
Maaf baru up, soalnya kemarin othor sibuk potong daging kurban di laksanakan di sekolah tempat othor mengabdi sebagai cik gu😊.
Selamat membaca!
............
"Kenapa senyum-senyum? Jangan berpikir gila."
"Ada apa denganmu? Apa kau tidak merasa anak kita sangat lucu? Aku tersenyum karenanya." balas Mario, menanggapi kekesalan Jenni.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak merasakan apapun."
"Ya? Tidak merasakan apapun? Mungkin kau sudah mati rasa, Jenn."
"Iya. Aku sudah mati rasa padamu."
Degh....
Mario menarik napas dalam dan menghembusnya perlahan. Tidak ada lagi ucapan yang bisa ia keluarkan dari mulutnya saat ini. Semua itu rasanya tertahan di dalam dada yang terasa tiba-tiba sesak.
Tiba di lahan parkir pemakaman.
"Mom, Mommy yakin tidak perlu di gendong daddy?"
"Berjalanlah, jangan banyak bertanya." -bahkan pada Given pun Jenni memperlihatkan sikap dinginnya.
Setelah melewati drama perjalanan mengikuti alur kerasnya kepala Jenni yang nekad berjalan menggunakan tongkatnya, akhirnya mereka tiba di depan makam yang dimaksud.
"Mario pun merendahkan tubuhnya, meletakkan bunga ke atas makam itu. 'Maafkan aku, karena aku kembali sangat terlambat. Maafkan aku, karena pernah meninggalkan putrimu. Maafkan aku, telah menyusahkan dia sendirian. Aku benar-benar menyesalinya, Nyonya. Izinkan aku untuk bisa bersama putrimu lagi. Tolong izinkan dia bahagia bersamaku dan Given. Aku akan membawanya pergi. Aku mohon izin darimu.' -Mario, menangis dalam hati.
Sementara dari posisinya, Air mata Jenni pun terlihat meng'anaksungai. Ia belum sedang bersiap mengatakan sesuatu, namun semuanya seolah tertahan di tenggorokan.
"Momm, dont cry." -Given yang melihat ibunya sedang menangis, menggenggam jemari sang Mommy.
"Ma ... Aku ... datang kesini karena ingin memarahimu. Kenapa? Kenapa? Kenapa?" akhirnya, wanita itu mengeluarkan suara.
"Kenapa melahirkanku kalau pada akhirnya hanya memberiku rasa sakit?"
Degh...
Perasaan Mario mulai tidak nyaman mendengar kalimat yang baginya terdengar mengerikan dari Jenni, dengan nada menangis.
"Setelah aku bekerja keras demi mama, bukannya berterima kasih, tapi Mama malah membuatku bertambah sakit. Lalu kenapa hanya mematahkan tanganku? Kenapa tidak mencekikku sampai mati? Mama ingin melihatku benar-benar menjadi parasit bagi orang lain? Begitukah?"
"Jenn! Apa yang kau katakan. Tidak baik bicara seperti itu." -Mario berdiri hendak menenangkan Jenni.
"Ma! Maafkan aku, maafkan aku karena tidak mengenalkan Given saat mama masih ada. Ini ada Given-ku, Ma. Dia, adalah putri yang aku lahirkan. Cucu Mama."
Given pun memeluk sang mama yang beberapa kali menyebut namanya sembari menangis.
"Ma, aku akan benar-benar pergi meninggalkanmu. Mengikuti kemana Given akan dibawa pergi. Maafkan aku, Maa!"
"Jenn, maaf aku harus melakukan ini." -Memeluk Jenni, yang tentu saja wanita itu berusaha menolak namun Mario tidak melepaskannya. "Jenn, kau boleh marah padaku saat kita pulang nanti. Tahan dulu."
"Apa aku terlihat sangat menyedihkan? Hmmm?"
"Tidak. Aku hanya ingin ibumu melihat bahwa ... aku adalah orang yang akan menjagamu. Aku adalah orang yabg akan bertanggungjawab atas hidupmu setelah ini. Kau mengerti?" -masih keukeh memeluk.
Given mendongakkan kepala dan tersenyum senang melihat akhirnya daddy benar membuktikan perkataannya, menyayangi mommy.
"Berhentilah menangis. Itu tidak baik untuk penyembuhanmu. Tenanglah. Setelah ini, aku akan selalu ada saat kau merasa sedih atau marah."
Pelukan tak terbalas itu sepertinya berhasil menenangkan Jenni. Benar, hatinya kini menjadi lebih tenang karena sikap tulus seorang Mario. Namun, wanita itu belum mengatakan apapun lagi.
