
"Raniiii?"
"Surrrrrprise!" -Rani tersenyum lebar melihat Gina. Hati kecilnya pun sangat bahagia melihat tangan yang sedang menggandeng Gina. 'Syukurlah, mereka hidup bersama dengan bahagia!' batinnya.
"Ran, kamu datang kok tidak bilang-bilang? Waaah kamu bumil sekarang" tentu saja auto memeluk Maharani sahabat baiknya yang perutnya sudah terlihat buncit itu.
"Gin, aku senang akhirnya ... kamu ... ada ditempat seharusnya." hanya dijawab dengan anggukan semangat oleh Gina.
Gina pun menyapa suami dari sahabatnya itu dengan ramah. "Hai Mas?" ucapnya. Mereka pun bersalaman.
"Wah, siapa ini?" -Gina menyapa seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 4 tahun yang dibawa oleh Rani dan suami.
"Dia anaknya kakak ipar aku Gin, dia ... sangat dekat dengan kami berdua jadi dia kami bawa. Aku berpikir, dia bisa jadi teman Arsen selama disini.
"wah. Bener! Eh, tapi kenalan dulu dengan suamiku. Sayang, sini," hampir saja wanita itu melupakan Stefan.
Setelah mereka saling berkenalan, Stefan pun meminta pelayan untuk memanggil Arsen.
Tak lama, Arsen muncul dengan hebohnya berlari ke arah Papa Mamanya.
"Sayang, ini ada taman baru. Ayo, kenalan dulu."
Arsen pun memperhatikan rupa teman barunya itu dari atas sampai bawah. "Hai, namaku Arsen! Aku laki-laki." dengan wajah cool-nya.
Anak itu pun membalas jabatan tangan Arsen lalu memperkenalkan diri. "Namaku Jem. Aku juga laki-laki."
Wajah Arsen pun menjadi ceria, tak bisa membohongi perasaannya yang sangat senang. Akhirnya, adik laki-laki yang dia inginkan datang juga.
"Jem, mau kah bermain dengan kakak?"
"Tentu saja" jawab Jem.
Arsen pun memgajak Jem menuju kamarnya untuk bermain bersama.
"Apa kalian berdua cuti kerja jadi bisa jalan-jalan?" tanya Gina tak sabar untuk kembali membuka obrolan.
"Sebenarnya, kita bukan jalan-jalan. Tapi, suamiku ini sedang sakit. Jadi, harus mendapatkan perawatan selama kurang lebih 2 bulan."
"Waaah, itu rupanya. Yang sabar ya Mas, pasti bisa sembuh. Dulu, aku juga sakit-sakitan dan istrimu ini dengan telaten menjaga dan merawatku." puji Gina.
"Kamu bisa aja."
"Memang kenyataannya begitu kan, Rani ... kamu teman yang baik."
"Iya, iya ... aku memang baik."
Dengan senang hati, Gina dan Stefan memaksa Rani dan sang suami untuk tinggal di kediaman mereka tanpa merasa terbebani sedikitpun demikian juga dengan Tuan dan Nyonya Yoris sebagai orang tua, mereka menyambut baik akan hal itu.
Gina terlihat sangat senang akhirnya bisa bersama-sama dengan Maharani lagi setelah sekian lama. Dengan antusias wanita itu meminta para pelayan untuk menyiapkan kamar untuk tamu agungnya itu. Dan Arsen, sudah pasti bocah itu mengajak Jem untuk tinggal dikamarnya.
Di kamar Arsen.
"Jem, apa kamu masih ngompol saat tidur?"
"tidak. Aku tidak pernah ngompol" jawab Jem, sambil terus fokus pada mainan.
"tentulah tidak ngompol. Karena kamu memiliki pedang sepertiku."
..........
DI MALL
"Uwaaaaa, Daddy! Disini sangat keleeen (keren)"
"Begitukah?"
Anak itu mengangguk semangat sebagai jawaban.
'Sepertinya Jenni benar-benar belum pernah memgajak Given ke tempat-tempat keramaian seperti ini.'
"Given, di dalam ada ice cream. Given mau?"
__ADS_1
"Mau Daddy!"
Kini keduanya sedang menikmati ice cream bersama dan mengambil posisi duduk di pojokan.
"Given, apa ... Given pernah lihat pesawat?"
"Ada di TV kan, Daddy!"
"Apa ... Given mau diajak Daddy naik pesawat?"
"Emmmmmm, ga mau Dad." -menggeleng.
"Kenapa?"
"Given ga mau tinggalkan mommy."
"Hei ..., daddy akan ajak mommy juga. Daddy, mommy, Grandma sama Given. Mau?"
"Mau, dad!" -mengangguk semangat.
"Mau naik pesawat yang besar atau yang kecil?"
"Pengen naik pesawat yang beesaaaar! Kayak gini Dad," -mempraktekkan kata besar dengan kedua tangan.
"Oke, kalau mommy sudah pulang dari rumah sakit, kita akan pergi dengan pesawat, oke?"
"Oke, daddy! Tapi, apa kakak boleh ikut?"
"Ya? Kakak? Kakak siapa?"
"Kakak-nya Given, Dad. Namanya kakak Arsen."
'Arsen? Apa yang dia maksud adalah putranya Stefan?'
Given yang merasa daddynya sedang berpikir keras tentang siapa Arsen, lalu mengatakan "Kakak Arsen yang dilumah-nya ontie Gina, Daddy."
"Ow ... oke, Daddy tau. Given suka bermain dengan kakak?"
"Yah? Love?" -Mario mengerutkan dahi, dengan wajah panik.
