
Setelah Stefan berpamitan pada ibu mertuanya itu, ia pun mengajak Gina dan Arsen untuk pergi dari sana.
“Ayo, kita pulang.” Ajaknya. Ia lepas genggaman tangannya pada jemari Gina, dan hanya menggenggam tangan bocah yang baru masuk sekolah TK itu, keduanya berjalan bersama di depan Gina. Namun, ketika baru beberapa langkah, tiba-tiba Gina melakukan hal yang tak terduga.
Grreepp.
Gina tiba-tiba memeluk Stefan dari belakang, membuat dua pria beda generasi itu menghentikan langkah.
“Maaf harus lakukan ini. Tapi aku ingin seperti ini dulu, sebentar saja.”
‘Gina kenapa? Tumben sekali dia sadar bahwa dia harus memelukku sesekali.’ Batin Stefan, konyol. Ia pun tersenyum, senang pastinya.
Melihat drama kedua orang dewasa itu, Arsen tidak ingin ketinggalan. Ia pun ikut memeluk ayahnya itu dari samping. Kini ia percaya, bahwa mamanya itu menyayangi Papa.
‘Kenapa Arsen jadi ikut-ikutan?’ lagi-lagi Stefan berbicara dalam hati. ‘Semoga saja manusia kecil ini tidak menjadi pengganggu malam pertamaku dan ibunya.’ Batin Stefan semakin konyol, buru-buru ia tersadar dari pikiran gilanya. ‘Apa yang aku pikirkan? Baru mendapat pelukan begini saja, aku sudah seperti orang mabuk.'
“Hai Kakek, Kakek yang waktu itu pernah ke rumahku kan?” Tiba-tiba saja Arsen sudah melepas pelukannya dan menghampiri pria paruh baya yang kini berada di sana.
“Iya, sayang. Ini kakek.” Jawab pria yang adalah Ayah dari ibunya itu.
Mendengar Arsen sedang berbicara dengan seseorang, Gina pun melepas pelukannya.
“Apa kakek juga ingin menemui nenekku?” tanya bocah itu lagi, yang mana membuat Farrel mengangguk.
“Iya. Kakek datang menemui nenekmu. Tiba-tiba kakek merindukannya.” Jawab Farrel pula.
“Ayo kita pergi dari sini.” Ajak Gina kepada Arsen dan Stefan.
Sejauh ini, walaupun Stefan beberapa kali pernah membahas tentang ayahnya itu, Gina sekalipun tidak pernah menanggapi.
“Gin,” Stefan menahan tangan Gina, membuat langkah wanita itu terhenti. “Bicaralah dengan papa, kali ini. Aku mohon, yah.” Dengan wajah penuh harap.
Saat ini, di depan makam ibunya, Gina berdiri bersama ayahnya. Stefan sengaja membawa Arsen untuk pergi dari sana agar Gina dan Farrel bisa berbicara dari hati ke hati.
“Apa lagi kali ini Pah?” tanya Gina, dingin. Tak ada kehangatan sama sekali untuk ayahnya itu.
“Sayang, apa kau melihat kami berdua? Terakhir kali kami datang bersama kesini saat putri kita masih kecil. Sekarang lihatlah, dia sudah sangat dewasa. Dia bahkan akan menikah dengan seseorang yang dia cintai.”
Baik Gina maupun Farrel sama-sama terbawa dalam perasaan haru.
“Maafkan aku sayang, karena kebodohanku, aku telah menyia-nyiakan putri kita. Gina yang adalah berlian berharga kita, dengan mudahnya aku membuang dan melemparnya ke dasar lautan ... hingga dia tidak mampu lagi untuk kembali.” Farrel benar-benar menangis. Kakinya yang terasa bergetar hebat tak mampu lagi menyanggah tubuhnya. Ia pun tersungkur di hadapan makam istrinya itu.
Menangis dan menangis seperti orang yang putus asa. Melihatnya, Gina merasa sangat sedih. Sebenci-bencinya pada ayahnya itu, namanya sebagai seorang anak Gina tak kuasa mempertahankan hati dinginnya. Biar bagaimanapun, dirinya juga bersalah.
“Pah, Gina minta maaf pah, Gina juga bersalah.” Kini keduanya menangis bersama, saling memeluk, memberi dan menerima kekuatan.
Setelah keadaan hati keduanya cukup tenang, mereka pun berbicara dari hati ke hati sebelum berpisah.
“Jadi ... papa boleh menghadiri pernikahanmu?”
“Tentu saja. Papa masih sehat, papa harus kerjakan tanggung jawab papa untuk menikahkan aku.” jawab Gina, tersenyum.
“Iya, papa pasti mendampingimu sayang.”
“Pah, bolehkah aku tinggal di rumah papa sebelum aku benar-benar jadi istri?”
“Tidak sayang. Jangan. Sangat berresiko. Di sana masih ada Helena. Papa sama Nio merahasiakan pernikahanmu dari mama Veni dan juga Helena.”
__ADS_1
“Apa?”
“Gina, dengar. Helena itu wanita pemberani. Dia sedang mati-matian mencari informasi tentang tanggal pernikahan kalian. Dia berusaha ingin menggagalkannya.”
Farrel pun mengatakan, meskipun Helena tahu bahwa Stefan sama sekali tidak menginginkannya lagi, tapi dia tidak bisa merelakan Stefan menikahi Gina.