Pada akhirnya, Mario pun menyudahi pelukan, takut jika badmood wanita itu akan kembali.
"Given, sini, kita perkenalkan diri pada nenek." -memgambil tangan anak itu, keduanya kini mendekati tulisan yang tertera nama si penghuni gundukan itu.
Mario meminta Given memperkenalkan diri dan say hallo pada neneknya.
"Hai, Ma! Aku tidak tahu apa aku pantas memanggilmu mama atau tidak. Aku ingin mengatakan, bahwa ... aku adalah pria yang telah membuat putrimu melahirkan anak ini." -memeluk Given yang sedang duduk dipangkuannya. "Maafkan aku telah membuat sebuah luka dalam di hati putrimu. Aku berdosa karena meninggalkan dia berjuang sendirian merawatmu dan Given. Maafkan aku. Tolong, maafkan dan jangan menghukumku, agar aku bisa melindungi keduanya. Aku ingin membuat mereka nyaman bersamaku. Mohon izin darimu, maa!"
"Dad, dont cry!" Given menghapus airmata sang daddy. Anak itu mungkin sedikt bingung. Kenapa kedua orangtuanya bergantian menangis.
........
Keesokan harinya.
Kediaman Keluarga Yoris.
"Mamaaaa! Papaaaaa!"
__ADS_1
Tok tok tok,
Beberapa kali Arsen mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
Ceklek,
Pintu dibuka oleh sanga ayah, Stefan. Yang hanya mengenakan handuk. Sepertinya papa baru selesai mandi karena bersiap akan berangkat kerja.
"Ada apa boy? Apa itu yang Arsen bawa? Masuklah!"
"Papa, dimana mama?"
"Tu di dalam. Baru saja selesai mandi."
Anak itu pun masuk. "Pah, Mah, lihat ini! Arsen mendapatkan kiriman hadiah dari Given."
"Ow .. waw. Coba kita lihat. Mainan apa ini?"
Mereka pun membukanya dengan antusias.
"Uwwwaaaau! Papa, ini kan Helly Copter yang Arsen suka,"
"Iya, boy. Adik itu keren juga selera mainannya. Ini edisi terbatas loh, Ma. Dijual dengan harga tinggi. Iya kan pah?"
"Hmmm. Dan Arsen masih menabung untuk mendapatkannya. Tapi malah dikasi gratis oleh Given. Ini mainan yang hanya ada 5 di tiap negara." terang Stefan.
"Arsen senang Pah. Yeeee. Akhirnya punya Helikopter ini."
"Pah, kok bisa ya, si Mario rela membelikan mainan semahal ini untuk anak kita?" Gina terlihat berpikir.
"Itu pasti bukan kehendaknya, tapi kemauan Given. Dia pasti merasa kesal saat membayar ini," bisik Stefan, tersenyum geli.
"Ma, telepon Given dulu, Arsen mau bilang terima kasih."
"Baiklah, mama akan mengubunginya."
"Tunggu! Lihat dulu, siapa itu yang kamu hubungi?
Jangan sampai salah orang. Awas saja kalau yang kamu hubungi ayahnya Given."
"Yah? Papa Arsen, kamu keterlaluan. Aku menghubungi Jenni. Lihatlah!" -mendekatkan layar ponselnya ke wajah Stefan.
.........
"Dad, Given mau dipangku Daddy sebental."
"Oke, girl. Sini," -Mario mengangkat tubuh kecil anak itu untuk naik ke pangkuannya.
"Ven, kamu kan bisa duduk sendiri." -tegur Jenni.
"Mau sama Daddy. Tidak apa ya kan, Dad?"
"Hmmm. Tidak apa."
'Given. Mungkin Mommy cemburu sama Given' bisik Mario.
"Momm! Mommy cemburu, sama Given?" -tanya anak itu, polos.
"Yah? Kenapa aku cemburu?" -menatap Mario dengan tatapan sinis. Bisa-bisanya mengajarkan Given membuat pertanyaan menyebalkan seperti itu.
"Kenapa melotot padaku?" -Mario, dengan nada cuek.
Drrrrrrt drrrrrt. Ponsel milik Jenni berdering.
Gina memanggil.
Karena duduk bersebelahan, Mario bisa melihat jelas nama pemanggil tersebut. Anehnya, saat mengingat Gina, ia tak lagi merasakan apa-apa.
[Halo Gin,] sapa Jenni.
[Jenn, ini Arsen ingin bicara dengan Given.]
[Oh. Baiklah, ini ada Given]
[Halo kakak, suka sama hadiahnya?] -tanpa basa-basi.
