Anakku Dan Cinta Pertamaku

Anakku Dan Cinta Pertamaku
Belajar Peduli


__ADS_3

CUP


CUP


CUP


CUP


CUP


(apa itu cup cup thor? ..... itu, mama papa Arsen lagi memulai malam panas sebagai pengantin baru lagi🤭)


..............


"Sayang, maaf kalau malam itu aku sudah menyakiti kamu, bermain dengan sangat kasar."


Lagi,


Stefan selalu mengingat malam pertama 6 tahun lalu setiap kali mereka bercinta.


"Sudahlah, papa Arsen, jangan mengungkitnya lagi. Aku malu mengingat diriku yang malam itu." Gina tersenyum malu dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Kenapa harus malu? Bukankah itu malam barharga kita? Hemmm?"


CUP CUP CUP


Stefan kembali memberi kecupan dibagian manapun yang ia sukai.


"Ahhh"


"Yaa, mendesahlah sayang, aku senang mendengarnya." -berbisik menggoda.


CEKLEK.


Pintu terbuka disusul dengan suara langkah kecil memasuki kamar. Beruntung papa mama Arsen sedang bermain dibawah selimut dan baru saja akan mulai.


"Arsen?"


Keduanya menyebut nama anak satu-satunya itu secara kompak. Terkejut? tentulah ... bukan main-main terkejutnya.


"Papa, Mama, Arsen mengantar adik ini." -melirik Given sekilas.


"Ke-kenapa adiknya diantar ke kamar mama papa Sen?" tanya Stefan


"Karena dia tidak mengenakan pampers." jawab anak itu, jelas.


"Ohhhhh, mama lupa memakaikan pampers untuk Given." Gina sontak menepuk jidatnya sendiri.


"Boy, adiknya bawa kembali ke kamar Arsen ya, sebentar mama akan menyusul memakaikan Given pampers. Iya kan, mah?" Stefan menatap Gina dengan senyuman penuh arti.


"Oh, iya ... sebentar mama menyusul sayang. Pampers-nya Given kan ada di kamar Arsen."


"Benarkah, baiklah! Ayo Given, kakak akan memakaikanmu pampers."


"Hei ... Arsen, jangan sayang. Kamu dilarang membuka celana Given. Tunggu mama, oke,"

__ADS_1


"Emmmm Oke, Mah ..., ayo Given kita kembali ke kamar kakak." anak tampan itu kembali menyeret tangan kecil Given.


Pintu kembali tertutup setelah dua anak itu keluar dari sana.


"Gin, apa yang kamu pikirkan? Kamu mengira Arsen akan melakukan pelecehan? Ada-ada saja."


"Hehehe. Aku keceplosan. Aku menganggapnya seperti orang dewasa. Tapi itu benar. Anak kita tidak boleh asal membuka celana teman perempuannya."


"Ya... itu bagus. aku mengerti maksudmu sayang."


Stefan pun kembali melanjutkan aksinya.


"Tunggu, tunggu! Tadi aku sudah mengunci pintu. Kenapa mereka bisa membukanya?" tanya Gina, heran.


"Oh, itu ... Arsen punya kunci cadangan untuk pintu kamar ini sayang." jawab Stefan, santai.


"Kunci? Anak sekecil itu kamu percayakan menyimpan kunci?"


"Gina sayang ..., zaman ini sudah canggih. Kunci cadangan yang aku maksud, adalah bola mata anak itu. Pintu kamar ini akan terbuka dari luar saat kontak dengan mata-nya."


"Wuaaaaa, keren!"


"Tapi akan segera ku nonaktifkan. Aku sudah memesan pintu yang baru."


"Kenapa? Biarkan saja sayang,"


"Karena sekarang sudah ada kamu. Aku tidak ingin anak itu memergoki kita sedang bergelut. Kita tidak akan tahu kapan dia tiba-tiba kesini. seperti yang terjadi barusan," membelai rambut Gina.


"Benar sayang, beruntung tadi kita hanya sedang pemanasan."


