
"Helena, apa kau sudah siap?"
"Tentu saja. Aku benar-benar tidak sabar."
"Baik, gunakan waktu dan kesempatan ini baik-baik. Aku tidak akan pernah membantumu lagi. Dan ingat, jangan sampai Stefan tau aku terlibat permainan gila ini."
"Oke Ren, aku tidak akan membuatmu kehilangan kerja sama bisnis dengan Stefan. Ku pastikan kamu dan perusahaanmu aman Ren,"
Kedua wanita itu pun menyerup juss yang ada dihadapan mereka.
........
Stefan barus saja selesai membubuhkan tanda tangannya pada dokumen yang tersusun rapi di atas meja kerjanya. Billy, sang sekertaris kembali memasuki ruangan atasannya tersebut untuk memberitahukan kegiatan selanjutnya.
"Pak, siang ini jadwal anda adalah bertemu dengan Direktur perusahaan Media, bu Rena."
"Rena? Oke. Aku akan bertemu dengannya bersama istriku. Kamu boleh stay di kantor saja sekertaris Billy,"
"Baik pak, mengerti." Billy pun kembali ke meja kerjanya.
"Rena ... Rena ... oke, kita lihat, apa kerja sama kita akan masih berlanjut atau tidak."
Stefan lalu mengambil ponselnya dan terlebih dahulu melacak keberadaan sang istri. "Dia sangat kalem hari ini, tidak kelayapan lagi." gumamnya pelan.
Ia pun menghubungi Gina.
Drrruuut, drrruuut, drrruuuut!
Tidak ada sapaan dari wanita itu.
"Kemana dia? Apa dia meninggalkan ponselnya?"
Berulang kali pria itu menekan panggilan ke ponsel istrinya namun tak ada sahutan sama-sekali. Ia pun menghubungi telepon rumah. Untuk menanyakan Gina pada mama atau papa tidak mungkin. Dikarenakan kedua orangtuanya itu sudah pasti sibuk dengan urusan masing-masing di luar rumah pada jam sebegini.
Drrruuut,
[Ya, Tuan] sapa seseorang.
[Apa istriku di rumah?] tanya Stefan, to the point.
[Ini Tuan, nyonya muda sedang keluar. Katanya sedang ada urusan.]
[Baiklah. Terima kasih.] Stefan pun menutup panggilan.
"Apa dia sedang berulah lagi?" Seketika Stefan menarik kembali praduga-nya yang baru saja memuji betapa kalemnya Gina hari ini tidak keluyuran kemana pun.
"Awas saja kalau dia berani macam-macam dibelakangku lagi." Stefan menaruh kembali ponsel-nya dengan kasar. "Gina benar-benar senang melihatku kesal." gumamnya.
.......
Sementara di tempat lain.
__ADS_1
Sang mantan kekasih tercinta dari Stefan Alvaro Yoris, yang tak lain adalah Helena. Wanita itu tengah memainkan sebuah spuit, lengkap dengan cairan berwarna dan jarum suntik yang menancap di ujungnya.
"Stefan sayang, aku akan menghabiskan waktuku denganmu hari ini. Kamu akan terkejut ketika bangun ada aku disampingmu, bukan Gina." Wanita itu lalu tertawa jahat memikirkan serunya membuat Stefan marah.
Helena telah mempersiapkan hal ini dengan matang. Begitu Stefan muncul di depan pintu, maka ... Helena akan menancapkan jarum suntik itu ke tubuhnya hingga pria itu akan kehilangan kesadarannya. Dan Helena akan memanfaatkan hal itu untuk menghancurkan Stefan. Lagi-lagi, Helena merasa bahagia memikirkan hal itu.
"Gina, wanita si penggoda itu pasti akan menggila jika tahu suaminya sedang ditelanjangi oleh wanita lain. Tunggu saja Gina, aku sedang mempersiapkan kejutan untukmu. Aku tidak peduli akan akibatnya. Yang terpenting sekarang, aku harus berhasil membalas kalian berdua."
.....
Di tempat lain.
Gina sedang berada di kediaman keluarga Farrel, sang ayah.
Saat ini, wanita itu sedang bergelut dengan alat memasak untuk membuat roti kesukaan papa Farrel, bersama dengan dua orang pelayan setia rumah itu.
"Ehmmm. Ada kamu Gin?" Mama Veni menghampiri. Sapaan sang ibu tiri hanya dijawab oleh anggukan pelan dari Gina. Memang, antara kedua wanita ini belum terlibat komunikasi intens layaknya ibu dan anak, semenjak Gina muncul pasca di usir pergi.
