
oke happy reading all ππ
.
.
.
.
.
.
.
.
bismillah
.
.
.
.π»π»π»π»π»π»
"kenapa berhenti.... kenapa tidak dilanjutkan ...."
hanya sepersekian inci jarak kepalan mereka dari wajah mulus wanita yg sangat mereka kasihi itu
"ayo...pulang....."
" hubby sudah puas kan menggoda anaknya yg sudah ngamuk kaya banteng rodeo...." lirik priscil wajahnya memancarkan ketenangan
"dan anta apa semua kekacauan ini sudah dapat menyalurkan emosi anta...lirikkan priscil pada barang barang yg sudah kakang rusak
"uang jajan anta bunda potong untuk mengganti ini semua...." ucapnya tegas
" zi ...haikal bunda boleh minta tolong sama anta berdua ???" uzi dan Haikal mengangguk
"bunda minta tolong bereskan ini semua ya tidak enak sama anak taekwondo dan ustadz Revi nanti saat mereka datang melihat sasana berantakan dan rusak mereka akan mengira sasana dimasuki macan yg sedang ngamuk ,yg rusak ganti saja kalian beli nanti bunda transfer uangnya..."
"na'am bunda...."jawab uzi dan Haikal yg segera merapikan kekacauan yg sudah dibuat
Priscil menarik tangan anaknya yg sudah memar memar dan beberapa bercak darah Azam mengekor di belakang memakai koko dan kopiahnya lagi tak ada penolakan dari kakang atas sikap bundanya ia pasrah dalam kediaman ia masih percaya bundanya tidak mungkin melakukan perjodohan yg tidak diinginkannya itu akhi mau syifa... hanya dengan syifa....
__ADS_1
" duduk....hubby juga...." pinta priscil tepatnya perintah sikap brutal yg mereka keluarkan tadi tiba tiba ciut saat sudah bersama priscil , Priscil mengambil air hangat dan kotak obat membersihkan dan mengobati luka keduanya
setelah selesai ,ia mengembalikan kotak obat lagi dan duduk kembali di samping kakang
seketika kakang memeluk ibunya menumpahkan semua kekesalan dan kekecewaan nya dalam pelukan ibunya tanpa mengeluarkan air mata namun priscil tau ia membalas pelukan sang ibu
"bun....yg Hawa katakan itu tidak benar kan bun....??tanya kakang dengan wajahnya yg kusut matanya yg sedikit memerah
"selama ini ana menjaga hati ana hanya untuk syifa bun....ana berusaha membuktikan bahwa ana layak untuk ukhti perjuangan ana semata mata hanya untuknya bun...." cerocosnya
Azam hanya menatap dan menyunggingkan senyum
"jadi kalo syifa tidak ada anta tidak mau belajar bisnis???"tanya Azam
"bu..bukan begitu yanda..."jawab kakang
"tapi ukhti lah yg menjadi penyemangat tambahan untuk ana...."
"tadi sore orangtua Hawa datang kemari beliau menginginkan Hawa menikah dengan anta ..."ucap Azam
"Yanda rasa Hawa anak yg baik ,ukhti Hafidzah,gadis baik baik,ukhti putri dari sahabat Yanda juga.. ." azam melengkungkan bibir dan menyilangkan kakinya
"tapi kakang tidak menyukainya yanda,kakang hanya menganggap Hawa sebatas kawan saja tak lebih...kakang tidak mau menyakiti syifa, diri kakang sendiri dan bahkan menyakiti perasaan Hawa dan keluarganya..."sanggah kakang
"Yanda tidak enak bila harus menolak??? beliau merupakan senior Yanda di Maroko dulu????apa karena itu..."kakang menggebu-gebu namun kini ia mulai pasrah dengan semua perkataan Azam seakan menyudutkan nya
Azam mengusap wajahnya kasar "Yanda memang tidak enak menolaknya tapi Yanda lebih menyayangi anak dan istri Yanda ..." ucap Azam
"maksud yanda.??" tanya kakang ragu
"ciihhh dasar bahl*l ...." decih priscil
"tentu saja Yanda menolaknya...." priscil ikut bersuara
seakan mendapat angin segar ternyata harapan nya diijabah kontan oleh Allah ia membelalakan mata menatap kedua orangtuanya lalu seketika bersimpuh di kedua kaki mereka
"berterimakasih lah pada bundamu yg menyadarkan yanda kalau anta mempunyai janji sama anak gadis orang ,hampir saja yanda setuju dengan perjodohan ini..." tambah Azam
"syukron yanda...bunda....." hatinya kini berubah gembira....ia memeluk tubuh sang bunda "Syukron bunda...."
flashback on
"Afwan zam.....ana beserta dek Nur ke sini lagi sebenarnya ada yg akan ana bicarakan pada anta dan dek priscil mengenai anak anak kita..."ucap Habib Maliq
Azam mengerutkan dahinya "anak anak kita memangnya kenapa bib...." azam dan priscil saling berpandangan
"bagaimana kalau Rasya putramu dijodohkan dengan Hawa putriku...."
