Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Kau Pikir?


__ADS_3

Di Ruang kerja Farrel, ayah Gina.


“Maaf, membuat Anda datang kemari, Tuan Stefan.”


“Santai saja, saya juga sedang bebas.”


“Begini, bagaimana ... keadaan putri saya?” tanya Farrel, dengan wajah bersalahnya.


“Dia ... sangat sehat.” jawab Stefan, singkat.


“Lalu, bagaimana dengan Arsen? Apa cucuku baik-baik saja?”


“Putraku sangat baik-baik saja. Dia sedang berlibur bersama kakek dan neneknya.”


“Begini, apa ... aku boleh mengunjunginya? Aku ingin berkenalan dengan cucuku.” Jujur Farel, kini ekspresi wajah pria paruh baya itu berganti sedih.


“Tentu saja Anda boleh menemuinya. Dia adalah cucu Anda.”


Farrel pun mengangguk lega. Meski masih jelas tampak wajah risaunya.


“Aku ingin meminta sesuatu padamu, Tuan.”


“Jangan memanggil saya Tuan. Itu membuat saya tidak nyaman. Apa itu yang ingin Anda minta?”


“Tolong segera nikahi putriku jika benar-benar menginginkannya. Ini mungkin terdengar tidak tahu malu, tapi ... aku mohon nikahi dia secepatnya.” Farrel tertunduk.


‘Ada apa dengan pria tua ini?’


“Apa Anda benar-benar menyesal telah membuang mereka?”


Pria paruh baya itu kian menunduk, mengiyakan pertanyaan Stefan yang terasa seperti sebilah pisau yang menusuk sangat dalam.


“Baik, dengan senang hati saya akan menikahi dia secepatnya. Tapi, akan lebih baik jika hubungan kalian sudah kembali normal, saat hari itu tiba.”


“Baiklah, terima kasih banyak Stefan, aku sangat bersyukur akhirnya putriku akan dinikahi oleh pria yang dia inginkan.” Farrel mengusap air matanya.


“Justru Saya yang sangat berterima kasih, karena ... Anda telah menghadirkan Gina ke dunia ini.” Ucap Stefan, datar. “Maaf, karena ulah saya, Anda terpaksa membuang putri Anda.”


Ayah dari Gina itu pun mengatakan bahwa dirinyalah yang paling bersalah karena telah menelantarkan putrinya. Ia pun meminta Stefan untuk membantunya mendapatkan maaf dari Gina, putri satu-satunya yang masih sangat ia sayangi itu.


Stefan pun pamit dari sana setelah perbincangan mereka selesai.


Setelah berpikir beberapa saat, Stefan memutuskan untuk pulang dan meminta sekretarisnya mengantar pekerjaannya ke rumah.


Tiba di rumah, Stefan melihat menu makan malam telah tersedia. Tapi, ia tidak menemukan keberadaan wanita itu. Pria itu pun segera menuju kamar.


Ceklek,


“Oh? Gina, kamu sedang apa?” Stefan menatap heran ke arah Gina yang tanpa angin dan hujan, lagi pula ini sangat di luar dugaan, ada seorang wanita berada di kamar miliknya.


Lagi-lagi, Gina harus dilanda gangguan ekspresi.


“Aku, aku –“


“Aku apa?” mendekat.


“itu ... hanya ... itu, ada ... tikus. Ya, ada tikus.” Jelas Gina, gugup.


‘Kenapa aku selalu mempermalukan diri sendiri?’


“Ya? Tikus yang mana?” Stefan semakin mendekat, membuat Gina refleks mundur.


“Oh, itu ... tikusnya, lari. Ya, lari.”


Stefan lagi-lagi semakin mendekat, sepertinya dia sengaja usil karena melihat kepanikan di wajah Gina.

__ADS_1


“Tikus memang suka berlari. Mereka tidak terbiasa berjalan santai. Ke mana larinya?” dengan nada pelan, mendekatkan wajahnya, yang disertai dengan tatapan nakal.


“Eh? Itu, tikusnya-“


“Apa tikusnya nakal, sehingga kau harus mengejarnya sampai ke kamarku? Hem?” Stefan mulai mengerti akan situasi saat melihat pakaian ganti yang sudah tersedia di tempatnya.


‘Katakan saja kau sedang menyiapkan pakaian gantiku, kenapa harus membawa-bawa tikus?’ Stefan tersenyum setelah berkata-kata dalam hatinya.


‘Kenapa dia tersenyum? Tatapan apa ini? Dia benar-benar suka melihatku hilang akal. Lebih baik aku kabur.’


“Aku rasa tikusnya sudah pergi. Permisi,”


Gina mendorong pelan tubuh Stefan yang dicondongkan ke arahnya, kemudian bergegas keluar.


Di ruang makan, Gina sedang menunggu kedatangan Stefan.