“Kita tidak pernah tahu apa yang bisa wanita itu lakukan. Bisa saja dia membahayakanmu dan Arsen. Itu sebabnya, papa meminta Stefan untuk mempercepat pernikahan kalian.”
“Jadi, dia memajukan tanggal pernikahan secara tiba-tiba karena permintaan Papa?”
Farrel mengangguk.
“Pa ... ini tidak benar. Bagaimana jika Stefan menyesal telah menikahiku pah? Bagaimana jika dia menikahiku hanya karena merasa terdesak?”
“Gina, jangan khawatirkan apa pun nak, percaya pada papa. Dia tidak akan pernah merasa seperti yang kamu takutkan. Papa percaya, dia juga menginginkannya Gina.”
Gina terlihat gusar. Dirinya juga merasa malu pada Stefan. Yang wanita itu tahu, Stefan akan menikahinya dengan alasan terbesarnya yaitu tanggung jawab sebagai ibunya Arsen. Untuk urusan perasaan pria itu, Gina belum bisa memastikannya.
Pada akhirnya, masa bodoh dengan cinta. Lagi pula, aku sudah meminta bantuan mama. Pikirnya pula. Setelah cukup lama berbincang, keduanya pun pergi dari sana.
“Pah, ikutlah bersama kami ke rumah Stefan sebelum papa kembali ke kantor. Biar dekat dengan Arsen.”
“Bukannya papa tidak ingin ikut, tapi ... papa sudah ada janji dengan calon besan papa.”
“Oh ya? Papa sudah akrab dengan mereka?”
“Belum begitu akrab. Hanya saja, kami akan membahas beberapa hal tentang pernikahan kalian.”
Gina pun mengangguk paham. Ayah dan anak itu pun melangkah keluar area pemakaman itu, tak lupa Gina bergelayut di lengan ayahnya itu, seperti yang dulu sering ia lakukan.
“Waaah. Lihatlah mama Arsen, dia terlihat sangat manja.” Ujar Stefan.
“Yah? Pergilah menyapanya.”
Arsen pun keluar dari mobil dan berlari ke arah ibu dan kakeknya. Stefan juga keluar dari mobil tapi hanya berdiri di samping mobil itu.
“Mah, bolehkah Arsen ikut dengan kakek?”
“Hei ... cucuku yang tampan, maukah ikut dengan kakek?”
Arsen pun mengangguk semangat. “Tapi berjanjilah kakek akan mengantarku pulang.” Ujarnya lagi.
“Sebentar pah, aku akan bertanya pada Stefan.” Gina pun menghampiri bakal suaminya itu.
“Em ... Arsen ingin pergi bersama papa. Apa kamu mengizinkannya?”
Stefan malah tersenyum nakal. “Tentu saja boleh.”
Gina berbalik dan sedikit berteriak. “Arsen, pergilah bersama kakek!” Melambaikan tangannya.
Farrel pun membawa Arsen masuk ke mobil miliknya, duduk di belakang supir. Tak henti-hentinya pria itu mensyukuri keadaan ini.
“Senyuman apa itu? Ayo, kita pergi.” Gina menyadarkan Stefan dari senyum tak jelasnya.
Di dalam mobil.
“Ehm.” Gina berdehem.
__ADS_1
“Bicara saja Gin, tidak perlu basa-basi berdehem.”
“Aku ... mau bilang, terima kasih ya, untuk yang tadi.”
“Yang mana? Karena aku membawakan ibu mertua bunga yang indah, atau karena membiarkanmu memelukku di area pemakaman, atau karena ... mengizinkan Arsen pergi bersama kakeknya?”
‘Apa pria ini menganggapku bercanda? Apa dia sedang meledekku?’
"Terima kasih sudah memintaku berbaikan dengan papa."
"Jadi kau berterima kasih padaku? Berterima kasihlah dengan benar."
"Ya? Apa maksudnya?"
"Seperti yang kita lakukan semalam,"
"Apa?" Gina membelalak.
Stefan lalu menampilkan smirk.
"Aku hanya bercanda Gina."
.
.
Tiga hari kemudian.
"Ma, ikutlah denganku." ajak Nio, kepada sang mama.
"Kemana Nio?" tanya mama, heran.
"Tentu saja ke tempat acara sakral pernikahan kakakku."
"Apa? Ap maksudmu?"
"Kakakku menikah hari ini. Papa memintaku untuk mengantar Mama ke salon dan membawa Mama ke tempat acara."
"Kenapa kalian berdua merahasiakan ini dariku Nio? Kalian berhianat?"
"Itu tidak penting Mah, ayolah."
.
Pemberitahuan pernikahan Gina dan Stefan. Tentu saja ini sangat tiba-tiba dan mengagetkan bagi Rio dan juga Helena.
Beberapa menit lagi, maka dua orang itu akan sah menjadi suami istri secara hukum dan agama, hanya akan disaksikan oleh beberapa orang yang berkepentingan saja. Sedangkan, untuk perayaan resepsinya akan diadakan pada minggu depan.
"Sial, sial, sial!"
PRAAAANK.
Helena melempar sebuah gelas kaca dengan sangat kuat, membuatnya hancur lebur.
Baru saja ia merencanakan sesuatu, tapi dirinya harus dikejutkan dengan kabar pernikahan.
"Stefan, awas saja kau. Dasar laki-laki penipu. Dulu kau mengatakan akan menungguku. Sekarang kau malah menikah dengan orang lain?" Helena sangat marah.
__ADS_1
.
.