
"Bu, saya minta tolong,"
"Apa Nduk?"
"Tolong Ibu kasih tau suami saya, kalau Sri sudah meninggal."
"Lha kenapa harus berbohong, jangan main-main ucapan itu doa."
"Ini salah satu usaha saya untuk membuat Bang Sayid merasakan apa yang saya rasa sekarang Bu."
"Kalau dia justru bahagia mendengar kematianmu bagaimana?"
"Berarti selama ini saya salah menilai Bang Sayid Bu,"
Sri menjawab lirih.
"Sudah lah Nduk, biarkan Allah yang balas segala perbuatannya, kamu fokus saja menata diri dan bahagialah di sini, jangan pikirkan lagi suamimu itu."
"Tapi Sri belum tenang sebelum lihat Bang Sayid sengsara."
"Istigfar Sri, balas dendam hanya akan membuatmu semakin tersiksa. Jangan biarkan Ibu, Bapak juga anakmu bersedih melihat kamu hidup hanya dengan dendam. Mereka pasti ingin melihat kamu lebih bahagia lagi menjalani sisa hidup yang harusnya kamu syukuri karena masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri."
Sri terdian, semua perkataan Bu Titi ada benarnya juga.
"Banyak orang hanya memikirkan balas dendam, dan tidak ada satupun dari mereka hidupnya lebih bahagia setelah keinginannya terbalaskan, justru makin sengsara dan tersiksa, apa kamu ingin seperti itu?"
Sri nenggeleng lemah.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Bu, semua saran Ibu akan Sri ingat."
Ting Tong!
Ting Tong!
"Sebentar Sri, tumben jam segini ada yang bertamu,"
"Jangan-jangan Cik Nur pulang Bu."
"Gak mungkin Sri, biasanya kalau pulang selalu malem, gak pernah mereka masuk rumah pagi-pagi."
Dengan tergesa keduanya pergi ke ruang depan, memang selama Sri tinggal belum pernah sekalipun ada orang lain masuk rumah itu selain dokter pribadi Embara.
"Benar ini kediaman Nurfaizah?"
Bu Titi sedikit kaget dengan kedatangan tiga anggota polisi, begitupun Sri.
"Saye mahu berjumpa dengan keluarga die."
"Sekejap saya panggil."
"Sri tolong kamu panggil tuan Embara, Ibu tunggu di sini, cepet ya."
Setengah berbisik Bu Titi memerintahkan Sri memanggil Embara.
Hanya dengan anggukan Sri langsung beranjak setengah berlari menuju lantai dua.
__ADS_1
*****
Tok!
Tok!
Permisi Tuan, ada polisi di bawah nyari Tuan.
Klak!
Siape? polis?
"Iya, mereka ingin bertemu Tuan."
Embara langsung beranjak dari pintu kamarnya, sejak Sri jadi perawatnya terlihat banyak perubahan, badanya kembali berisi dan lebih segar, wajahnya yang semula tidak terawat di tumbuh bulu sekarang dicukur habis sehingga wajah tampannya terlihat jelas.
Mungkin karena merasa senasib dengan dirinya, jadi Embara lebih patuh dan selalu mendengarkan setiap perkataan Sri. Padahal sebelum Sri datang sering berganti perawat karena tidak sanggup menghadapi sikap temperamen Embara.
"Ape masalah awak cari saye?"
Anggota polisi itu sudah duduk di ruang depan di temani Bu Titi. Tanpa menjawab pertanyaan Embara salah satu dari mereka membuka kotak berwarna coklat berukuran 20x40 cm. Sri melihat ada tumpukan map dan kaset CD juga sebuah foto. Cik Nur, anaknya dan seorang pria gagah dan tampan dengan seragam kepolisian yang dipenuhi pangkat di dada serta bahunya.
Melihat itu Sri sedikit kaget, "apa ini suami Cik Nur?" batinya.
Embara dan Bu Titipun terlihat kaget juga, karena selama ini tidak ada yang tau apa pekerjaan suami Cik Nur, termasuk Embara. Kakanya itu selalu bilang kalau suaminya tugas luar kota dan memang tidak pernah ada di rumah dalam waktu yang lama.
Kepribadiannya yang tertutup dan depresinya Embara membuat mereka tidak saling mengenal dekat satu sama lain.
__ADS_1