
happy reading all π
.
.
.
.
.
.
.
bismillah
.
.
.
.
" tap...tap ...tap..." suara hentakan sendal jepit beradu pada keramik namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar bergantungkan tulisan assalamualaikum akhi.....
"hufffftt......" Rai menarik nafas panjang ia melirik dan menatap sendu lalu melanjutkan langkahnya
ada yg berbeda di rumah ini,, yapp.....sudah beberapa minggu mereka tidak menghitung ,pokonya terasa lama , tidak lagi terdengar pekikan atau tawa usil kakang sya di rumah ini, biasanya jam jam segini akhi selalu memetik senar gitar dan bernyanyi dengan merdunya di halaman belakang dan duduk di ayunan separuh waktunya kini ia habiskan di RS
" anti kenapa???" tanya Azam yg bertanya pada rai namun pandangannya tak lepas dari laptopnya
" sepi.....akhi itu terkadang suka menyebalkan...tapi kalau tak ada rumah terasa sepi ,...." ucap Rai sendu ,ia sangat rindu.... merindukan kaka kembarnya
" terasa kan kalau akhi tak ada ... giliran bertemu kalian jarang akur..." jawab Azam
" iya ,yanda....oh iya bunda mana???" tanya nya lagi
" bunda sedang di rumah ponpes....ummah sedang tidak enak badan katanya beliau ingin dibuatkan bubur oleh bundamu..."
Rai hanya berohria...
ukhti memencet tombol remote memindah mindahkan channel televisi ,sudah semua ia tayangkan namun tak ada yg menarik
"Yanda...separah apa kondisi ukhti ??? ini sudah hampir dua bulan namun ukhti belum menunjukkan perkembangan...." tanya Rai matanya mulai berkaca-kaca mengingat kebersamaan nya bersama Syifa
terkadang sekarang ia dan Vani hanya duduk termenung,, karena biasanya Syifa lah yg memancing mancing gelak tawa bahkan bahan obrolan mereka ...ada saja tingkahnya ..
" Yanda kurang paham .... do'akan saja semoga ukhti cepat cepat diberikan kesembuhan .... " ucap Azam menghentikan ketikan jarinya pada keyboard laptop
" aamiin.....ya robbalalamin...." jawabnya
"oh ya ,yanda mau tanya sesuatu pada anti ...apa benar anti ingin menarik persyaratan pada lamaran akhi Haikal ???" pertanyaan Azam membuat Rai terdiam sejenak
" iya yanda..." cicitnya
"apa anti sudah memberitahu akhi dan keluarganya???" Rai menggeleng
"tadinya ana akan memberitahunya setelah acara khitbah kakang dan Syifa tapi kejadian kemarin ,,," Rai kembali terdiam
" ahhh nanti saja yanda...mungkin kalau sekarang sekarang waktunya kurang tepat...." timpalnya lagi...
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
__ADS_1
"Van ,ana sudah ijin ko sama ustadzah Maryam kalau hari ini kita akan membesuk Syifa sepulang sekolah kebetulan kakang juga ada ekskul basket dulu jadi mungkin akhi telat ke RS nya " ucap Rai
"na'am , Rai .....ana rasanya sudah kangen Syifa..." tanpa sadar air mata lolos dari matanya , Rai memeluk sahabatnya itu dan menepuk nepuk punggung nya pelan
" sudah Van,,,kita do'akan saja agar ukhti cepat diberikan kesembuhan...." ucap Rai menenangkan Vani yg sudah sesenggukan tak bersuara padahal ia pun merasa sedih .
Vani mengangguk cepat
siangnya mereka pergi ke RS
" assalamualaikum...." disana sudah ada Risa dan pak Rio
kebetulan Syifa dirawat di ruang VIP , Azam sengaja memesan ruang VIP agar yg menemani Syifa dapat leluasa bergantian....
"wa'alaikumsalam....."
" om..tante....."
