
"Dok pasien sudah sadar!"
"Sejak kapan?"
Mengecek kondisi pasien.
"Baru saja dok,"
"Segera panggil detektif yang ada di depan."
"Baik dok,"
"Di mana ini?"
"Di rumah sakit, seseorang membawa anda ke sini dalam keadaan tidak sadarkan diri."
"Siapa nama Anda?"
"Sri,"
Menjawab lirih, Sri memegangi kepalanya yang terasa berat, dan dia baru sadar sesuatu, setengah melompat Sri langsung terbangun dan berlari kearah pintu, tapi baru saja tangannya menggapai tuas pintu, tiba-tiba dari arah luar ada yang mendorongnya.
"Anda mau kemana?"
Suara lembut dari pria berbadan tegap dengan garis muka yang tegas, berhidung mancung, sorot mata tajam, dengan alis hitam terbentuk sempurna, menghentikan langkahnya.
Sri terpaku sejenak mendengar suara pria di hadapanya, suara itu lah yang mampu meluluhkan hatinya saat melepaskan Putri, meskipun hanya mendengar suaranya, tapi entah kenapa Sri merasa tenang dan nyaman.
"Dimana Putri?"
Dengan mata berkaca-kaca Sri menatap Pria itu.
"Di ruang autopsi, untuk sementara anda belum bisa menemuinya, ini demi kelancaran penyelidikan, jadi sekarang sebaiknya anda istirahat saja."
__ADS_1
Dengan patuh Sri menuruti perkataan si pria dan kembali ke ranjangnya.
"Bagaimana kondisinya dok?"
"Sepertinya tidak ada masalah, hanya kelelahan dan kurang istirahat, perbanyak istirahat saja, saran saya lebih bagus istirahat di rumah, karena di sini lagi banyak pasien jadi kurang nyaman buat istirahat."
"Baik dok, terimakasih banyak."
"Tapi sebaiknya pasien Sri jangan dibiarkan sendiri, dan ingat, jaga pola makan. Saya yakin detektif
Yuda lebih bisa melindungi dan menjaganya."
Mengedipkan mata ke arah si mata tajam dan dingin yang ada di hadapanya dan berlalu di ikuti suster yang sejak tadi menempel di samping Yuda.
"Ah dokter ini bisa saja."
Membalas dengan senyuman manis yang dihiasi lesung pipit di pipi kanannya.
Yuda duduk di samping ranjang, dan hanya di jawab anggukan.
"Perkenalkan saya Yuda, detektif yang menangani kasus pembunuhan saudari Putri."
Yuda menyodorkan tangan kanannya, disambut Sri lemah, keduanya saling bertatapan lumayan lama, hingga Sri melepaskannya dengan sedikit di hentak.
Entah kenapa Sri seolah terhipnotis mata tajam itu, meskipun terlihat dingin tapi yang masuk ke sanubari sebaliknya, dia merasakan kehangatan dan kedamaian jauh di lubuk hatinya yang terdalam.
"Eh maaf Mbak Sri,"
Yuda jatuh cinta pada pandangan pertama kepada perempuan berbadan kurus, berwajah pucat tetapi masih terlihat anggun dan mempesona, tatapan sendunya membuat dia ingin selalu menjaga dan melindungi Sri.
"Panggil Sri saja. Bagaimana, apa sudah bisa di lacak siapa pembunuhnya?"
"Belum, setelah hasil autopsi keluar, dan mengumpulkan informasi dari para saksi, baru kami bisa simpulkan, jadi untuk kelancaran kasus ini, saya harap Sri bisa bekerjasama, meberikan semua informasi mengenai latar belakang dan siapa saja orang yang di anggap mampu menjadi tersangka."
__ADS_1
"Saya yakin kalau Bang Sayid lah yang membunuh Putri!"
Sri menjawab dengan tegas.
"Siapa dia? dan kenapa Sri bisa yakin bahwa dia pelakunya."
Akhirnya Sri menceritakan semuanya, dari awal dirinya memutuskan pergi menentang kedua orang tuanya dan memilih menikah dengan Bang Sayid, sampai di temukannya Putri dalam kondisi yang mengenaskan di gudang Mall.
Sambil merekam pembicaraan itu, Yuda mendengarkan semua cerita Sri dengan seksama, dan dia pun merasa tuduhan Sri sebelumnya ada benarnya juga, tetapi karena semuanya butuh bukti yang pasti, Yuda tidak mampu membenarkan kecurigaan Sri. Dan entah kenapa, meskipun dia tau Sri bukanlah perawan lagi, tetapi tidak merubah perasaan di hatinya, justru rasa ingin melindungi dan sayangnya semakin besar.
"Baiklah, untuk sementara Mas akan menyimpan nama Sayid sebagai target yang harus di curigai, dan akan melakukan penyelidikan terhadap orang itu. Sri tau dimana orang itu sekarang?"
Mendengar Juan menyebut dirinya dengan panggilan Mas, Sri sedikit kaget tapi hatinya bahagia, panggilan itu terasa nyaman dan enak di dengar di telinganya.
"Belum lama ini dia menikahi putri dari bapak Wicaksono."
"Apa? Wicaksono si politisi dan dewan terkenal itu? yang istrinya mengalami kecelakaan sampai tewas di tempat?"
"Iya, dan kematiannya ulah Bang Sayid juga, dia di tugaskan suaminya untuk membunuh si istri dengan tujuan menguasai kekayaanya, dia juga tidak ingin tersaingi dan di perbudakan istrinya itu."
"Sri tau dari mana? apa ada bukti kalau itu pembunuhan bukan kecelakaan? karena di TKP semuanya jelas hanya sebuah kecelakaan."
Dengan lemah Sri menggelengkan kepala, dia juga sadar kalau semua tuduhannya akan di sebut fitnah belaka karena tidak adanya barang bukti.
"Pasti Mas pikir aku hanya memfitnah Bang Sayid karena sakit hati? dan tidak mempercayai semua perkataan Sri?"
Menatap berkaca-kaca.
"Mas percaya, dan berpikir hal yang sama, tetapi kita harus mengumpulkan bukti agar tuduhan itu bisa menjerat Sayid ke penjara, karena pengadilan butuh bukti."
"Putri pernah berkata kalau dia memiliki bukti kejahatan Bang Sayid, tetapi karena kecelakaan yang di alaminya membuat sebagian memori yang membuatnya trauma menghilang. Dan kami sudah berusaha menemukan bukti yang menurut anak buah Bang Sayid berupa mesin records tapi belum di temukan sampai sekarang."
Yuda termenung, ada titik terang dari kasus pembunuhan Putri, dia juga sudah mengantongi orang yang bisa saja menjadi tersangka dari kasus itu, tapi untuk menyentuh dan menyelidiki anggota keluarga Wicaksono itu merupakan PR besar baginya, karena banyak pihak yang akan membela dan menghalangi penyelidikan.
__ADS_1