Benarlah, kini terdengar langkah kaki khas pria itu yang sudah sangat Gina kenal.


‘Dia mengenakan baju ganti yang aku siapkan? Ya ampun, aku bahagia.’ Bergumam dalam hati.


“Gin, kenapa kamu terlihat senang?”


“Oh? Tidak apa. Ini, makanlah.”


Keduanya pun menikmati makan malam dalam keheningan. Selesai dengan makan malam itu, Gina pun mencuci piring bekas makan keduanya.


“Kenapa harus repot di cuci? Biarkan pelayan yang mengerjakannya, Gin.”


“Aku meminta mereka untuk beristirahat lebih awal. Berhubung hanya ada kita, biarkan mereka banyak waktu luang untuk dirinya sendiri.”


“Sengaja ya?”


“Ya? Bilang apa?”


“Tidak. Aku hanya bilang itu ide bagus. Kau cukup manusiawi.”


"Gin, ini ponselmu. Lain kali, jangan sembarang menjatuhkannya."


"Hah? Kenapa ada di kamu?" Gina segera menyambar ponselnya itu.


"Kamu tidak periksa ponselku kan?"


"Untuk apa aku memeriksanya? Apa kau pikir aku kurang kerjaan?"


'Syukurlah, ponselku dalam keadaan mati.'


"Memangnya, apa isi ponselmu? Apa ada yang perlu kau rahasiakan dariku?"


Bukannya menjawab, Gina malah meninggalkan Stefan dan menghilang di lantai dua, tentu saja ia pergi ke kamar miliknya.


........


Keesokan harinya, Gina bangun sangat awal untuk menyiapkan sarapan.


“Kenapa si Tuan Muda itu sangat lama tidak keluar dari kamar? Apa dia sengaja aku biar aku membangunkannya?”


30 menit menunggu, Stefan tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya.


“Apa jangan-jangan dia sudah berangkat ke kantor?”


Gina pun berinisiatif untuk memastikan keberadaan Stefan.


Ceklek, Gina membuka pintu tanpa mengetuk.


“Fan? Kamu kenapa? Apa kamu sakit” Gina berlari ke arah Stefan yang terlihat sangat tidak sehat.

__ADS_1


“Aku hanya merasa kurang sehat, Gin. Jadi hari ini aku tidak akan ke kantor.”


Gina segera memanggil dokter andalan keluarga itu. “Aku akan buatkan bubur untukmu.”


“Tidak perlu, Gin. Bawakan aku makanan yang sudah kau buat saja. Aku tidak ingin bubur.”


“Baiklah, aku akan mengambilnya.”


Tidak harus membuatnya menunggu lama, kini Gina sudah kembali ke kamar Stefan membawa makanan lengkap dalam sebuah nampan.


Drrrt drrrrt drrrrrrt.


Ponsel milik Gina berdering menampilkan pemanggil tanpa nama.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Stefan, merasa curiga.


"Tidak ada namanya," jawab Gina, acuh.


Kini keduanya berpindah duduk du sofa yang ada di salah satu sisi kamar itu, untuk menikmati sarapan.


Ponsel Gina kembali berdering. Gina terlihat sama sekali tidak tertarik, berbeda dengan Stefan yang merasa sangat penasaran.


"Jawab saja, Gin. Mungkin itu penting."


Dengan malas Gina menjawab. "Halo,"


(Halo, Gina. Ini aku, Rio.)


"Rio?" Gina tersentak.


'Sialan. Untuk apa si brengsek itu menghubungi Gina?'


(Gina, mari kita bertemu. Aku ... ingin bicara baik-baik denganmu)


"Maaf Rio, aku tidak bisa."


(Gina, please,)


Tiba-tiba ponsel gina di rampas oleh seseorang. Tentu saja orang itu adalah Stefan.


"Gina sayang, siapa yang menelponmu? Tidak ada nama kontaknya? Boleh aku berbicara dengannya sayang?"


Tuut tuut tuut,


Rio mengakhiri panggilan sepihak. Stefan bisa menebak bahwa pria itu pasti sedang kesal.


"Sepertinya, Rio ini harus kembali aku beri pelajaran." geram Stefan.


"Hei. Kenapa kamu terlihat marah?" tanya Gina, heran.


"Tentu saja aku marah. Kamu itu calon istriku."


"Apa kamu ... cemburu?


Zzzzeeeppp


Stefan tiba-tiba saja sudah menyambar bibir Gina, membuat wanita itu tercekat.


Semakin lama, sentuhan itu terasa kian lembut, dan terasa nyaman untuk dinikmati. Menghabiskan beberapa menit menyesap bibir Gina, kini Stefan berhenti lalu berbisik, tepat di hadapan wajah Gina. "Menurutmu, aku tidak cemburu?"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.....


terima kasih telah membaca ya guys😊


__ADS_2