"eh ada Raisya dan Vani...."
setelah mengobrol kedua orangtua Syifa pulang Risa masih harus mengurus anaknya dan pak Rio tentu saja harus bekerja , sebenarnya perawatan Syifa ditanggung sepenuhnya oleh kakang sya namun tetap saja pak Rio merasa tak enak ia terkadang diam diam membantu membayarnya diam diam pada administrasi RS walaupun tidak full karena biayanya yg cukup mahal
selepas kepergian kedua orangtua Syifa Rai dan Vani duduk mengambil kursi di samping Syifa
"fa .....anti harus bangun fa....kita berdua rindu anti fa..." ucap Rai air matanya lama lama menderas...
" fa ...coba anti berkaca ,fa betapa pucatnya wajah anti fa....anti sudah seperti mayat hidup fa...dengam semua alat medis ini...." tambah Vani
kedua ukhti ini mengobrol dengan raga Syifa yg terbaring
mereka melantunkan salawat Nabi dengam suara yg bergetar karena tak kuasa menahan tangis...tubuh Syifa yg terlihat lebih kurus dari sebelumnya membuat Rai semakin sedih
" fa....apa anta tidak kasihan pada kakang ,fa...dulu anta pernah bilang ingin memberi pelajaran pada akhi itu karena pecicilan,apa ini pelajaran untuknya ....ini berlebihan fa...ana yakin akhi sudah jera...."
Vani memalingkan pandangannya kearah samping sambil bibirnya terus melantunkan ayat ayat suci Alquran sedikit bergumam
Rai yg melihat pun dibuat kaget " fa anti mendengar kami ,fa...." Rai buru buru menyeka air mata Syifa di ekor matanya
tak lama kakang pun tiba ia masih mengenakan seragam basketnya ia menyapa Rai dan Vani namun pamit bersih bersih dulu dan makan ,,,,makanan yg selalu dikirim bundanya
" Syukron Rai ,Vani...antuma sudah menjaga Syifa selama kakang di luar..."
" bukkk...."
Rai meninju perut kakang yg baru saja selesai diisi
"aduh Rai...anti tega,ana baru saja selesai makan... kakang mengaduh
" anta bicara apa sih.... Syifa itu teman sekaligus saudara kami.... sudah seharusnya kami ikut andil menjaganya...." mata Rai kembali berkaca kaca
" duhhhh ko macan Asia jadi cengeng begini sih..." kakang memeluk adik kembarnya ini yg mulai sesenggukan di dada kakanya
" kang,syifa dapat merespon..kang ukhti dapat mendengar kami..." ucapnya
" apa yg benar anti...??" mata kakang sedikit berbinar
" ukhti tadi merespon kami dengan menangis... tambah Rai
kakang langsung melepas pelukannya dan mendekat pada Syifa
" kang apa tidak sebaiknya anta pulang barang sehari dua hari...anta terlihat sedikit kacau kang..." ucap Rai
melihat mata panda di bawah mata kakang badannya pun terlihat aga sedikit kurus....
"masa sih....mungkin karena akhir akhir ini ana sibuk Rai...tapi tidak usah khawatir...." ucapnya menenangkan adiknya
__ADS_1
"ya sudahlah terserah anta, tapi jangan sampai anta sakit kang..."
"yang penting ana masih tampan....betul tidal Van??"
Vani tertawa sedangkan Rai tentu saja memutar matanya keatas
"Rai...ana belum sempat bicara pada akhi masalah persyaratan anti..." ucap kakang
" oh iya tak apa kang ,biar ana sendiri saja..." kini mata Rai menyendu...
