BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR107


__ADS_3

"Dimana kamu Nak?! ini Daddy, maafkan Daddy selama ini tidak bisa mengenalimu!"


Tanpa memperdulikan debu dan puing, Wicaksono menerobos masuk ke bagian dalam sambil terus mencari sosok Bang Sayid yang sejak kejadian pembakaran gedung itu tidak ditemukan satu korban pun. Karena logikanya kalaupun ada yang terbakar pasti sudah menjadi abu.


"Tuan! jangan ke sana, bahaya!"


Teriakan Mulyadi yang baru saja sampai di lokasi itu, tidak Wicaksono hiraukan.


Setelah mengetahui hasil tes DNA, Wicaksono menghubungi Mulyadi untuk menyusulnya ke gudang penyimpanan yang telah mereka bakar, tanpa memberi tau kalau Sayid anak kandungnya yang selama ini dia cari.


"Tuan, awas!'


Mulyadi mengorbankan tubuhnya ketika ada sebuah balok kayu yang akan menimpa Wicaksono, sementara orang yang dia lindunginya terus saja berjalan dan berteriak memanggil nama Sayid.


"Tuan, sadar! Sayid pasti sudah jadi abu, kenpa anda masih mencarinya."


Langkah Wicaksono terhenti.


"Jangan sembarangan, mana mungkin Sayid jadi abu! dia pasti masih hidup!"

__ADS_1


"Tidak ada satupun yang polisi temukan di tempat ini Tuan, jadi sudah dipastikan Sayid telah habis terbakar."


"Stop!"


Wicaksono memegangi kedua telinganya.


"Jangan sekali-kali kamu bilang Sayid jadi abu, sebelum kamu bisa membuktikanya."


Tanganya mencengkram baju Mulyadi dan mengangkatnya.


"Tapi itu kan yang Anda inginkan Tuan? Bukanya selama ini anda yang mengharapkan kematian Sayid?"


"Benar katamu, kalau anakku mati karena ulahku sendiri, aku yang telah membunuhnya."


"Apa maksud Tuan?"


"Sayid anakku, dia putra pertamaku yang hilang dua puluh lima tahun yang lalu, aku mencarinya ke mana-mana, bahkan tujuanku menjadi orang nomor satu di negri ini pun semata-mata hanya untuk menemukannya. Tapi kenapa setelah dia ada di dekatku justru aku tidak mengenalinya, bahkan aku sangat membenci dan selalu menginginkan kematianya. Maafkan aku Nak."


Wicaksono seolah hilang wibawa dan sifat sombongnya, dia menangis sambil memukul-mukul dadanya.

__ADS_1


"Sudah Tuan hentikan, apa sudah dipastikan kalau Sayid putra pertama anda?"


Tanpa menjawab perkataan Mulyadi, Wicaksono pergi menuju mobilnya dan melemparkan secarik kertas lewat jendela dan selang beberapa saat dia pergi meninggalkan Mulyadi yang masih berdiri mematung.


"Tuann, berhenti! anda mau kemana? biar Mul yang bawa mobil."


Mulyadi berusaha menghentikan mobil Wicaksono dengan berlari dan berdiri di depan mobil, tapi sayang usahanya sia-aia.


Sepeninggal tuanya, Mulyadi memungut kertas yang tadi dilempar Wicaksono, matanya terbelalak melihat isi tulisan yang mengatakan kalau hasil tes DNA, yang menyatakan kecocokannya hampir seratus persen.


Sementara itu, Wicaksono menjalankan mobilnya dengan kencang, tidak memperdulikan jalanan yang ramai. Banyak bunyi klakson yang bersahut-sahutan dari pengendara lain mengingatkan, tetapi seolah tidak terdengar olehnya.


Dan saat di perempatan lampu merah, yang seharusnya berhenti, dia terobos juga dan sebuah mobil kontainer menabraknya, menyeret mobil Wicaksono sejauh tiga meter dan terhenti saat kontainer itu berada di posisi lurus, dan terus melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan mobil Wicaksono yang terlihat rusak di sana sini.


Dari kaca spion kontiner terlihat senyum kemenangan dari si sopir dan seseorang yang ada di sebelahnya.


Sementara itu semua orang yang berada di tempat kejadian hanya bisa menjerit dan berteriak meminta sopir kontainer menghentikan laju mobilnya, tapi tidak membuahkan hasil.


Dan mereka segera menolong orang yang ada di dalam mobil yang terseret, meskipun kondisinya cukup parah tetapi masih ada denyut nadi.

__ADS_1


__ADS_2