__ADS_1
Azam membalasnya dengan tawa kecil " ahhahaaa Habib bisa saja putra ana masih banyak sekali kekurangan dan masih belajar bahkan masih sekolah...."jawab Azam
"tak apa khitbah saja ,oh iya Hawa selalu saja meminta bertemu dengan Rasya putri ana menaruh perasaan pada akhi jadi daripada berdosa lebih baik kita jodohkan saja ,ana lihat Rasya itu anak yg baik ,sholeh,ana juga sering melihat akhi membantu pekerjaan kantor anta zam..."ucap panjang kali lebar Habib Maliq
" hemmm ....maaf beribu maaf Habib,,, ka Nur bukannya ana tidak setuju namun ana pribadi menolak rencana perjodohan putra ana menurut ana menikah harus didasari dengan kasih sayang dan cinta dan ana rasa perasaan tidak bisa diatur dan dipaksa ana hanya mau memberi kebebasan untuk anak anak ana dalam memilih pasangan sesuai dengan pilihan mereka masing-masing. ...tanpa harus ada campur tangan orangtua insyaallah ana yakin pilihan yg mereka pilih itu tepat untuk mereka , mereka sudah tau mana yg baik dan mana yg buruk ditambah kakang sudah punya janji pada ana dan seseorang...."ucap Priscil lugas...dan melirik pada Azam saat kata kata terakhir nya
"iya bib...sekali lagi ana beserta keluarga besar memohon maaf sebesar-besarnya pada habib sekeluarga khususnya Hawa...."
"na'am kalau begitu tak apa zam,sil...."
"biarkanlah mereka memilih sendiri jodoh mereka ini bukan jamannya siti Nurbaya... insyaallah ana percaya mereka mampu memilah dan memilih kalau memang sudah jodoh tidak kemana betul kan..."ucap priscil lagi
ka Nur tersenyum, Azam dan Priscil bukanlah orangtua yg kuno ... sayangnya dari balik tembok dua orang menguping setengah percakapan mereka tidak sampai selesai dan mengambil kesimpulan sendiri
mereka kembali melanjutkan percakapan ringan sampai
"assalamualaikum....om Azam tante Priscil Rai dan kakang ,,om tante ....." ucap Hawa tergesa gesa ia menceritakan semua yg terjadi Azam dan priscil menyudahi obrolan mereka Habib dan ka Nur pun pamit bersama Hawa yg kembali ke pondoknya
flashback off
"eh .ehh...
"puk...puk....."priscil menepuk nepuk punggung kekar anaknya itu merasa sesak akan pelukannya
"lama lama bunda inalillahi kalau jadi syifa...ini anta meluknya seperti akan membunuh orang saja..."ucap priscil
" tapi yanda tidak suka anta meluapkan amarah dengan cara seperti itu bukankah anta sudah paham mengenai amarah....."tanya Azam
"maaf Yanda....maafkan ana ..... insyaallah ana tidak akan mengulanginya lagi..."
"nah anta tetap harus mengganti nya ,,,kalau bunda jadi Syifa bunda akan langsung putus dengan anta...."ucap priscil menggoda anaknya
"loh kenapa ???" tanya kakang kini wajah berserinya sudah kembali
"iya lah anta kalau marah malah merusak ,mau jadi apa nanti rumah tangga kalian kalau anta begitu..... padahal bunda sudah janjian sama syifa untuk mengikuti balapan motor minggu depan, astagfirullah keceplosan..." priscil melotot dan mengatupkan mulut nya ia langsung kabur
"apa????" pekik Azam dan kakang
Azam langsung bangkit dari duduknya mengejar Priscil yg kabur ke kamar dan mengunci pintunya
"sayang....buka pintunya ....hubby mau masuk....ini namanya khumai membangunkan macam tidur..."ucap Azam seperti seorang berandalan yg tengah mabuk menggoda sasarannya di balik pintu kamar dengan senyum smirknya
ia mengetuk ngetuk pintu dan mencoba membuka gagang pintu namun pintu terkunci dari dalam
"aduh by khumai sudah ngantuk malas beranjak hubby tidur sama kakang saja...."alasan priscil
kakang tertawa lepas melihat kelakuan kedua orangtuanya seperti anak muda yg masih bucin....
__ADS_1
"hukum saja Yanda..sampai bunda jera kalau bisa sampai minggu depan..." pekik kakang ,ia selalu berharap saat ia berumah tangga ia ingin seperti ayah dan ibunya selalu penuh dengan keharmonisan dan canda tawa juga kasih sayang terkadang membuat muda mudi iri sendiri.... walaupun pada awalnya sang ibu harus dipaksa untuk menikah oleh ayahnya.....
kini pikiran nya kembali pada Syifa apa setelah kejadian ini syifa akan tetap menerimanya atau malah sebaliknya membenci dirinya apa yg harus kakang lakukan sekarang