BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR32


__ADS_3

Berita bahagia itu terasa menyedihkan bagi Sri, kepulangannya sudah ditentukan besok siang, tiket pesawat telah dipesan Embara. Setelah dia memutuskan untuk melupakan dendam kepada Bang Sayid dan berniat melanjutkan hidupnya di negeri jiran ini, justru harus kembali pulang ke negara asalnya karena musibah yang tidak dia harapkan.


"Kenapa sedih Sri? kamu gak suka pulang ke Indonesia?"


Bu Titi seolah tau apa yang sedang Sri pikirkan.


"Iya Bu, Aku bingung harus pulang ke mana? ke rumah Bang Sayid jelas tidak mungkin,"


Jawab Sri lirih.


"Pulang ke rumah orang tuamu saja, tenangkan pikiran dulu di sana, setelah merasa tenang dan jernih baru temui suamimu. Selesaikan semuanya, jangan biarkan masalahmu berlarut-larut."


"Iya Bu, sepertinya Sri pulang ke rumah Abah sama Ambu, terimakasih banyak selama ini Ibu mau mendengarkan segala keluh kesah Sri, dan ada membantu disaat kesulitan, meskipun kebersamaan kita hanya tiga bulan, tapi rasanya sampai kapanpun Sri akan mengingat kebaikan Ibu. Sri juga minta maaf kalau sering merepotkan Ibu dan membuat khawatir."


"Sama Sri, Ibu juga minta maaf kalau terlalu cerewet, karena kamu sudah Ibu anggap anak sendiri. Kamu juga mana mungkin bisa Ibu lupakan, anggaplah sebagai orang tuamu Nduk, Setelah sampai di sana kamu harus main ke rumah Ibu."


"Pasti Bu, Sri akan sering main ke tempat Ibu."

__ADS_1


Merekapun berpelukan dengan eratnya, Isak tangis terdengar dari keduanya dan ada sepasang mata berkaca-kaca melihat mereka dari lantai dua.


**********


Pagi sekali Embara sudah siap dengan setelan jas warna hitam, terlihat gagah dan tampan. Dia berniat menghadiri pemakaman keluarga kakanya yang akan dilaksanakan secara militer.


Embara mengendarai mobilnya sendiri, baru pertama kali itu Sri melihat tuanya keluar rumah. Setelah sembuh dari percobaan bunuh dirinya dia lebih memilih diam di kamar dan kegiatanya hanya membaca buku.


Seolah lebih menikmati kesendirianya dan tidak menyukai keramaian.


Tapi sekarang sikap Embara jauh berbeda, meskipun kabut hitam menyelimuti raut wajahnya yang tampan, namun terlihat bersemangat dan tatapan kososngnya sudah tidak ada lagi.


"Sudah kamu bereskan barang-barangmu Nduk?'


"Alhamdulillah udah beres, kalau Ibu gimana?"


Karena barang bawaan Sri memang sedikit.

__ADS_1


"Masih belum beres, kamu tau sendiri lah Nduk, Ibu di sini sudah mau tiga tahun jadi banyak barang yang harus dikemas, sayang kalau ditinggal."


"Ayo Sri bantu, kan Ibu duluan yang terbang."


Sri mengingatkan Bu Titi kalau jam keberangkatan pesawat beda satu jam, duluan Bu Titi pulang ke Jawa Tengah, sementara dia baru berangkat sejam kemudian karena tujuan mereka berbeda.


"Iya Nduk terimaksih banyak, yu masuk ke kamar Ibu."


Tangannya digandeng Bu Titi, menuju kamar di pojok sebelah kanan dekat dapur.


Jam dua belas siang segala keperluan keulangan mereka beres, tapi Embara yang janjinya mau pulang jam sebelas siang belum datang juga.


Karena merasa bosan Sri menyalakan televisi, padahal dia tau kalau acara televisi sempat tidak ada sinetron dan FTV, kebanyakan hanya berita dan beragam pengetahuan.


Sambil menikmati secangkit susu coklat hangat dia melihat berita kecelakaan.


"Ibu..! Ibu sini!"

__ADS_1


"Ada apa Sri? ko teriak-tetiak?"


"Sini Bu cepetan, bukanya itu mobil Tuan Embara?"


__ADS_2