BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR102


__ADS_3

Setelah sampai di rumahnya, Wicaksono kembali menghubungi Mulyadi dan menanyakan keberadaan Bang Sayid.


"Bagaimana? apa kamu sudah menemukan si Sayid?"


"Sudah Tuan, sayangnya Sayid pergi sebelum kami sampi, mungkin sudah mengetahui kedatangan kami jadi dia pergi dengan tergesa, dan meninggalkan satu tas kecil di samping ranjangnya."


"Sial, dari mana dia bisa tau kalau kalian akan datang!? Jangan-jangan ada mata mata di sekitar kita?"


"Sepertinya tidak ada yang mencurigakan dari orang kepercayaan kita, lagi pula mereka semua tidak ada satupun yang Sayid kenal."


"Tapi bagaimana mungkin Sayid bisa tau? mungkin kah dia memasang CCTV atau pelacak di handphone kita?"


"Akan segera kami cek Tuan, dan segera saya laporkan hasilnya."


"Secepatnya, aku tidak ingin Sayid hidup lebih lama. Dia harus merasakan kesengsaraan yang Nayla alami secepatnya."


"Baik Tuan."


*************


"Gila, hampir saja aku tertangkap anak buah Wicaksono, untung saja tadi pas mau masuk kompleks perumahan tempat tinggalku bersama Sri sempat lihat si Mulyadi kacung kepercayaannya Wicaksono di pom bensin, jadi aku bisa lari dari sana."


Bang Sayid melajukan mobilnya yang telah dia ganti, mobil lamanya sengaja dia hancurkan untuk menghilangkan jejak dan menghindari kejaran Wicaksono.


"Tapi si tua bangka itu benar-benar luar bisa, dia mampu menemukan keberadaanku. Aku harus secepatnya pergi dari kota ini."

__ADS_1


Dengan kecepatan tinggi Bang Sayid meninggalkan kota Y menuju pedesaan.


*********


Di tempat lain ada seorang perempuan yang sedang berdiri menatap sebuah gedung berlantai dua puluh yang bernama "NAYEL CONTRUKSI". Senyum manis di wajahnya yang sendu tersungging, meskipun sekilas terlihat manis, tapi kalau di perhatikan dengan jelas senyuman itu berakhir sinis dan mengandung arti.


"Kehancuranmu sudah datang, aku tidak akan mengotori tangan untuk menghabisi keluarga toxic seperti kalian, Kalian lah yang akan menghabisi satu sama lain."


Ya dialah Sri, saat sampai di padepokan tempat teman Abahnya tinggal, ternyata semuanya sudah tinggal nama, orang sekitar menyebutkan kalau padepokan itu mengalami kebakaran hebat menjelang dini hari tiga tahun yang lalu, dan meluluhlantakkan seluruh padepokan, banyak korban berjatuhan karena semua dalam keadaan tidur pulas sehingga tidak sempat menyelamatkan diri, bahkan seluruh keluarga teman Abahnya pun ikut meninggal saat kejadian itu.


Seolah masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya, Sri kemudian meminta di antarkan ke makam dimana mereka di kebumikan, dan setelah memastikan kebenaran berita itu, dia langsung pergi meninggalkan desa itu.


Saat di perjalanan dia beristirahat di sebuah kampung yang hampir semuanya bentuk rumah di desa itu terlihat sama, hanya warnanya saja yang berbeda, dari jauh terlihat indah karena tidak ada satupun warna yang sama dari setiap rumah. Karena merasa terkesan dan untuk menghilangkan kekecewaan, Sri berhenti di sebuah rumah bercat warna kuning yang kebetulan berjualan nasi rames.


"Silahkan mau makan apa Mbak?"


Tersenyum ramah


"Nasi lauknya sayuran dan ayam saja, minumnya jeruk hangat."


Sri yang melakukan perjalanan selama semalaman, dan sampai pagi hari belum sempat mengisi perutnya karena masih kepikiran kematian Putri, dan menerima kenyataan pahit kalau teman Abahnya telah tiada, langsung memesan makanan dan minuman.


Meskipun nafsu makanya hilang, tapi niatnya untuk membalas dendam mengharuskan dia untuk tetep hidup sesulit apa pun keadaanya.


"Baik, sebentar ibu siapkan dulu ya,"

__ADS_1


Si ibu pemilik warung langsung menyiapkan pesanan Sri, sementara suaminya membuatkan minuman.


"Bukan asli sini ya Mbak?"


"Iya Pak, saya baru berkunjung ke tempat saudara,"


"Sudah bisa terlihat, kalau Mbak ini pasti dari kota. Dulu juga kami tinggal di kota, tapi karena bosan dengan hiruk pikuk keramaian kota jadi kami memutuskan untuk pindak ke desa dan memulai semuanya dari nol."


"Silahkan dinikmati Nduk, sudah- sudah, bapak ini gimana sih, malah ganggu pelanggan pertama kita."


"Gak apa-apa Bu, saya malah seneng Ibu sama Bapak menyambut kedatangan saya dengan sangat baik,"


Sri tersenyum melihat keharmonisan kedua suami istri itu meskipun di usia senja tapi rasa cinta di mata keduanya masih terpancar jelas.


Tanpa menunggu jawaban, Sri langsung menikmati hidangan yang ada di hadapannya.


Setelah selesai makan Sri berniat meminjam kamar mandi.


"Mohon maaf Ibu, Bapak, saya mau numpang ke kamar kecil."


"Boleh, silahkan masuk ke dalam saja Nduk, ayo Ibu antar."


Sri mengikuti langkah si Ibu menuju bagian dalam rumah, dan betapa kagumnya Sri melihat seisi rumah yang tertata rapi dan bersih juga wangi. Di ruangan tamu hanya ada satu set kursi rotan, bagan tengah ada dua kamar yang di seberang kamar itu ada meja yang di atasnya terpajang televisi dan deretan pigura kecil-kecil.


Ketika matanya tidak sengaja memandang sebuah foto hitam putih yang berisi anak laki-laki berbadan gemuk, imut dan lucu sedang terduduk sambil tersenyum. Sri merasa tidak asing melihat foto itu. Langkahnya terhenti, keningnya mengernyit mencoba mengingat dimana dia pernah melihat foto itu.

__ADS_1


__ADS_2