
'Wanita ini sangat sensitif belakangan ini. Kalau aku meindahkan dia ke kamar, kurasa dia akan marah lagi dan berdebat lagi denganku.'
Akhirnya, Mario memutuskan untuk membiarkan Jenni tidur di sofa saja.
........
Ditempat lain. Stefan, Gina dan Arsen baru saja keluar dari bioskop. Karena ini weekend, maka keluarga kecil yang tengah berbahagia itu menghabiskan waktu sama-sama menikmati waktu berkualitas.
"Sayang, tidak mau belanja dulu? Mumpung lagi di mall nih,"
"Papa Arsen, aku tidak yakin kalian berdua akan betah jika menemaniku berbelanja."
"Tapi sayang, lihat disana. Aku ingin melihatmu mengenakannya nanti malam." -Stefan menunjuk sesuatu hanya dengan gerakan wajahnya, berhati-hati agar Arsen tidak mengerti.
Ternyata, yang dimaksud Stefan adalah pajangan hot sexy lingerie berwarna hitam.
"Nakal ih, lagi jalan-jalan sama anak masa belanja itu, lagi pula aku punya banyak kan,"
"Tapi kamu tidak punya model itu sayang. Ayo, belilah." -berbisik, maksa.
"Tapi sepertinya itu keluaran terbaru dan edisi terbatas, pasti mahal."
"Tidak masalah Gina sayang,"
"Ya sudah, aku akan masuk ke toko itu, tapi kqliqn berdua jangan ikut."
"Oke, sayang. Ayo, Sen kita tunggu mama disana. Mama akan shoping dulu."
"Oke papa."
"Arsen, jangan lepas dari papa ya sayang, nanti papa-nya diambil orang."
"Oke mama!" -mengangkat jempol.
...........
Kembali ke Kediaman Mario.
Mrnjelang Malam.
"Nona Oh, kalau dia bangun dan bertanya siapa yang memberinya selimut, bilang saja kamu yang melakukannya."
Nona Oh pun mengiyakan walau dalam benaknya, sibuk mempertanyakan hubungan macam apa yang sedang dijalani oleh kedua majikannya ini.
Beberapa saat kemudian, Mario mendapatkan telpon dari seorang teman karibnya,
[Ada apa Jung?]
[Kesini. Aku dan Min sedan⁰p]⁰g menunggumu.]
[Ketempat biasa?]
[Iya.]
[Baiklah, aku segera kesana.]
Setelah dipikir-pikir, sudah lama Mario tidak minum bersama dengan dua orang itu. Yang biasanya, menjadi kegiatan rutin tiap dua minggu sekali ketiganya akan mengadakan acara minum - minum di club andalan mereka.
Sebelum benar-benar pergi, Mario menatap lama wajah istrinya yang sedang terlelap.
__ADS_1
"Jen, aku keluar sebentar ya, tidur saja, aku akan pulang larut. Jangan menungguku pulang." batinnya.
Menyadari hubungan pernikahan yang ia jalani terasa sangat konyol, sedetik kemudian ia menertawai dirinya sendiri. Kalau saja seperti pasangan normal lainnya, pasti akan ada adegan manis saat pergi dan pulang ke rumah. Menyayangkan ketidakberuntungannya, Mario hanya bisa tersenyum miris dalam hati dan menggeleng.
.
Tiba di klub malam tersebut. Saat ini, Mario telah berdiri depan ruang VIP khusus yang sudah pasti ada dua temannya itu di dalam sana.
Silahkan masuk Tuan," sambut sang penjaga pintu dengan ramah dan sopan.
Ceklek,
Persis seperti duagaannya, tentang pemandangan apa yang akan ia lihat di dalam. Jung dan Min, dengan masing-masing wanita liar sedang mengapit keduanya, dengan tubuh saling menggoda.
"Hei, bro! Kesini. Kau jangan mematung saja disitu." sambut keduanya saat melihat Mario menghela napas malas.
Mario pun duduk di tempat yang biasa ia duduki.
Tanpa sungkan, dua wanita yang akan bertugas menemaninya, mendekat. Namun, belum sempat menaruh bokong di samping Mario, pria itu mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan bahwa ia tidak perlu ditemani.
"Mario, ada apa denganmu? Kau tampak tidak seperti biasanya?" -tanya Min, setelah melepaskan cumbuan bibir dengan wanita di sebelahnya. Sementara Jung, pria itu hanya menyimak sambil menikmati belaian dua wanitanya .
Tidak ingin menanggapi, Mario mengeluarkan dompet lalu mengeluarkan uang dari sana, memberikannya pada semua wanita yang ada disitu, "Ini untuk kalian!" - lalu meminta mereka keluar.
"Hei! Mario, sepertinya kau sedang ada masalah?" -tanya Jung setelah perempuan-perempuan itu pergi.
"Aku hanya ingin minum dengan kalian berdua, tanpa gangguan siapapun." -jawab Mario, sekenanya.
"Tapi bukankah lebih nikmat jika ditemani mereka? Biasanya kau tidak menolak?" -Min.
"Aku sudah punya istri. Aku hanya butuh disentuh istriku." -dengan wajah datar, memainkan gelas sloky ditangannya.
"Jadi kabar itu benar bahwa kau sudah punya istri dan anak? Luar biasa. Sangat tiba-tiba." -Jung.