'Gawat. Putriku lama-lama bisa tergila-gila pada anak itu di masa depan. Aku harus membawanya jauh dari mereka. Benar! Kami akan tinggal di Korea dan Arsen disini. Mereka tidak akan bertemu lagi.' memikirkan hal itu membuat Mario merasa merinding.
"Given, boleh saja suka dengan kakak. Tapi, jangan love."
'Hadeeh. Bicara apa aku?'
"Daddy, tapi kakak happy bermain dengan Given. Kakak boleh ikut ya, Daddy"
"Given, begini, emm ... kakak itu, milik uncle dan onty. Bukan milik Given, jadi ... kita tidak boleh membawanya. Mengerti?"
Given pun mengangguk sedih tanpa mengatakan apupun.
Setelah mereka menghabiskan ice cream, Mario membawa putrinya itu masuk ke sebuah butik yang menawarkan beragam busana wanita dewasa dan anak perempuan.
Wajah Given kembali berbinar. "Daddy, Given suka yang itu." menunjuk dress couple ibu dan anak yang terlihat sangat manis.
"Mau pasangan dengan mommy? Oke, itu bagus! Kamu dan mommy akan terlihat semakin cantik dengan itu."
Given auto tersenyum senang mendengar si daddy menyebut nama mommy dengan nada baik-baik saja, tidak marah seperti selama ini yang Given saksikan.
Setelah memilih beberapa pakaian pilihan Given, Mario menanyakan tentang apa lagi yang diingunkan anak itu.
"Dad, Given pengen beli mainan."
"Mainan? Oke, ayo jalan."
Keduanya pun berjalan bersama, bergandeng tangan. Terlihat sangat bahagia.
Setelah memilih beberapa jenis mainan untuk dirinya, Given tiba-tiba menunjuk mainan anak laki-laki.
"Given, bukankah ini mainan untuk anak laki-laki?"
__ADS_1
"Daddy, ini untuk kakak. Bukan untuk Given." jawab anak itu, polos.
'What? apa sekarang aku harus membelikan mainan untuk anak mereka?'
"Given, uncle punya banyak uang. Kakak pasti akan dibelikan mainan, sayang."
"No! Dad, kakak memang punya banyak mainan. Tapi Given ingin membelinya (memberi) hadiah."
'Ini adalah limited edition. Untuk apa aku membelikan mainan mahal untuk anak mereka. Given, kau membuatku Gila.'
"Oke sayang, demi senyum manismu ini, daddy akan menurutinya." Akhirnya Mario pasrah, karena tak tega melihat wajah putrinya itu. Tentu saja ia tak ingin mengecewakan anak itu.
Puas dengan belanja gila-gilaan, keduanya kini masuk ke bioskop , yang mana membuat Given tercengang bukan main.
"Dad, tempat apa ini? Kenapa ada TV sebesar itu?"
-bertanya dengan wajah polosnya dan rasa kagum yang berlebih.
'Entah tinggal di hutan bagian mana kau dan ibu-mu selama ini. Bioskop saja Given-ku tidak mengerti. Jenni sungguh keterlaluan.'
"Ayo duduk dulu setelah itu daddy beritahu."
Keduanya pun duduk manis bersebelahan tentunya.
Mario pun menjelaskan banyak hal untuk menjawab rasa ingin tahu putrinya itu.
Setelah film kartun kesukaan para anak-anak itu di mulai Given pun fokus untuk menonton.
'Dulu, daddy sering berdua dengan mommy kamu ketempat ini.' -menatap wajah gembira Given.
'Dari samping anakku terlihat seperti Jenni. Kalau dilihat dari depan, dia sangat mirip denganku. Ternyata ... perpaduan antara aku dan dia jadinya secantik ini. Kira-kira, bagaimana wajah anak kami jika laki-laki?' -membelai rambut Given. Yang mana, membuat anak itu menoleh dan tersenyum karena melihat wajah tersenyum milik daddy-nya.
"Dad, kenapa?"
"Tidak apa Given, tiba-tiba ... daddy merindukan mommy." -berterus terang, membuat wajah Given kian tersenyum lebar. Anak itu pun turun dari tempat duduknya dan meminta sang daddy untuk memangkunya.
"Ven, apa sekarang tidak hate me lagi?" tanya Mario sembari mendekap anaknya yang sedang duduk dipangkuan nyamannya itu.
"Ya ... I love daddy so much!"
"Trima kasih ya sayang! Coba kasih tau daddy, apa yang paling buat Given happy?"
"Daddy, Given happy kalau Daddy sayang mommy."
"Yah? Owh ... iya girl. Mulai hari ini, Given akan happy karena Daddy dan mommy akan saling sayang."
"Benalkah? Daddy janji?"
"Iya, sayang. Daddy janji."
'Setelah ini, entah bagaimana aku akan membuktikan janjiku ini Given, mommy kamu pasti masih tidak menyukaiku.'
"Ven, kalau mommy, apa yang paling buat mommy happy? ayo kasih tau daddy."
Tidak ada jawaban dari anak itu. Ternyata oh ternyata, Given telah tertidur nyaman di dada sang daddy sebagai sandaran.
Cup.
Mencium pucuk kepala anaknya itu.
'Maaf girl, daddy tidak menemani pertumbuhanmu hingga kamu sebesar ini.'
.
.
Bersambung.
Double up cukup ya kan guys😊
Aku sambung ngetik part selanjutnya guys... kalau sempat, akan aku post sore nanti🤭.
__ADS_1
BTW makasih banyak untuk dukungan kalian buat karya ini🙏