Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Rahim Wanita Lain?


__ADS_3

"Menikah demi Given? Benarkah begitu?"


"Iya. Ayo buat anak itu bahagia. Aku berjanji akan nenjagamu dan Given mulai sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian lagi. Hmm?"


"Jadi kau merasa iba melihat bagaimana aku hidup? Aku akan baik-baik saja." -perlahan melepaskan jemarinya dari tangan Mario.


"Jenn," -Mario yang melihat penolakan dari sikap Jenni, berdiri lalu mendekap wanita itu. "Jenn, kenapa kamu tidak berterus terang? Kenapa saat itu kamu tidak mengatakan tentang kondisi yang kamu alami? Hmm?" -memeluk erat untuk mengekspresikan perasaannya.


"Memangnya kamu bertanya? Tidak kan? Kamu tidak menanyakan apapun. Kamu mengusirku bahkan memintaku membuang Given. Apa yang bisa aku harapkan? Kenapa aku harus menceritakan kondisi keluargaku yang berantakan pada orang lain?"


"Benar, aku memang jahat saat itu. Itu karena aku mengira kamu hanya memanfaatkanku."


"Kau benar! Ya ... aku memang memanfaatkanmu. Karena aku tau kamu memiliki segalanya. Kamu memberiku apapun dan asal tau saja, semua yang kuterima darimu, aku langsung menjualnya lagi untuk mendapatkan uang. Semua benda mahal yang kau berikan dengan rasa bangga, itu semua tidak berarti untukku karena yang dibutuhkan untuk merawat mamaku adalah uang. Kau tidak salah sangka. Aku memang memanfaatkanmu." -dengan nada datar.


"Jenn? Kau-" pengakuan Jenni berhasil mrmbuat Mario tak bisa berkata apa.


"Maka saat kamu membuangku dengan segala penghinaan, mengataiku wanita miskin yang hanya seperti parasit, aku membenarkannya. Aku pun tidak sanggup untuk mengelak. Aku berusaha menerima itu dengan rasa sakit hati" -air mata turun dengan sendirinya, lalu menjauhkan diri dari pelukan Mario.


"Aaaaahh, aku benci mengingat semua itu." -mengusap air matanya.


"Ba-baiklah, Jenn. Aku tidak masalah. Sekarang, aku tidak masalah dengan itu. Kau boleh lakukan apapun. Asalkan tetap bersamaku. Ya,"


"Kenapa aku harus bersamamu? Bukankah kau membenciku?" Menatap Merio.


"Sekarang tidak lagi. Itu dulu, sekarang sudah tidak. Aku, ingin bersamamu dan Given." -menatap dalam.


"Kita tetap bisa menyayangi dia walaupun tidak menikah."


"Tapi bagaimana dengan statusnya? Jen, Given harus memiliki status yang jelas. Negara ini harus mengakui dia sebagai anak kita secara sah. Apa kau paham maksudku? Hmm?"


Jenni memarik napas dalam sembari bertanya dalam hati. 'Apakah ini benar? Aku tidak yakin bisa menikah dengan orang ini.


"Mario, pergilah. Aku ... akan memikirkannya. Saat ini, aku ingin beristirahat."


"Benarkah? Lalu kapan kau akan memberiku jawaban, Jenn?"


"Pergilah dulu. Aku butuh waktu untuk berpikir. Jangan menggangguku." -membuang pandangan ke arah lain.


"Baiklah, baiklah. Aku akan keluar."


..........


Kediaman Yoris.


Nyonya Yoris mendatangi Gina yang sedang beristirahat di kamar.


"Gin, mama ingin bicara."


"Ya? Ada apa mah?"


"Begini, sayang, tapi ... kamu jangan tersinggung ya, Gin ... setelah memperhatikan Arsen, sepertinya ... cucu mama itu sangat menginginkan adik."


"Lalu?" -Gina mulai merasa aura tak enak di dasar hatinya.

__ADS_1


"Ada beberapa pilihan untuk kamu dan Stefan. Pertama, meminjam rahim seseorang,-"


"Tunggu! Maksud mama ... Suamiku harus menanam benihnya di rahim wanita lain?"


"Iya, Gin! Dengan begitu, Arsen akan punya-"


Perkataan Nyonya Yoris terhenti oleh gerakan tangan Gina yang mengudara.


"Stop, Ma! Aku ... tidak bisa membayangkan hal itu."


"Gin, masih ada pilihan lain, sayang. Jika kamu tidak rela, Stefan tidak harus melakukannya secara alami. Kita bisa melakukan proses bayi tabung dan meminjam rahim seseorang. Banyak orang melakukan itu belakangan ini, Gin,-"


"Ma, maaf ... sebaiknya mama beritahukan ini langsung ke anak mama. Jika dia setuju, maka ... aku tidak akan melarang."


"Begitukah Gin? Kalau begitu ... mama akan coba bilang ini ke Stefan. Ya sudah, mama pergi ya!"