[Iya, Given ... terima kasih ya! Kakak sangat senang dengan mainan ini.]
Mendengar respon Arsen atas hadiah darinya, Given pun terlihat sangat bersemangat dan bahagia.
[Kakak, saat besar nanti temui Given ya, kakak ... Given akan rindu kakak.]
__ADS_1
Pengakuan manis Given itu membuat Mario merasa tidak nyaman. 'Given benar-benar mirip dengan Jenni. Sangat berterus terang.' batinnya kesal, karena bocah laki-laki yang Given maksud adalah Arsen.
Pria itu memutar kembali ingatannya tentang Jenni saat mereka masih sebagai sepasang kekasih. Jenni akan selalu berterus terang akan perasaannya. Saat dia rindu, dia kan mengatakannya membuat Mario pasti akan datang menemuinya. Bahkan pernyataan cinta, wanita itulah yang menyatakan cintanya lebih dulu pada Mario. Mengingat itu, Mario tersenyum tipis. 'Jangan mimpi Mario, kau tidak akan memdengar itu lagi dari Jenni. Harus tau diri. Dia sangatbmembencimu sekarang.'
"Dad, Dad!"
Panggilan Given menyadarkan Mario dari lamunannya.
"Uncle ingin bicara."
'Yah? Stefan? Untuk apa dia ingin bicara denganku?' -mengambil ponsel itu dari tangan Given.
["Ada apa? Bicaralah!]
[Mario, terima kasih karena sepertinya kau membawa pergi Jenni dan putrimu.]
[Itu bukan urusanmu!]
[Aku hanya ingin berpesan, jangan pernah sakiti mereka berdua. Aku sudah mengatakan pada Jenni untuk melapor padaku jika kau menyakitinya disana. Dan aku tidak akan tinggal diam jika temanku tersakiti. Aku akan mengambil mereka darimu karena ada orang lain yang bisa membuat mereka bahagia selain dirimu.]
[Stefan, kau sedang mengancamku?]
[Iya, Benar.] jawab Stefan. Pria itu merasa puas mengacaukan perasaan Mario. 'Jadi kau merasa terancam sekarang?' -Stefan tertawa dalam hati sepuasnya.
...........
Seoul, Korea Selatan.
"Waaaw Dad, jadi ini adalah kamar Given?" tanya Given dengan wajah kagumnya pada kediaman barunya itu.
"Iya, sayang. Given, Daddy sama mommy akan tinggal di rumah ini mulai sekarang. Dan Kamar ini adalah milik anak daddy. Given senang?"
"Hmmm. Sangat senang, Dad. Kayak kamar kakak. Ada banyak mainan. Given suka Dad! Lalu dimana glenma Given?" tanya anak itu, karena tidak lagi melihat keberadaan sang nenek.
"Grandma kamu, tinggal ditempat terpisah sayang. Kalau Given kangen, grandma akan datang mengunjungi kita."
"Dad, bolehkah Given memainkan semua mainan ini?"
"Tentu saja sayang, semuanya untuk Given."
"Uwwaaaw. Thankyou Dad,"
Jenni pun terlihat senang melihat kebahagiaan di wajah putrinya itu.
"Momm, cepat sembuh jadi bisa temani Given main, oke?"
"Oke, sayang."
"Venn, mommy akan istirahat biar cepat sembuh ya,"
Given lalu mengangguk.
"Jenn, ayo aku akan memgantarmu ke kamar sebelah."
"Aku tidak apa jika di kamar Given saja."
"Tidak. Ada kamar lain untukmu. Ayolah atau akan aku gendong?"
"Maksudmu tinggal dikamar yang sama denganmu?"
"Cssssh! Ayolah jangan banyak bertanya. Ada yang harus kita bicarakan empat mata."
.
"Welcome Jenni! ini adalah kamarmu."
Jenni pun menyandarkan bokongnya di sisi tempat tidur. "Bicaralah. Apa yang ingin kau katakan?"
"Kenapa? Kau sangat tidak sabar mendengarnya?" -mendekat sambil berbisik.
Mengambil tangan Jenni, lalu berlutut di hadapannya. "Jenn, ayo kita menikah. Jadi pasangan, seperti dulu."
"Kenapa? Kenapa aku harus jadi istrimu?" -membalas tatapan.
"Tentu saja harus. Kau adalah ibu dari anakku. Ayolah. Jangan pedulikan perasaan bencimu padaku. Mari kita lakukan setidaknya demi Given. Hmm?"
.
.
Bersambung..
__ADS_1