
PV Bang Sayid
"Bagai mana kabar binimu di Arab sana Yid?"
tanya salah satu teman Bang sayid lagi menikmati kopi pahit di warung tongkrongan mereka.
"Baik Kang Asep, malah kemaren baru kirim duit".
"Wahh, enak bener hidupmu, tinggal ongkang ongkang kaki duit ngalir terus".
"Iya lah Bang, mau ngapain lagi? hidup ini harus dinikmatin. Untuk hari ini kalian bebas beli apa saja, aku yang bayar".
"Bener nich?" timpal yang berbadan gemuk sambil memasukan gorengan kedalam mulutnya.
"Ya bener lah, mumpung masih tebel nih dompet".
"Terimaksih Yid, coba biniku mau pergi ke luar negri bisa seenak kamu hidupku ini, tak perlu capek banting tulang macam sapi perah". Bang tagor yang sejak tadi terdiam menimpali.
"Bener pisan Bang, coba si Nyai ke Taiwan mungkin duitnya lebih banyak lagi". sahut Kang Asep.
"Sayangnya Saya belum laku, coba kalau mukaku kaya Bang Sayid aku mau nikah lebih dari satu. Semuanya aku suruh kerja di luar negri, tapi neng Sri anak Pak Ustad Makmur special buat jadi selimut aja". Si gemuk cerita tapi mulut masih mengunyah tidak berhenti.
__ADS_1
"Kamu mah kebanyakan ngayalnya atuh Paijo, mana mungkin neng Sri mau sama kamu yang gak ada bentuk gitu."
"Ojo ngenyek to Kang Asep, kaya dirimu Ganteng aja."
"Betul cakap Kang Asep, kamu itu tidak ada yang menarik bah, kere juga. Apa yang bisa diharapkan coba?"
"Dari tadi kalian ngomongin Sri terus, emang siapa dia?"
"Aduh kumaha eta Bang Sayid, kudet pisan. Sri itu putri satu satunya Ustad zakaria yang terkenal kaya raya dari kampung sebelah. Kecantikanya sudah terkenal ka mana mana, dan selama ini tidak ada satupun pria yang berani mendekatinya, karna takut dan segan dengan orang tuanya."
"Ada juga yang nekat deketin tapi gak pernah berhasil karna Sri juga bukan cewe gampangan."
"Bener kata Kang Asep, anak tuan tanah di kampung kita aja, dia tolaknya bah."
***********
Dengan mengendarai mobil sewaan, Bang Sayid pergi ke kampung sebelah dengan tujuan ingin membuktika seperti apa sosok Sri itu. Jarak tempat tinggal dirinya dengan rumah Sri tidak terlalu jauh, dan dia pun sudah mengantongi alamat rumahnya.
Setelah sampai alamat yang dia tuju, Bang Sayid memarkirkan mobil sewaanya disebrang gerbang rumah Sri, dan menunggu pergerakan dari dalam.
Tiga puluh menit berlalu, Bang Sayid melihat ada seorang perempuan berwajah oriental, tubuh tinggi semampai dan terlihat anggun dengan kerudung menghiasi kepalanya berjalan membukakan pintu gerbang.
__ADS_1
Spertinya sedang menunggu seseorang, tanpa dia sadari ada sebuah sepeda motor menghampiri dan berusaha mengambil tas yang sedang dibawanya.
Bang Sayid keluar dari mobil dan menggagalkan aksi pengendara motor itu dengan berteriak maling sekencang kencangnya juga melempari penjahat itu dengan batu yang kebetulan ada disekitarnya.
Pengendara motor yang berjumlah dua orang itu pun mengurungkan niatnya dan pergi meninggalkan Sri yang masih syok.
"Ada yang luka gak?"
"Ehh enggak Bang, terimakasih banyak ya. Coba kalau tadi gak ada Abang, entah seperti apa jadinya."
"Syukur kalau tidak ada yang luka, mau pergi kemana? kalau gak keberatan biar Abang antar saja, berbahaya juga kalau perempuan secantik Mbak jalan sendirian."
Seakan terkena sihir, Sri terpaku menatap sosok gagah dan tampan yang telah menyelamatkan dirinya itu.
"Ayo silahkan, jangan takut Abang bukan orang jahat. O iya perkenalkan Sayid." Tangan Bang sayid di tempekan didadanya.
Aku yakin dia tetpana dengan pesonaku, makanya sampai melotot tak bergeming hemm.
"Sri,"
Dia pun melakukan hal yang sama, meletaka0n tanganya di dada.
__ADS_1
"Silahkan naik Mbak Sri," sambil membukakan pintu.
"Terimakasih Bang," tersipu malu.