Berlalunya nyonya Yoris di balik pintu, Gina seketika memegang dada karena terasa sedikit sesak.


'Aku tidak pernah membayangkan akan mendengar hal ini. Aaaah, rasanya sangat sesak.'


Gina mengganti pakaian dan mengambil tas dan keluar dari kamar. Ia pun berpamitan pada Rani dan berpesan agar pelayan menjaga Arsen dan Jem.


[Aku ke rumah papa] -pesan itu ia kirim ke Stefan.


Karena ini sudah sore, Gina langsung menuju kediaman Farrel berharap ayahnya sudah pulang dari kantor.


Butuh waktu puluhan menit barulah ia tiba di rumahnya itu.


"Selamat datang Non," sapa sang ART kepada Gina, dan hanya dibalas dengan senyum tipis wanita itu.


"Ma ... dimana papa?"


"Papa sama Nio belum pulang. Ada apa Gin? Sini, duduklah"


Gina mendekat dan semakin mendekati wanita yang adalah ibu sambungnya itu duduk disampingnya. "Ma ... bisakah memelukku sebentar?"


"tent saja Gin," -tanpa basa-bari mama Veni memeluk Gina. Memeluknya dengan pikiran bertanya-tanya.


Pelan tapi pasti, terdengar sesegukan tangis putrinya itu. "Ada apa sayang? Kamu boleh cerita ke mama."


"Ma ... apa Arsen saja tidak cukup?"


"Hei ... bicara apa kamu, sayang?"


"Ma ... apa aku memang egois? Ma ... aku ... hanya Arsen yang bisa aku lahirkan. Apa aku egois kalau tidak mengizinkan suamiku memiliki anak dari wanita yang lain?"


"Ya? Omong kosong apa ini?" -menangkup wajah Gina.


"Ma ... mama Lina ingin cucu lagi. Dia menyarankan suamiku menanamkan benihnya ke rahim wanita lain. Bagaimana ini, Ma?" -air matanya kian meluncur seperti aliran anak sungai.


Melihat itu, mama Veni menggeleng kuat. "Tidak akan. Tidak akan itu terjadi, sayang. Suami kamu pasti tidak akan setuju. Itu adalah hal gila." -memeluk Gina. 'Lina benar-benar keterlaluan. Sebelumnya dia sudah tahu putriku sudah tidak memiliki Rahim, kenapa dia begitu bersemangat menikahkan mereka? '


Tap tap tap.

__ADS_1


Langkah seseorang memasuki rumah itu dan terhenti melihat pemandangan yang menyejukkan matanya. Mama, dan kakak perempuannya Gina, sedang dalam posisi berpelukan. Nio merasa sangat bahagia melihat itu. Baginya, ini adalah pemandangan yang sangat baru.


'Tumben sekali kakak terlihat sangat manja ke mama? Apa hubungan mereja benar-benar sudah normal?'


Malam harinya, Stefan tiba di rumah dan di sambut oleh teriakan antusias Arsen.


Setelah anaknya itu menyalaminya, Stefan pun megedarkan pandangan ke segala arah. 'Mana dia? Tidak menyambutku pulang? Tidak sedang kelayapan kan?'


"Fan, kamu pulang?"


"Iya, Ma !"


"Bisa kita bicara sebentar? Ayo ke kamar mama, ini penting Fan."


"Aaa. Baik, tapi ... aku belum menyapa istriku."


"Nanti saja, Fan. Hal ini sudah mama bicarakan dengan Gina. Ayo ikut mama."


Di kamar nyonya Yoris.


"Fan, mama punya ide agar kamu bisa punya anak lagi."


"Ya?"


"Begini! Banyak orang melakukan ini di jaman sekarang. Kamu, menanam benihmu ke rahim wanita lain dan-?"


"Apa? Mama mulai gila?"


"Fan, begini, kita hanya bisa melakukan itu agar kamu tetap bisa memiliki anak. Lihat Arsen. Dia sangat senang memiliki adik."


"Tunggu! Tadi mama bilang sudah mendiskusikan hal konyol ini dengan istriku?" -Stefan sepertinya mulai tak sabaran.


"Iya, Fan. Benar."


"Lalu apa tanggapannya?"


"Dia, dia bilang tak masalah asalkan kamu setuju Fan"


"Sial." - Stefan berbalik dan meninggalkan sang ibu, yang masih menunggu jawaban.


"Anak ini tidak sopan. Aku belum selesai bicara, Stefan."


Bruak.


Stefan membuka pintu dengan kasar.


"Gin, dimana kamu?" Pria itu sepertinya sudah tidak sabar ingin menyerang wanita itu dengan berbagai pertanyaan. "Dimana dia? Berani-beraninya dia merelakan aku demi sebuah rahim?"


Stefan sudah memeriksa setiap ruangan yang ada dikamar itu tapi Gina tidak ada. Ia pun membuka ponselnya dan menemukan pesan teks dari sang istri. "Csssh. Ternyata dia pulang ke rumah papa? Baiklah, aku akan memarahinya disana."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2