CUP


"Tunggu aku yah, papa Arsen."


Gina lalu beranjak memakai pakaian dan pergi ke kamar Arsen untuk memakaikan pampers untuk Given.


........


Keesokah harinya.


Jenni terbangun.


'Grandma-nya Given, dia menjagaku semalaman?'


Terlihat, Park Yoo Ra masih terlelap.


'Apa sebaiknya aku pergi saja? Aku tidak boleh menggantungkan hidupku pada orang lain. Aku tidak berhak menerima ketulusan orang tua ini. Ini memalukan.'


'Dekat dengan putranya hanya akan membuatku sakit hati karena penghinaan bertubi-tubi dari pria itu.'


"Jenni?"


"Yah? Nyonya, selamat pagi!"


Asik membatin membuat Jenni tidak menyadari bahwa Yoo Raa sudah bangun.

__ADS_1


"Nyonya? Panggil Mama, sayang. Biasakan panggil saya Mama seperti sebelumnya." protes Park Soo Ra kepada Jenni yang kembali memanggilnya Nyonya.


"Saya merasa tidak nyaman dengan sapaan akrab itu. Mario tidak suka mendengarnya. Saya tidak berani lancang lagi, Nyonya."


"Jenn, saya percaya, Mario akan menyukai kamu lagi sayang. Dia itu memang sedikit pemarah. Tapi dia sangat penyayang."


"Sudahlah, Nyonya ... jangan bahas pria itu lagi."


"Baiklah, baiklah! Sekarang segeralah sembuh biar kita bisa jalan-jalan memgunjungi mama kamu, hmmm!"


"Hmmmm." mengangguk. "Nyonya, rasanya ... saya sangat ingin makan sesuatu yang enak."


Entah kenapa Jenni sangat tidak tahu malu meminta sesuatu. Bagaimana lagi, dirinya memang sedang sangat ingin makan sesuatu yang lezat.


'Apa? Dia meminta sesuatu sekarang? Apa sekarang dia mulai berani setelah merasa nyaman denganku? Tak masalah. Dia hanya meminta makanan lezat. Bukan sebuah benda mahal limited edition. Ini belum pantas disebut sebagai penggila harta.'


"Baiklah sayang, mama akan keluar mencari sesuatu untukmu, oke,"


Saat menutup pintu keluar dari ruangan, mama sedikit dibuat terkejut oleh putranya yang duduk menyendiri disana.


"Mario?"


"Ma...."


"Mario, ini kenapa? muka kamu? Kenapa pake perban? Lalu, dimana cucu mama?"


"Aku ... tidak berhati-hati saat berjalan sehingga aku terjatuh. Ini tak apa, Ma. Given, dia ... sedang bersama Gina."


"Gina? Kenapa sama Gina? Kamu -?"


"Tidak, Ma. Jenni yang menitipnya pada Stefan."


"Oh, jadi ... kapan kita bisa menjemputnya? Tidak baik menitipkan anak ke orang lain berlama-lama Mario."


"Ma ... aku tidak percaya diri menemui putriku dalam keadaan begini. Aku malu dia melihatku terluka seperti ini."


"ah, Mama tidak peduli. Hari ini juga, jemput Given."


"Oke, oke ... Ma! Lalu, Mama mau kemana sekarang?"


"Emmm ... Begini, Jenni ingin makan sesuatu yang lezat."


"Baiklah, akan ku carikan. Aku tahu makanan kesukaan dia, Ma."


"Waaah, benarkah? Mario, apa mama tidak salah? Kamu care sama Jenni?"


"Mama bilang aku hrus menikahinya. Tentu saja aku harus belajar peduli."


Mendengar itu, membuat sang ibu tersenyum penuh arti. Ia pun meminta Mario untuk membeli beberapa makanan lezat kesukaan Jenni.


Seolah mendapatkan sebuah ide, sang mama kembali tersenyum menatap kepergian Mario.


'Aku pulang saja. Biar nanti saat Mario balik, mereka bisa berduaan di dalam'


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2