Dilihat dari cara bicaranya sih, mama Veni terlihat ingin dekat dan akrab dengan Gina. Namun, Gina sama sekali belum memberinya lampu hijau. Ia hanya menjawab seperlunya apabila kebetulan wanita itu menanyakan sesuatu. Untuk memulai pembicaraan, Gina tidak pernah.
"Ingin membuat roti kesukaan papa yah, biar mama Veni temani ya,"
"Terserah" Gina menaik-turunkan bahu kemudian.
"Sang mama tiri kemudian memberi kode agar kedua dua pelayannya itu untuk menjauh. Tinggallah kini hanya berdua dengan Gina.
"Gin, apa Stefan baik sama kamu?" tanya-nya, bermaksud menunjukkan perhatian.
"Kenapa kamu tidak ajak Arsen kesini? Mama ingin bermain dengan cucu mama."
"Ya? Apa mama menganggap putraku cucu mama?"
"Tentu saja Gin, dia kan anak kamu."
Mendengar itu, Gina tersenyum kecil di sudut bibir kiri-nya. "Benarkah begitu? Mama terpaksa menganggapnya cucu, bukankah karena dia berasal dari keluarga Yoris?"
"Gin, apa mama tidak ada kesempatan untuk jadi mama yang lebih baik?" tanya mama Veni, sembari mengulen adonan ditangannya menunggu jawaban Gina, namun tidak mendapatkan jawaban apapun dari anak tirinya itu.
"Terganrung niat mama." jawab Gina, pasa akhirnya.
.........
Di sebuah Reetoran.
Stefan akan makan siang bersama Rena, teman sekaligus rekan bisnisnya. Disana, Rena telah menunggunya.
"Fan, kamu tidak ajak istrimu?" tanya Rena, basa-basi.
"Tidak. Lain kali saja Ren," jawab Stefan, yang kini kembali bertanya-tanya apakah istrinya itu sudah pulang ke rumah atau belum.
Keduanya pun membahas tentang kelanjutan kerjasama perusahaan mereka.
__ADS_1
Bib
Sebuah pesan masuk ke ponsel Stefan, yang segera sibuka oleh pria itu.
Dari nomor tak di kenal yang memintanya dengan sapaan [Papa Arsen Sayang] untuk datang ke kamar hotel nomor 2212 [satu jam lagi], hotel yang sama dengan yang waktu itu. Tentu saja kamar tersebut bersebelahan dengan 2211 tempat kejadian Arsen. [by. Mama Arsen]
'Apa ini benar Istriku?' Stefan tersenyum.
"Fan, kamu kenapa tersenyum?" tanya Rena, penasaran.
"Ren, aku rasa ... aku harus segera mengecek sesuatu. Siapkan saja kontrak kerjasama kita yang baru."
"Oke, trima kasih Fan," Rena lalu mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu disana.
[Helena, bersiaplah. Dia akan datang.]
"Fan, aku titip ini untuk istrimu." Rena memberikan sebuah paper bag, Stefan pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih, lalu pergi.
'Fan, maaf aku membantu Helena menyiapkan segalanya untuk bisa memilikimu walau hanya sesaat. Aku merasa akan gila karena Helena selalu menggangguku, menyebut-nyebut tentang masa lalu kalian.'
Untuk sesaat, Rena merasa menyesal karena mendanai hal gila yang direncanakan Helena hanya untuk membuat keduanya bisa bersatu lagi.
"Aku berharap, kamu masih bisa kembali ke Helena, Fan. Sadarlah, dia masih sangat mencintai kamu dengan tulus"
Lama, Rena bergumam, sambil terus menatap kepergian Stefan.
......
Di dalam mobil.
Stefan menghubungi setiap orang yang mengenal istrinya, namun tak satu pun dari mereka yang mau menjawab ponselnya saat ini.
"Aneh, ada apa dengan semua orang?"
Tiba di Hotel yang di maksud.
Resepsionis adalah tujuan pertama Stefan, karena tak ingin gegabah.
"Permisi, " Stefan pun menanyakan apakah seseorang yang memesan kamar 2212 adalah atas nama istrinya dan mereka pun mengeceknya.
"Benar pak, disini tertulis nama Gina Feroni" jawab wanita manis di depannya.
Stefan kini merasa legah lalu mengucapkan terima kasih.
'Istriku ada-ada saja, 2212? Kenapa bukan 2211?'
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....