Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Mimisan


__ADS_3

Deg deg! deg deg! Jantung Mario berdetak tak karuan karena ulah Jenni, main peluk dadakan


'Apa ini? Dia benar-benar menahanku? Apa yang sedang merasukinya?'


"Jenn, kenapa? Kau takut sendirian?"


Jenni pun melonggarkan pelukannya dan Mario kini berbalik menghadap Jenni.


"Ada apa denganmu? Kenapa dengan air matamu?" -Mario mengusap airmata itu dengan lembut tambah lagi tatapan sendunya yang tak kalah menyentuh.


"Mario,"


"Hmmmm?"


"Apa suatu saat kau akan mencari wanita yang lebih baik dari aku? Atau apa ... sudah ada? Aku ingin kau jujur dari sekarang."


"Bicara apa? Jangan terlalu banyak pikiran." -Kali ini, ekspresi wajah Mario terlihat bingung, apa maksud pertanyaan ini. Tiba-tiba wanita ini menanyakan hal yang bahkan tidak pernah terlintas di benak Mario.


"Mario, apa ... kau bisa setia selamanya? Hanya melihatku, tidak akan tergoda dengan pesona wanita lainnya? Bisakah?" -Jenni, dengan tatapan khawatir.


Mario membalas tatapan itu dengan perasaan campur aduk yang di obrak abrik. 'Jadi kau selalu meragukanku? Dasar wanita.'


Pletak.


"Aw...! Mario!" -mengelus dahinya yang baru mendapat sentilan dari Mario.


"Sakit? Hmm?"


"Iyaaaa!" -memanyunkan bibir.


"Fffuuuuf ffuuuuf!" -meniup pelan. "Apa masih sakit?"


Jenni menggeleng.


"Sini," -menarik tubuh Jenni, memeluknya. "Aku ... kalau aku bilang tidak akan pernah berpaling darimu, apa kau akan percaya?"


Jenni mengangguk dalam dekapan.


"Apa itu artinya kau mulai menerimaku sekarang?"


Kembali wanita itu mengangguk.


Anggukan itu membuat Jenni mendapatkan pelukan yang semakin erat. Ia pun membalasnya.

__ADS_1


"Apa Jenni-ku sudah kembali sekarang?"


"Hemmm! Tapi jangan buang aku lagi ya, aku ... sayang daddy Given." -mendongakkan wajah, menatap manja.


"Hei! Jangan khawatirkan aku. Khawatirkan perasaanmu saja. Hmmm?" -mencubit hidung.


"Daddy! tadi kau sudah sentil dahiku. Sekarang cubit hidungku?" -memegang hidungnya.


"Kau sangat menggemaskan! Seperti Given." -tersenyum hangat.


"Kalau aku seperti ini" -mengalungkan tangannya ke leher Mario. Berjinjit, lalu mengecup singkat bibir pria itu. "Apa masih menggemaskan?"


"Bukan menggemaskan. Tapi ... meresahkan." -menahan tengkuk Jenni dangan satu tangan, sementara tangan lainnya berada di pinggang ramping wanita itu.


"Kau yang cari gara-gara lebih dulu. Jangan marah sekarang kalau aku menuntutmu." -Mendekatkan wajah dan akhirnya .... terjadilah saling ******* antar bibir keduanya.


Dari cara mereka saling menyesap dengan rakus, menggambarkan bahwa keduanya memang saling menginginkan satu sama lain. Keduanya melakukan itu sembari menutup mata dan melangkah ke arah tempat tidur tanpa melepaskan ciuman.


"Sayang, maukah melakukannya malam ini?" bisik Mario, ketika Jenni sudah berbaring sempurna dibawahnya. Tentu saja ia sudah tak tahan untuk tidak mendapatkan haknya, melihat tubuh sempurna milik istrinya yang sudah terekspose karena pakaian terkutuk yang sengaja dikenakan untuk membuatnya tergoda. Mario pun mendapatkan anggukan dari istrinya itu sebagai jawaban. Namun, tiba-tiba ...


"Mario, apa ini? Hidungmu berdarah!" -dengan wajah paniknya, Jenni mengusap darah yang bahkan sudah menetes mengenai baju miliknya.


"Ah, sial!" -Mario segera bangkit dan meraih tisu kering diatas nakas dan membersihkan hidungnya.


"Jangan khawatir! Ini hanya mimisan. Aku seperti ini jika kelelahan." -jelas Mario.


"Kalau begitu, ayo ke rumah sakit atau panggil dokter."


"Tidak apa-apa! Aku tidak kenapa-kenapa. Kamu tenang yah, ayo kita istirahat."- kembali ke kasur.


"Baik, mari beristirahat saja."


Keduanya pun hanya berbaring saja, tidak lagi ada rasa ingin melanjutkan cumbuan yang baru saja di mulai.


"Mommy, sini dekat-dekat. Kita kan sudah baikan. Jangan jauh-jauh tidurnya."


Jeni pun mendekat karena tangannya di tarik-tarik oleh Mario.


"Daddy, jangan sakit yah, kamu harus tetap sehat untukku, Given dan mama." -memeluk Mario.


"Iya, Mommy! Jangan khawatir. Mimisan tidak akan membuatku mati. Kau tenang saja."


...............

__ADS_1


Di tempat lain, ada sepasang orang muda lainnya yang sedang bergelut didalam selimut. Dengan suara *******, deru napas yang saling memburu, menikmati surga dunia dengan perasaan bahagia. Siapa lagi kesua orang itu kalau bukan Stefan dan Gina, mama papa Arsen.


"Sayang, setiap hari kau terasa semakin pintar melakukannya." -Stefan mengungkapkan rasa puasnya menikmati tubuh istrinya itu.


"Hmmm. Itu sebabnya, kau hanya perlu melakukannya denganku, papa Arsen."


.


Bersyukurnya, malam ini Arsen, si tampan itu diajak menginap di kediaman Joon, teman yang dianggapnya adik itu. Jadi, papa mama pun bermain panas tanpa khawatir akan gangguan.


...........


Sementara di tempat lain, Helena tengah duduk termenung sendirian seraya menatap ponselnya. Sudah berhari-hari menunggu Mr. Lee memberinya kabar atau sekedar menyapanya.


"Kenapa aku menunggu suami seseorang? Apa aku ini bodoh atau bagaimana?"


Sungguh, Helena menyesali dirinya yang tidak belajar dari pengalaman.


"Aku pernah mengganggu Stefan dan Gina yang sudah sah menjadi suami istri. Lalu untuk apa aku mengganggu Tuan Lee?"


Helena meraba perutnya yang masih rata.


"Kasihan anak ini, dia harus lahir dari orangtua yang tidak mencintainya."


Ia pun magambil ponselnya dan menghubungi Stefan.


[Halo,] suara seseorang menyapa.


[Gina, apa ini kamu?]


[Helena? Ini kau? Apa maksudmu menelpon suamiku?] -dengan nada tegas.


[Karena aku, ingin bicara denganmu Gina.]


............


.


.


Bersambung....


Jreeeng jreeng, apa maksudnya Helena menghubungi Stefan?

__ADS_1


(Mario gagal belah duren pula)😒


__ADS_2