"Astaga, kau terdengar seperti pria polos yang baru jatuh cinta."-sambung Jung, lagi.
"Mario, perkataanmu menyinggungku."-Min.
"Bukan kau saja Min, kalian berdua harus tersinggung. Kita sama-sama punya anak dan istri sekarang. Aku heran, kenapa kalian berdua bersikap tidak setia? Bagaimana kalau istri kalian bermain gila juga? Apa itu tak masalah?" -wajah datar, santai namun begitu menusuk.
Mendengar itu, baik Min maupun Jung, terlihat menelan kasar. Merasa ngeri dan tak rela jika istri mereka juga bermain gila dengan laki-laki lain. Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya ...
"Minumlah! Tunggu apa lagi!" -Mario, meneguk minuman untuk kesekian kalinya.
"Mario, kau ... ada benarnya juga." -Min.
"Ya ... yang kukatakan akan selalu benar!"
...........
Kediaman keluarga Mario.
Jenni akhirnya terbangun setelah tertidur selama beberapa jam.
"Oh Mi Na? Kau ... disini?" -sedikit bingung, karena pembantunya sedang berdiri tak jauh darinya.
"Iya Nyonya, Tuan meminta saya menjaga anda." -Jawab nona Oh, polos.
"Menjaga? Memangnya aku bayi? Kau juga memakaikan ku selimut? Tapi, Mana dia? Di kamar?"
__ADS_1
"Tidak Nyonya, Beliau sedang keluar. Iya, saya yang memberi anda selimut."
"Oh, baiklah. Kau sangat perhatian. Mina, aku merasa lapar, ayo kita makan malam bersama,"
Mi na dan Jenni sudah terlihat sangat akrab. Jenni sangat senang karena Mario mendatangkan seorang pelayan yang bisa mengerti bahasanya.
"Mi Na, terima kasih karena mau berteman denganku, aku senang karena kamu, mengerti bahasa Negaraku."
"Kita bukan teman Nyonya, saya hanya melakukan pekerjaan saya."
"Yaaa? Kata-katamu mengesalkan, Mina, baiklah, apapun itu, aku senang kamu bekerja di rumah ini."
Setelah makan malam selesai, Jenni berpamitan untuk ke kamar dengan alasan masih merasa ngantuk. Ia pun meminta Mina beristirahat.
Sudah pukul 11 malam, Mario belum juga pulang. Padahal, biasanya pria itu tidak pernah pulang selarut ini.
Tidak ingin berlama menunggu kepulangan pria itu, Jenni pun kembali melanjutkan tidurnnya. Wanita itu merasa, dirinya tidak wajib untuk menunggu kepulangan Mario.
Pukul 2 dini hari, Mario tiba di rumah dalam kondisi mabuk berat. Pikirannya sudah tidak lagi mengingat kamar Given yang ia tempati selama ini. Isi kepalanya hanya ada nama Jenni.
Dengan langkah gontai, memasuki kamar yang sudah dalam keadaan gelap gulita.
Meski dalam keadaan kurang normal, tapi pria itu masih ingat menuju kamar mandi untuk mencuci kaki.
Jenni terjaga dari tidurnya setelah beberapa jam menutup mata.
"Apa orang itu sudah pulang?" -Jenni pun berqnjak dari kasur hendak menuju kamar Given, ingin memastikan keberadaan Mario. Akan tetapi, ia melihat kamar mandi dalam keadaan terbuka. "Apa aku lupa menutup pintu kamar mandi?" -gumamnya.
Saat hendak menutup pintu tersebut, alangkah terkejutnya melihat Mario yang berada di dalam sana dalam keadaan tidak sadar, duduk bersandar di samping bathup.
"Marioo!" -panik, belari mendekat.
"Mario, kamu kenapa?" Mengguncang tubuh pria itu.
"Jeennn, Jeni-ku ..." -tersenyum, lalu menarik Jenni ke pelukannya.
"Mario?" -memebelalak, lalu mengendus beberapa kali, hingga mencium bau alkohol.
"Kau mabuk? Aku mengira kau mati."
"Jeeen," -terus memanggil nama itu dalam keadaan mata tertutup.
"Lepaskan aku Mario, ayo pindah ke tempat tidur."
Dengan susah payah Jenni membopong tubuh Mario yang tidaklah ringan, sampai ke tempat tidur.
"Jeeenn, ayo todurlah denganku." Kembali menarik tubuh Istrinya, hingga terjatuh disampingnya.
"Kita ini suami istri! Tapi, kenapa kita tidak melakukan hubungan suami istri?" -bicaranya semakin merancau.
"Kata-katamu mengerikan Mario, tidurlah. Kau sedang mabuk berat."
Seperti orang kurang waras, pria itu malah tersenyum, memegang wajah Jenni. "Istriku, yang ini." -meraba wajah itu dengan sangat lembut. Karena memaklumi keadaan kacau si daddy Given itu, Jenni hanya membiarkannya saja, sampai dimana jemari pria itu kini menyentuh bibirnya.
'Gawat, apa yang dia pikirkan? Tatapannya terlihat sangat mesum.'
"Sayang, aku mau ini. Kali ini boleh kah?"
.
__ADS_1
.
Bersambung....