BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR109


__ADS_3

Mulyadi tidak berniat memihak Bang Sayid, meskipun sudah berulang kali Bang Sayid menawarkan kerjasama untuk menghancurkan Wicaksono, tetapi selalu dia tolak. Pengabdiannya selama ini dirasa belum cukup dengan apa yang telah diterimanya.


Dan saat Wicaksono berniat melenyapkan Bang Sayid dia dengan sengaja menaruh pisau di samping Bang Sayid untuk bisa melepaskan ikatan di tangan dan kakinya, juga kunci gudang agar bisa lolos. Bukan karena memihak Bang Sayid, tetapi dia tidak ingin Wicaksono terjerat masalah, selama ini bukan tidak tau kalau tuanya itu banyak melakukan kejahatan, tetapi dia tutup mata dan tidak merasa khawatir karena Wicaksono tidak turun tangan secara langsung atas segala kejahatan yang di perbuatnya.


Tetapi karena dendamnya terhadap Bang Sayid membuat Wicaksono gelap mata dan kurang perhitungan hingga turun tangan saat eksekusi pembakaran gudang meskipun Mulyadi yang mendahului, itu dia lakukan semata hanya untuk melindungi Wicaksono dari jeratan hukum.


Dia rela menjadi tersangka kalau hal terburuk terjadi, dan betapa terkejutnya Mulyadi saat tau kalau Bang Sayid anak kandung Wicaksono yang telah lama menghilang, di saat dirinya akan memberi tahu kalau Bang Sayid masih selamat, Wicaksono malah lari dan terjadilah kecelakaan yang membuat kondisinya seperti sekarang ini.


Saat Mulyadi akan meninggalkan rumah sakit tiba-tiba gawainya berdering.


"Hallo tuan Sayid, anda di mana?"


"Terimakasih banyak Pak Mul, ternyata kamu lebih memihakku, ketimbang si tua bangka itu. Pasti selama ini kamu tersiksa jadi kacungnya kan? aku yakin kamu pasti bahagia dengan kabar kecelakaan yang menimpa tuanmu itu?"

__ADS_1


"Tuan Sayid, tolong katakan anda di mana?"


"Kenapa? kamu ingin jadi pengikutku? maaf, tapi aku tidak akan pernah merekrut seorang penghianat, orang yang berani menghianati tuanya pasti akan melakukan hal yang sama dikemudian hari."


"Buatkan itu maksud saya Tuan,"


"Hahaha! luar bisa, ternyata kamu benar-benar penjilat, aku tidak akan terpedaya orang sepertimu, di saat tuanmu sedang terkapar, kamu malah ganti memanggil aku dengan sebutan "Tuan", kalau saja Wicaksono mendengarnya, pasti dia akan langsung membunuhmu."


"Katakan dimana anda sekarang! Ayahmu sedang kritis, tolong secepatnya datang ke rumah sakit Harapan, karena Tuan Wicaksono harus di oprasi dan menunggu persetujuan dari keluarganya."


"Tuan Sayid hentikan! beliau itu Ayah anda."


"Maaf Pak, dokter meminta anda menemuinya sekarang, tindakan oprasi terhadap pasien Wicaksono harus segera dilakukan."

__ADS_1


Seorang perawat menepuk pundak Mulyadi yang sedang melakukan panggilan dengan Bang Sayid.


"Ayah mertua yang wajib mati hahah! aku tidak perduli, mau oprasi, mau enggak bukan urusanku lagi jadi jangan pernah menghubungi aku lagi!"


Bang Sayid memutuskan panggilan.


Sementara Mulyadi yang belum sempat menjelaskan dibuat kebingungan, karena Bang Sayid menonaktifkan gawainya. Di saat hendak mengirim pesan, perawat yang menegurnya kembali mengingatkan untuk segera menemui dokter di ruangan Wicaksono, dan Mulyadi pun akhirnya pergi mengikuti perawat itu tanpa sempat memberi tau Bang Sayid kalau Wicaksono adalah Ayah kandungnya.


Dokter langsung menyambut kedatangan Mulyadi,


"Mohon maaf Bapak, pihak keluarga pasien sudah datang? karena pasien akan segera kami ambil tindakan, jadi mohon di tandatangani dan segera urus segala administrasinya, tidak ada waktu lagi untuk menundanya."


"Biar saya tanda tangan dok, karena anak dari pasien sedang ada kegiatan di luar kota."

__ADS_1


Mulyadi memberanikan diri menjadi wali, dia tidak ingin menunggu Bang Sayid yang belum tentu akan datang.


Dan oprasi terhadap Wicaksono pun berlangsng hapir enam jam, Mulyadi dengan setia menunggu di depan ruang oprasi.


__ADS_2