BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI

BANYAK ISTRI BANYAK REZEKI
BIBR68


__ADS_3

Dengan pesona Don Juan yang dia miliki, Bang Sayid berhasil memikat anak si pejabat hanya dalam hitungan hari, bahkan Nayla memaksa Bang Sayid menikahinya padahal usia pernikahan dirinya dengan Sandra baru hitungan minggu, lebih tepatnya menginjak bulan ke dua.


Serapat-rapatnya Bang Sayid menutupi perselingkuhannya dengan Nayla, akhirnya tercium juga sama Sandra.


Malam itu setelah kelelahan berhubungan badan, akhirnya Sandra tertidur. Baru beberapa saat matanya terpejam, samar-samar dia mendengar Bang Sayid seperti berbicara dengan seseorang, Sandra berfikir kalau suaminya mengajaknya bicara, dengan sangat terpaksa dia mencoba bangkit dari tidur, tapi saat matanya terbuka dan mencari keberadaan Bang Sayid, ternyata tidak ada di sampingnya.


Meskipun merasakan lemas di seluruh persendiannya, Sandra terus berjalan keluar kamar mencari sumber suara.


Ternyata Bang Sayid sedang berjalan menaiki tangga ke lantai dua sambil berbicara lewat telpon, Sandra terus mengikuti dari belakang, sampai akhirnya Bang Sayid berhenti di balkon lantai dua dekat ruangan yang selalu gelap samping kanan tangga.


Dia belum menyadari kalau ada seseorang yang terus mendengarkan pembicaraanya.


Betapa syok dirinya ketika kata-kata yang keluar dari mulut suaminya begitu manis dan mesra, seolah orang yang jadi lawan bicaranya seseorang yang special seperti dirinya dulu sebelum menikah dengan Bang Sayid. Bahkan kalimat gombal yang dia ucapkan sama persis seperti ketika awal bertemu.


Belum sempat Sandra memanggil Bang Sayid, Tiba-tiba lelaki itu berbalik arah menghadap dirinya, refleks Bang Sayid mematikan panggilanya.


"Siapa dia Bang?!"


Sandra menatap nyalang orang yang ada di hadapanya.


"Bukan siapa-siapa, kenapa bangun sayang, harusnya istirahat."


Berusaha tenang, meskipun sebenarnya panik.

__ADS_1


"Jangan bohong Bang! Sandra denger semuanya, ternyata Abang sama saja! Laki-laki semuanya berengsek."


"Abang gak bohong, tadi itu anak perempuan Abang, dia kangen, dan minta dibeliin mainan."


"Mana ada ngomong sana anak gombal segala, dulu Abang juga selalu ngegombalin Sandra dengan kata-kata itu! kalau emang Abang jujur, sini Sandra lihat hand phonenya!"


Masih dengan nada tinggi dan mata berkaca-kaca karena kesal Sandra berusaha menggapai gawai yang ada di tangan kiri Bang Sayid.


"Sudah hentikan! Abang tidak suka dicurigai, kalau Abang bilang bukan siapa-siapa harusnya kamu percaya!"


Bang Sayid balik membentak Sandra, dan berusaha menghindar dari gapaian tangan Sandra.


Mendengar dirinya di bentak, Sandra terpaku sejenak, dan air matanya mengalir semakin deras.


"Kamu keterlaluan! sudah untung aku mau nikahin nenek peyot macam kamu, mana ada di luar sana lelaki yang mau menjadi suamimu, sudah tua, gak bisa masak, gak bisa ngurus suami, cembur dan curigaan! nyesel aku nikah sama kamu."


Bang Sayid hendak pergi meninggalkan balkon, tapi tiba-tiba badanya didorong dan punggungnya terhantam pagar besi balkon, rasa sakit dipunggungnya semakin membuat Bang Sayid gelap mata.


Dia tarik tangan Sandra dan membalikan posisi, jadi sekarang punggung Sandra yang terhantuk pagar besi balkon, suara erangan dari Sandra terdengar sangat keras, itu karena tenaga laki-laki yang sedang emosi bisa berlipat-lipat dari sebelumnya.


"Kamu mau aku jujur hah?! baiklah, aku memang selingkuh, puas!"


Masih mencengkeram erat pergelangan tangan Sandra, sementara tangan satunya menekan bahu.

__ADS_1


"Tega kamu Bang! kurang apa aku ini? kasih sayang yang aku berikan tulus, semua permintaan Abang selalu Sandra penuhi, bahkan yang tidak masuk akalpun selalu Sandra turuti. Terus kenapa Abang tega menduakan Sandra?"


"Kurangmu banyak, sudah keriput tidak tau diri, kalau bukan karena hartamu, mana mau aku nikah sama nenek peyot yang gak bisa muasin hasrat lelakiku, belum apa-apa sudah KO, hahaha dasar pecundang gatal!"


Air liur Bang Sayid sampai muncrat di wajah Sandra, yang masih meronta berusaha melepaskan diri dari cengkraman Bang Sayid.


"Stop! hentikan Bang!"


"Lepas! lepas Bang, sakit!"


Sandra terus berusaha memberontak, tapi tenaganya jelas saja kalah, dan Bang Sayid semakin mencengkram kuat tangan Sandra, bahunya didorong sampai-sampai kepalanya terpelanting ke belakang dan Sandra bisa lihat sekilas hamparan tanah di halaman yang ada di lantai bawah.


"Ampun Bang! Sandra takut,"


"Sekarang semuanya sudah terlambat, harusnya kamu percaya saja apa yang aku katakan, dan jadilah istri yang patuh sama suami!"


Perlahan tapi pasti tubuh Sandra terangkat, kepala sampai pinggang sekarang berada di ujung pagar balkon.


"A-pa yang kamu lakukan Bang?! hentikan! bagaimana kalau aku jatuh."


"Itu yang aku harapkan hahaha! tak ada gunanya lagi kamu hidup, karena kamu sudah mengetahui kebusukanku. Dari pada jadi duri dalam hidupku, lebih baik kamu mampus menyusul istri dan mertuaku yang sudah aku bunuh sebelumnya hahaha!"


Tanganya kembali mengangkat tubuh Sandra, dan seolah melempar benda yang sangat ringan Bang Sayid membuang tubuh Sandra dari lantai dua."

__ADS_1


__ADS_2