen,"
Stefan lalu mengambil kedua tangan yang menutup wajahnya itu dan mengalungkannya ke leher, lalu ia peluk pinggang ramping istrinya itu.
"Tapi gara-gara tindakanmu itu, aku jadi ingin melakukannya. Bagaimana ini? Harus kulampiaskan dimana? hmm?" masih dengan tatapan nakalnya.
"Ya? Baiklah ..." jawab Gina lalu memberi kode melakui matanya dengan melirik pintu 2211, yang artinya mereka berdua harus segera masuk kesana.
\=\=\=\=
Ditempat lain, tepatnya di pemberhentian lampu merah. Arsen, yang duduk di belakang kursi sang supirnya, melihat seorang adik perempuan manis berambut pendek yang juga duduk sendirian di kursi belakang mobil yang ia tumpangi. Sayangnya, anak perempuan itu terlihat sangat sedih, terlihat dari bibir bawahnya yang dimanyunkan. Anak perempuan itu membiarkan kaca mobilnya terbuka dimana kepalanya ia baringkan dengan tatapan sedih. Arsen pun menurunkan kaca mobilnya agar bisa menyapa adik perempuan itu.
"Hai ..." sapa Arsen, lalu tersenyum.
Sang anak perempuan itu pun membalas senyuman Arsen. Wajah manyun itu sudah tak terlihat lagi.
Arsen lalu mengambil 1 pcs cokelat dari tas sekolahnya dan ingin memberikannya pada anak perempuan itu.
"Kakak akan melemparnya." seru Arsen dan benar-benar melempar itu. Beruntung, itu tepat jatuh ke mobil anak perempuan tersebut. Saat lampu hijau kembali menyapa, semua orang pun kembali melanjutkan perjalanan.
....
"Given, apa itu sayang?" tanya Mario saat tahu anaknya tiba-tiba memegang sesuatu, padahal sebelumnya tidak ada.
"Coklat Daddy, dikasi teman." jawab Given.
"Jadi, happy sekarang? Tidak perlu cari mommy lagi?" tanya Mario, yang sudah hampir menyerah berkeliling kota tidak jelas hanya untuk mencari Jenny.
"No. Kita harus temukan mommy, dad."
"Baiklah sayang,"
Kini, Mario memutar arah menuju kantor polisi untuk melaporkan Jenny sebagai orang hilang.
.
__ADS_1
.
Bersambung.