
"Haha! aku tidak akan pernah datang melihatmu ayah mertuaku yang jahat, justru kematianmu lah yang aku harapkan, karena kalau sampai kamu selamat! pasti kamu akan membunuhku."
"Meskipun aku tidak bisa menguasai harta kekayaanmu, tetapi aku sudah cukup bahagia melihatmu mati dalam kesengsaraan haha!"
Bang Sayid yang sedang dalam perjalanan menuju pemakaman orang tua dan anaknya yang berada di kampung halamnya dulu, berhenti di sebuah toko bunga, dia memesan empat buket bunga Anyelir putih, dan melanjutkan perjalanan. Bang Sayid berniat meninggalkan kota Y, jadi sebelum pergi dia ingin berpamitan kepada orang tua angkat dan anak-anaknya.
Setengah jam berlalu akhirnya Bang Sayid sampai di pintu masuk pemakaman, suasana sunyi khas pemakaman menyambutnya, setelah melihat sekeliling, tidak terlihat satu orangpun, penjaga makam yang biasa ada di pos depan pintu masuk juga tidak terlihat, hanya ada satu mobil Yaris berwarna hitam terparkir di bagian ujung sebelah kanan.
Suasana sepi seperti itu justru yang diharapkan Bang Sayid, dia tidak ingin bertemu dengan orang kampung yang sudah pasti akan mengenalinya.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya di sebelah kiri, Bang Sayid langsung turun dan mengambil empat buket bunga Anyelir putih yang tadi dibelinya.
Saat masuk ke area pemakaman, Bang Sayid mengedarkan pandangannya, dan dia melihat seorang perempuan berpakaian modis, berbadan tinggi semampai bak model, dengan rambut panjangnya tergerai, memaki sepatu hak tinggi sedang berdiri di sebuah pusara membelakanginya.
Melihat penampilanya, Bang Sayid sudah bisa memastikan kalau perempuan itu bukan berasal dari kampungnya.
Bang Sayid terus melangkahkan kakinya menuju makam kedua orang tua angkat dan anaknya, yang berbeda arah dengan si wanita, tetapi tatapan matanya masih tertuju sosok wanita yang masih asik berdiri membelakanginya.
Karena kurang fokus, Bang Sayid tersandung dan terjatuh di atas sebuah makam yang terlihat tidak terawat, bahkan kepalanya hampir saja terbentur nisan dari batu yang tidak bernama.
__ADS_1
"Sialan! untung saja kepalaku tidak kena baru ini, kalau sampai kena, pasti bocor. Makam siapa sih ini? ko gak ada namanya? pasti dia dunya TUTI (TukangTipu), atau jangan-janga penjahat kelas kakap kaya Wicaksono? jadi orang males bersihin kuburan sama ngasih nama haha!"
Suara umpatan Bang Sayid terdengar memecah keheningan di pemakaman itu, yang membuat sosok perempuan yang sejak tadi terpaku, menoleh ke arahnya.
Bang Sayid membersihkan kotoran di bajunya dan mengambil buket bunga yang terlempar saat dirinya terjatuh tidak menyadari kalau perempuan itu seolah kaget melihat dirinya.
Saat Bang Sayid menoleh ke arah perempuan itu, dia menyadari kalau perempuan tadi seolah terganggu dengan umpatanya dan akan pergi meninggalkan pemakaman. Dia pun berusaha menghampirinya berniat meminta maaf, tetapi saat sadar kalau perempuan tadi berdiri di sebuah makam yang tidak asing baginya, meskipun dulu makam itu hanya gundukan tanah Merah tanpa ada baru nisan indah dari marmer di atasnya, tapi Bang Sayid kenal betul dengan makam itu, karena dia lah yang menguburkannya.
Dan untuk memastikan, Bang Sayid membaca tulisan di nisan itu, dan benar saja, namnya "Rizki bin Sayid". Sontak dia kaget, berarti perempuan yang pergi dengan tergesa tadi pasti Sri, orang yang selama ini membekas di hatinya, meskipun perlakuan yang kejam, tetapi Bang Sayid tidak dapat memungkiri kalau hanya Sri lah yang mengisi relung hatinya yang terdalam.
__ADS_1