"memangnya kapan anti akan bilang pada akhi???" tanya kakang yg duduk di sofa
" tadinya ana akan bilang setelah acara khitbah anta dan Syifa,kang tapi berhubung Syifa mengalami musibah jadi nanti saja lah sepertinya waktunya tidak tepat...ana dan Haikal bisa menunggu kang..." Rai duduk di sebelah kakang sya sedangkan Vani yg dari tadi tal mengerti dengan arah obrolan mereka berdua hanya kebingungan
"apa sih...mereka sedang membicarakan persyaratan apa juga..." gumam Vani, namun ukhti tak ingin ambil pusing ,ia tak mau mencampuri urusan orang lain
kakang menunduk ia merasa tidak enak hati ,,, karenanya dan Syifa Haikal dan Rai harus menunggu acara khitbah mereka...ia merasa menjadi kaka paling jahat di dunia
" Rai ,tak apa ana ikhlas kalau seandainya anti melangkahi ana,,,,," belum kang sya meneruskan ucapannya Rai sudah membantahnya keras
" La ,,,,ana tak mau melangkahi atau ngarunghal anta kang...." Rai berdiri kesal
" ukhti....dengar dulu....jangan buat akhi menunggu lama ,menunggu....." kakang diam sejenak sambil memandang Syifa" sesuatu yg tidak pasti..." tambahnya
" kang.... kenapa ucapanmu seperti itu kang apa anta mulai ragu dengam kesembuhan Syifa???"
Vani yg merasa canggung memilih keluar ruangan sebentar tak ingin menjadi nyamuk
" bukan...bukan begitu Rai... maksud ana selama masih ada kesempatan dan waktu kenapa tidak sekarang saja ,jangan membuatnya harus menunggu....kasian Haikal selalu ada di daftar tunggu...jangan sampai anti menyesal di kemudian hari..." jelas kakangnya sambil menepuk-nepuk pundak Rai
tanpa mereka sadari dari ambang pintu sudah berdiri Haikal dan uzi yg melongo mendengar Perdebatan mereka , Vani sempat kaget saat keluar ruangan namun di balik pintu ada uzi dan Haikal namun uzi dan Haikal menaruh telunjuknya di bibir mereka
"ya sudah lah kang ,,,,masalah itu biar nanti saja...toh Haikal juga tidak disini kan,," Rai melipat kedua tangannya lalu duduk
namun kakang yg sempat menoleh melihat kedatangan Haikal dan uzi
"selsaikan lah secepatnya siapa tau nanti kita mengucap ijab bersamaan..." ucap kakang
" La ......ana tak mau ,,,,,kalau ana bilang sekarang pada akhi yg ada akhi mengajak ana nikah hari ini juga...." dengusnya
"memangnya anti tak mau ???" ucap kakang
" emmmm mau sih...tapi ahhh sudahlah....ana pusing..." kilah Rai
" kalo gitu aku harus telfon mamah papah dulu biar menyiapkan seserahan...." suara Haikal bak petir yg menggelegar.... membuat Rai membulatkan matanya
semua terkekeh melihat ekspresi Rai yg membatu apalagi kakang yg menjadi kan adik kembarnya ini sebagai bahan ledekan
Haikal mendekati Rai....namun kakang menyuruh mereka semua keluar ....karena kini di ruangan Syifa terlalu banyak orang .... akhirnya mereka berempat memutuskan ke kantin RS
muka Rai terus menunduk menahan malu...suasana menjadi canggung
"ekhhemmm ...jadi... sebenarnya kamu mau mencabut semua persyaratan pada ana Rai???" tanya Haikal
uzi dan Vani yg merasa keberadaan mereka hanya akan mengganggu , akhirnya memberikan privasi dan memutuskan kembali ke depan ruangan Syifa
"baiklah,,,,ana mencabut semua persyaratan yg ana ajukan untuk akhi kapanpun akhi akan mengkhitbah ana insyaallah ana siap..." Rai mengatakan nya dalam sekali tarikan nafas , membuat Haikal menarik senyuman....
" Alhamdulillah.....saat aku sudah siap kapanpun ku minta kamu harus mau....akan ku bawa orangtuaku dan kulamar kau dengan bismillah...." ucap Haikal ,kata kata itu mampu membuat Rai mendongakkan kepalanya
di depan ruangan Syifa ,kakang pamit melaksanakan shalat ashar namun belum kakang keluar dari ruangan Vani yg kebetulan sudah masuk dan mengahadap ke arah Syifa memekik
"ya Allah... Alhamdulillah....sya Syifa sya ... Syifa...."
kakang sontak berbalik bersama uzi yg reflek masuk ke ruangan dari ambang pintu
__ADS_1
"Alhamdulillah..ya Allah,fa...." ucap kakang berbinar melihat jari Syifa yg bergerak .....